Produksi Minyak Limau Field Pertamina EP Melonjak, Capai 5.102 BOPD Dukung Ketahanan Energi
Pertamina EP Zona 4 berhasil mencatatkan peningkatan produksi minyak Limau Field di Sumatera Selatan hingga 5.102 barel per hari pada akhir Februari 2026, memperkuat ketahanan energi nasional.
PT Pertamina EP (PEP) mencatat peningkatan signifikan dalam produksi minyak dari Limau Field di Sumatera Selatan. Pada akhir Februari 2026, produksi lapangan ini berhasil mencapai 5.102 barel minyak per hari (BOPD). Angka ini menunjukkan lonjakan drastis dibandingkan catatan produksi pada 16 Januari 2026 yang berada di angka 3.658 BOPD, menegaskan kontribusi vital Pertamina EP dalam sektor energi nasional.
General Manager PEP Zona 4, Djudjuwanto, menyatakan bahwa capaian ini adalah bukti konsistensi perusahaan dalam mendukung peningkatan produksi minyak dan gas nasional. Peningkatan produksi Limau Field secara berkelanjutan ini diharapkan dapat mewujudkan ketahanan energi nasional yang lebih kuat. Komitmen ini selaras dengan upaya pemerintah untuk memastikan ketersediaan energi di masa depan.
Kenaikan produksi yang impresif ini tidak lepas dari berbagai upaya strategis yang dilakukan Pertamina EP Zona 4. Selain fokus pada peningkatan operasional, perusahaan juga menekankan pentingnya menjaga keselamatan kerja melalui penerapan manajemen Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lingkungan (HSSE) yang ketat. Kolaborasi erat dengan pemangku kepentingan dan pemerintah daerah juga menjadi kunci kelancaran operasional.
Capaian Produksi Minyak Limau Field Melebihi Target Nasional
Pertamina EP Zona 4, sebagai bagian integral dari upaya peningkatan produksi migas nasional, berhasil mencetak rekor baru. Produksi minyak Limau Field, yang berlokasi di Sumatera Selatan, mencapai 5.102 BOPD pada 27 Februari 2026. Angka ini jauh melampaui produksi sebelumnya yang tercatat pada 16 Januari 2026 sebesar 3.658 BOPD, menandakan efektivitas strategi operasional yang diterapkan.
Djudjuwanto, General Manager PEP Zona 4, menegaskan bahwa peningkatan produksi ini merupakan hasil dari konsistensi perusahaan dalam mendukung target produksi migas nasional. Capaian ini tidak hanya berkontribusi pada pasokan energi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam mewujudkan kemandirian energi. Komitmen ini menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan sosial negara.
Peningkatan produksi minyak Limau Field ini menjadi sorotan utama karena menunjukkan potensi besar wilayah Sumatera Selatan dalam mendukung sektor energi. Dengan adanya peningkatan ini, Pertamina EP Zona 4 membuktikan kapasitasnya untuk mengoptimalkan sumber daya alam. Ini juga memberikan sinyal positif bagi investasi di sektor hulu migas.
Strategi Pengeboran dan Intervensi Sumur Dorong Kenaikan Produksi
Kenaikan produksi minyak yang signifikan di PEP Limau Field dalam sebulan terakhir didorong oleh serangkaian pekerjaan intensif di tiga sumur. Salah satu kontributor utama adalah pengeboran sumur TMB-026 di Struktur Tanjung Miring Barat. Pengeboran sumur ini dimulai sejak 22 Januari 2026, menunjukkan kecepatan dan efisiensi dalam pelaksanaan proyek.
Senior Manager Subsurface Development & Planning PHR Zona 4, Reza Nur Ardianto, menjelaskan bahwa sumur TMB-026 menunjukkan kapasitas produksi minyak sebesar 554 BOPD pada uji alir awal. Uji alir ini dilakukan pada 16 Februari 2026, hanya dalam waktu kurang dari sebulan setelah pengeboran dimulai. Hasil ini membuktikan potensi besar dari sumur baru tersebut.
Selain pengeboran sumur baru, peningkatan produksi juga berasal dari pekerjaan well intervention pada sumur BEL-053 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim. Setelah dilakukan well intervention selama 13 hari, dari 8 hingga 21 Februari 2026, sumur BEL-053 mampu menghasilkan minyak sebesar 650 BOPD. Upaya ini menunjukkan efektivitas strategi pemeliharaan dan peningkatan kinerja sumur lama.
Prioritas Keselamatan dan Kolaborasi dalam Operasional Migas
Meskipun fokus utama adalah peningkatan produksi, Pertamina EP tetap menempatkan keselamatan kerja dan operasional sebagai prioritas utama. Penerapan manajemen Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lingkungan (HSSE) yang ketat menjadi landasan setiap kegiatan operasional. Hal ini memastikan bahwa setiap tahapan pekerjaan dilakukan dengan standar keamanan tertinggi, meminimalkan risiko kecelakaan.
Djudjuwanto menekankan bahwa komitmen terhadap HSSE adalah bagian tak terpisahkan dari budaya kerja perusahaan. Ini bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap para pekerja dan lingkungan sekitar. Dengan standar HSSE yang tinggi, operasional dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan aspek keselamatan.
Lebih lanjut, kolaborasi yang kuat dengan para pemangku kepentingan dan pemerintah daerah menjadi faktor krusial dalam menjaga kelancaran operasional di Limau Field. Dukungan dari berbagai pihak memastikan bahwa setiap tantangan dapat diatasi bersama. Sinergi ini menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung pencapaian target produksi secara berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews