Potensi Ekonomi Mudik Lebaran 2026 Diperkirakan Capai Rp417 Triliun
IDEAS memperkirakan potensi ekonomi mudik Lebaran 2026 mencapai Rp347–417 triliun.
Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan potensi perputaran ekonomi selama periode mudik Lebaran 2026 berada pada kisaran Rp347,67 triliun hingga Rp417,20 triliun.
Peneliti IDEAS, Agung Pardini menyebut tradisi mudik menjadi salah satu pendorong utama aktivitas ekonomi nasional, terutama karena lonjakan mobilitas masyarakat yang mendorong konsumsi dalam waktu singkat.
"Tradisi mudik Lebaran dipastikan menjadi salah satu penopang utama perputaran ekonomi nasional. Lonjakan mobilitas masyarakat dalam waktu singkat mendorong peningkatan konsumsi yang berdampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi," kata Agung dalam keterangannya dikutip Liputan6, Rabu (18/3/2026).
Partisipasi Mudik Dipengaruhi Daya Beli
IDEAS menggunakan pendekatan desil untuk menganalisis potensi ekonomi mudik, yakni dengan membagi masyarakat ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat pengeluaran.
Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia sekitar 281 juta jiwa, diperkirakan sekitar separuh populasi akan melakukan perjalanan mudik. Namun, tingkat partisipasi tidak merata di setiap kelompok.
Pada kelompok dengan tingkat pengeluaran terendah, partisipasi mudik diperkirakan sekitar 40 persen, sedangkan pada kelompok dengan pengeluaran tertinggi bisa mencapai 60 persen.
“Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin besar peluang seseorang untuk berpartisipasi dalam mudik. Ini mencerminkan bahwa mudik bukan hanya tradisi sosial, tetapi juga aktivitas ekonomi yang sangat dipengaruhi oleh kapasitas daya beli,” ujarnya.
Kontribusi Ekonomi Didominasi Kelas Menengah
Dari sisi pengeluaran, terdapat perbedaan signifikan antar kelompok pendapatan. Rata-rata pengeluaran bulanan antara kelompok terbawah dan tertinggi tercatat memiliki selisih hingga hampir sepuluh kali lipat.
Namun, dalam konteks mudik, kelompok berpendapatan rendah justru mengalokasikan porsi yang lebih besar dari pengeluarannya, yakni sekitar 200 persen dari konsumsi bulanan, sementara kelompok atas sekitar 120 persen.
“Kelompok bawah cenderung harus mengorbankan porsi pendapatan yang jauh lebih besar untuk bisa mudik. Secara nominal mereka membelanjakan lebih kecil, tetapi secara beban ekonomi justru lebih berat,” kata Agung.
Ketika jumlah pemudik dikombinasikan dengan pengeluaran per kapita, kontribusi terbesar terhadap potensi ekonomi mudik berasal dari kelompok menengah hingga atas, khususnya pada desil 6 hingga desil 10.
"Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi mudik tidak semata ditentukan oleh jumlah pergerakan masyarakat, tetapi juga oleh daya beli, terutama dari kelas menengah yang semakin dominan dalam struktur ekonomi nasional," ujarnya.
IDEAS juga mencatat adanya kesenjangan pengeluaran antar kelompok, di mana biaya mudik per kapita pada kelompok berpendapatan tinggi dapat mencapai lebih dari lima kali lipat dibandingkan kelompok terbawah.
Lonjakan konsumsi selama periode Lebaran turut mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, jasa transportasi, hingga sektor produksi dan tenaga kerja.