Pusat Riset Rumput Laut Teluk Ekas: Transformasi NTB Menuju Inovator Global
Teluk Ekas, Lombok Timur, kini menjadi sorotan dengan pembangunan Pusat Riset Rumput Laut bertaraf internasional, sebuah langkah ambisius yang berpotensi mengubah Indonesia dari pemasok bahan mentah menjadi inovator global di industri rumput laut.
Di pagi yang tenang di Teluk Ekas, Lombok Timur, hamparan tali-tali bentangan rumput laut membelah permukaan air yang jernih. Pemandangan ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga pesisir, dengan perahu-perahu kecil milik pembudidaya yang bergerak perlahan memeriksa ikatan bibit.
Namun, tahun ini menandai babak baru bagi wilayah tersebut, di mana pemerintah telah membangun Pusat Riset Rumput Laut bertaraf internasional. Inisiatif ini berpotensi besar untuk mengubah lanskap ekonomi pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) dan bahkan peta industri rumput laut dunia.
Indonesia, yang menguasai sekitar 75 persen pasar rumput laut tropis dunia dengan nilai ekonomi global mencapai 12 miliar dolar AS per tahun, memilih Lombok Timur sebagai lokasi simpul kolaborasi global ini. Pusat riset ini bukan sekadar laboratorium, melainkan simbol ambisi untuk naik kelas dari produsen bahan mentah menjadi inovator global di sektor rumput laut.
Paradoks Potensi Rumput Laut NTB
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi rumput laut NTB pada tahun 2023 mencapai lebih dari 693 ribu ton, dengan nilai sekitar Rp1,65 triliun. Pada tahun 2024, produksi bahkan tercatat 704.810 ton, menempatkan NTB dalam lima besar penghasil rumput laut nasional. Kabupaten seperti Sumbawa, Bima, dan Lombok Timur menjadi tulang punggung produksi ini, dengan Teluk Ekas sendiri telah lama diproyeksikan sebagai sentra ekonomi biru.
Meskipun angka produksi tinggi, kesejahteraan yang merata belum sepenuhnya terwujud. Tantangan klasik masih membelit, termasuk keterbatasan bibit unggul yang menjadi masalah mendasar. Dinas Kelautan dan Perikanan NTB mengakui suplai bibit kultur jaringan sangat terbatas dan harus dibagi dengan wilayah lain seperti Bali, NTT, hingga Sulawesi.
Selain itu, perubahan iklim memicu penyakit ice-ice yang menurunkan produksi 10 hingga 20 persen secara nasional. Meskipun peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan bibit tahan panas yang diprediksi mampu menghadapi kenaikan suhu 2 sampai 5 derajat Celcius, riset ini masih dalam skala laboratorium. Petani membutuhkan solusi cepat, bukan sekadar prototipe, untuk mengatasi jarak antara inovasi dan implementasi di lapangan.
Masalah lain datang dari darat, di mana alih fungsi lahan pesisir meningkatkan erosi dan kekeruhan air laut. Rumput laut sangat sensitif terhadap sedimen dan polutan, sehingga tanpa tata ruang pesisir yang disiplin, produktivitas akan terus tergerus. Paradoks ini memperlihatkan bahwa dominasi pasar global tidak cukup; Indonesia kuat di hulu, tetapi lemah di hilir dan rentan secara ekologis.
Motor Inovasi Global di Teluk Ekas
Kehadiran Pusat Riset Rumput Laut Teluk Ekas menawarkan peluang penting untuk memutus siklus tersebut, dengan dukungan kolaborasi internasional seperti University of California Berkeley dan Beijing Genomics Institute. Dengan pendanaan awal miliaran rupiah, pusat ini dirancang sebagai laboratorium hidup, memanfaatkan kondisi ekologis Teluk Ekas yang memiliki arus dan sirkulasi air yang relatif baik. Kondisi ini ideal untuk uji produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa tropis.
Pusat riset ini tidak hanya fokus pada Kappaphycus sebagai bahan baku karagenan, tetapi juga mengeksplorasi potensi Caulerpa, Ulva, hingga Halymenia untuk pangan, farmasi, dan bioplastik. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan fokus pada industri rumput laut sebagai bagian dari strategi nilai tambah nasional. Pasar rumput laut non-hidrokoloid, seperti biostimulan dan pakan, diproyeksikan mencapai 4,36 miliar dolar AS pada tahun 2024 dan berpotensi melonjak hingga 12,85 miliar dolar AS pada tahun 2034. Bank Dunia bahkan memproyeksikan pasar pakan berbasis rumput laut bisa mencapai 6,4 miliar dolar AS pada tahun 2050.
Peluang hilirisasi terbuka lebar, mengubah rumput laut dari sekadar bahan baku karagenan menjadi suplemen nutrisi, kosmetik, pupuk hayati, hingga kemasan ramah lingkungan. Jika Pusat Riset Rumput Laut Teluk Ekas mampu menghubungkan laboratorium dengan industri, maka Ekas dapat menjadi episentrum ekonomi biru berbasis pengetahuan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyebut Indonesia menguasai sekitar 75 persen pasar rumput laut tropis dunia.
Mewujudkan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Namun, riset tanpa ekosistem bisnis hanya akan berakhir sebagai laporan ilmiah. Tantangan terbesar adalah memastikan inovasi mengalir ke pembudidaya dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Kolaborasi dengan Universitas Mataram dan BRIN untuk pendampingan manajemen dan teknologi menjadi krusial. Riset harus menjawab kebutuhan konkret petani, mulai dari bibit unggul, teknik budi daya adaptif, hingga model pemasaran yang memutus mata rantai ijon.
Selain itu, tata kelola kawasan pesisir harus diperkuat, karena Pusat Riset Rumput Laut Teluk Ekas tidak boleh berdiri di tengah degradasi lingkungan. Pengendalian alih fungsi lahan, rehabilitasi pesisir, dan pengawasan kualitas air menjadi prasyarat penting. Tanpa fondasi ekologis yang sehat, bahkan laboratorium terbaik pun akan kesulitan mencari sampel yang berkualitas.
Aspek sosial juga tidak boleh diabaikan, mengingat industrialisasi sering kali memicu konsentrasi modal. Pemerintah daerah perlu memastikan kehadiran industri pengolahan dan investor tetap berpihak pada pembudidaya lokal. Skema koperasi, kemitraan adil, dan pembiayaan inklusif perlu dirancang sejak awal untuk menghindari pelebaran jurang kesejahteraan di kampung nelayan.
Pembangunan pusat riset ini adalah langkah strategis yang selaras dengan visi transformasi ekonomi pesisir dan penguatan kedaulatan pangan laut. Sejarah panjang pengembangan rumput laut di NTB, yang masuk dalam peta jalan nasional sejak 2016, mengajarkan bahwa target produksi tinggi tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan dan keberlanjutan. Momentum baru telah tiba bagi Indonesia untuk menjadi pusat rumput laut dunia, tidak hanya dari sisi volume, tetapi juga inovasi.
Sumber: AntaraNews