Rhenald Kasali: Big Data Kunci Verifikasi Informasi Kredibel di Tengah Arus Digital
Pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, menekankan peran vital Big Data dalam menyaring informasi kredibel di tengah derasnya arus digital, mengungkap tantangan hoaks dan konstruksi realitas.
Rhenald Kasali, pendiri yayasan pusat edukasi Rumah Perubahan, menyoroti pentingnya pemanfaatan Big Data. Ia menekankan Big Data sebagai alat krusial untuk mencari dan memastikan kredibilitas informasi di tengah derasnya arus komunikasi digital. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi yang digelar di Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (7/2).
Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia ini, arus komunikasi digital saat ini diwarnai oleh dua model yang berjalan paralel. Ada komunikasi massa yang dilakukan media arus utama dengan pola kerja jelas, serta komunikasi publik di media sosial yang diproduksi netizen.
Model komunikasi publik seringkali lebih cepat namun rentan terhadap informasi yang belum terverifikasi atau bahkan hoaks. Sekitar separuh informasi yang beredar bisa jadi meragukan atau salah, bahkan sebagian konten diproduksi oleh robot atau akun otomatis.
Tantangan Informasi di Era Komunikasi Digital
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, masyarakat dihadapkan pada dua pola komunikasi yang berbeda. Media arus utama beroperasi dengan pola kerja yang terstruktur, melibatkan wartawan dan editor yang memastikan akurasi berita.
Namun, komunikasi publik melalui media sosial menawarkan kecepatan dan spontanitas yang tinggi. Netizen berperan sebagai produsen sekaligus penyebar informasi, menciptakan dinamika baru dalam penyebaran berita.
Fenomena ini menimbulkan tantangan serius, sebab sebagian besar informasi yang beredar bisa jadi tidak benar. Rhenald Kasali menyebutkan bahwa sekitar separuh konten berpotensi meragukan, belum terverifikasi, atau bahkan merupakan hoaks.
Lebih lanjut, sebagian konten digital saat ini bahkan diproduksi oleh akun otomatis atau robot yang seolah-olah tampak seperti manusia. Hal ini semakin mempersulit masyarakat dalam membedakan informasi yang valid dari yang tidak.
Peran Big Data dalam Memverifikasi Kebenaran Informasi
Dalam situasi banjir informasi yang rentan hoaks, Rhenald Kasali menegaskan bahwa Big Data menjadi instrumen penting. Analisis Big Data memungkinkan publik untuk memilah dan memverifikasi informasi secara efektif.
Melalui Big Data, sumber informasi dapat ditelusuri, tingkat kredibilitas penyampaiannya dianalisis, serta proporsi akun manusia dan robot yang terlibat dalam penyebaran isu dapat diidentifikasi.
Ia mencontohkan isu-isu seperti kepercayaan masyarakat terhadap rupiah atau dampak produk kesehatan. Dengan Big Data, dapat dianalisis siapa yang menyampaikan informasi, apakah mereka kompeten, dan seberapa luas penyebarannya.
Rhenald menambahkan, "Bisa jadi satu kebohongan, tapi kalau didapat oleh jutaan orang, itu dianggap satu kebenaran. Jadi itu berbahaya, maka harus ada counter narasi. Jadi Big Data singkatnya itu bisa mencari kebenaran dan bisa menarasikan pertarungan antar media ini."
Big Data sebagai Infrastruktur Pemahaman Realitas Publik
Rumah Perubahan, yang didirikan oleh Rhenald Kasali, berperan sebagai ruang pembelajaran dan transformasi. Lembaga ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik perubahan di berbagai bidang, termasuk kewirausahaan sosial dan konsep disrupsi.
Sementara itu, Direktur Deep Intelligence Research Neni Nur Hayati, turut menyoroti urgensi pemanfaatan Big Data. Menurutnya, Big Data sangat krusial dalam diseminasi informasi di era digital yang semakin kompleks.
Neni menjelaskan bahwa tanpa data yang kuat, institusi, baik korporasi maupun pemerintahan, akan kesulitan membaca realitas publik secara akurat. Realitas saat ini tidak lagi terbentuk secara alamiah, melainkan dikonstruksi melalui algoritma dan percakapan digital yang berlangsung secara real time.
Dalam konteks ini, Big Data menjadi infrastruktur utama untuk memahami pembentukan opini publik. Big Data juga membantu menganalisis perkembangan tone pemberitaan serta pergerakan emosi masyarakat secara real time.
Sumber: AntaraNews