Peringatan CEO DeepMind: AI Bisa Jadi Pedang Bermata Dua
AI akan mengubah struktur tenaga kerja, tetapi tidak percaya bahwa semua pekerjaan akan lenyap begitu saja.
CEO DeepMind, Demis Hassabis menyatakan kekhawatiran terbesar terkait kecerdasan buatan (AI) bukanlah sekadar ancaman terhadap lapangan kerja manusia, melainkan potensi penyalahgunaan teknologi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Melansir dari CNN, Hassabis menekankan bahwa meski AI memiliki kekuatan untuk menggantikan pekerjaan, bahaya yang lebih besar justru datang dari kurangnya pengawasan terhadap model AI yang semakin canggih dan otonom.
“Dua hal ini, penggantian pekerjaan dan penyalahgunaan oleh aktor jahat sama-sama merupakan risiko besar yang sangat menantang,” ujarnya.
Peringatan ini muncul tak lama setelah CEO Anthropic, salah satu perusahaan AI terkemuka, memperkirakan AI dapat menghapus setengah dari pekerjaan kerah putih tingkat pemula dalam waktu dekat.
Namun berbeda dari nada pesimistis tersebut, Hassabis lebih fokus pada bahaya sistemik, bagaimana teknologi AI, khususnya Artificial General Intelligence (AGI) atau kecerdasan umum buatan yang menyamai kemampuan manusia, bisa disalahgunakan untuk tujuan merusak.
“Teknologi yang sama bisa digunakan untuk kemajuan luar biasa atau justru untuk kehancuran. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa membatasi akses ke sistem ini bagi pihak yang jahat, tetapi tetap memungkinkan pemanfaatan positif oleh pihak yang bertanggung jawab,” terang dia.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Bulan Mei lalu, FBI melaporkan bahwa peretas telah menggunakan AI untuk membuat rekaman suara yang meniru pejabat pemerintah AS.
Di sisi lain, laporan dari Departemen Luar Negeri AS menyebutkan bahwa AI bisa menjadi ancaman besar bagi keamanan nasional. AI juga telah memfasilitasi penyebaran konten deepfake, termasuk pornografi nonkonsensual, sebuah praktik yang kini dilarang berkat Undang-Undang Take It Down yang baru saja disahkan.
Hassabis memang bukan tokoh pertama yang menyuarakan kegelisahan ini, tetapi pernyataannya mempertegas ironi besar dalam perkembangan AI, kemajuan luar biasa dalam kemampuan teknologi, namun dibarengi dengan kekhawatiran yang semakin membesar.
AI kini sudah mampu menulis kode, membuat video, dan melakukan berbagai tugas kompleks lainnya, bahkan melebihi kemampuan manusia dalam beberapa aspek. Hal ini memberi peluang besar, tapi juga alat baru bagi para penipu dan pelaku kejahatan.
Ironisnya, perkembangan ini terjadi di tengah minimnya regulasi global. AS dan Tiongkok, dua kekuatan besar dunia, berlomba menguasai industri AI, sementara regulasi belum mampu mengejar laju inovasi. Bahkan, Google sempat menghapus bahasa kebijakan etika AI dari situsnya pada Februari lalu, meskipun tetap menyatakan tidak akan menggunakan AI untuk senjata atau pengawasan.
Bagi Hassabis, dibutuhkan kesepakatan internasional tentang penggunaan AI yang bertanggung jawab. “Saat ini, situasi geopolitik memang tidak ideal. Tapi saya optimis, seiring AI semakin canggih, dunia akan menyadari bahwa kita butuh aturan bersama untuk memastikan teknologi ini digunakan hanya untuk kebaikan,” ungkapnya.
Ia juga menggambarkan visi masa depan di mana manusia hidup berdampingan dengan agen AI semacam asisten pribadi bertenaga AI yang membantu menjalankan tugas harian, mengurus administrasi, dan bahkan memberikan rekomendasi buku, film, hingga teman baru.
Google saat ini sedang mewujudkan visi tersebut dengan mengintegrasikan AI lebih dalam ke dalam fungsi pencariannya serta mengembangkan kacamata pintar berbasis AI.
Namun, kemajuan AI tetap dibayangi isu penghapusan pekerjaan. CEO Anthropic, Dario Amodei, menyebut AI kini mulai melampaui manusia dalam berbagai tugas intelektual dan memperkirakan dampaknya akan signifikan bagi pekerjaan tingkat pemula.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, bahkan memprediksi bahwa pada 2026, separuh kode yang ditulis di perusahaannya akan dihasilkan oleh AI.
Meski begitu, Hassabis menilai perubahan ini lebih merupakan tantangan adaptasi ketimbang ancaman total. Ia mengakui AI akan mengubah struktur tenaga kerja, tetapi tidak percaya bahwa semua pekerjaan akan lenyap begitu saja.
Justru, menurutnya, AI berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan produktivitas ekonomi secara keseluruhan.
“Akan ada banyak perubahan. Biasanya, pekerjaan baru yang lebih baik akan muncul untuk menggantikan yang tergantikan. Kita lihat saja apakah itu akan terjadi lagi kali ini,” ucap Hassabis
Seperti halnya revolusi teknologi sebelumnya, Hassabis menilai bahwa masyarakat perlu bersiap, beradaptasi, dan menemukan cara untuk mendistribusikan manfaat dari produktivitas baru yang akan dihasilkan oleh AI, agar kemajuan teknologi ini menjadi berkah, bukan bencana.