Pemprov Gorontalo Antisipasi Lonjakan Pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis, Jamin Ketersediaan Lokal
Pemerintah Provinsi Gorontalo mengambil langkah proaktif mengantisipasi lonjakan pangan seiring perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Strategi ini bertujuan menjaga stabilitas harga dan memberdayakan ekonomi lokal.
Pemerintah Provinsi Gorontalo tengah gencar mempersiapkan diri menghadapi potensi lonjakan kebutuhan bahan baku pangan. Antisipasi lonjakan pangan ini dilakukan menyusul perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah. Langkah strategis ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga di pasar lokal.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, pada Jumat (08/11) menekankan pentingnya penguatan pasokan lokal sejak dini. Hal ini krusial agar ekspansi program tidak justru memicu inflasi harga pangan. Inisiatif ini juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem pertanian daerah.
Program MBG yang semakin berkembang ini menuntut kesiapan pasokan yang memadai dari sektor pertanian dan peternakan. Pemprov Gorontalo berupaya keras untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya menjaga keberlanjutan program. Tujuannya adalah memastikan gizi masyarakat terpenuhi tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi daerah.
Strategi Penguatan Pasokan Lokal dan Pemberdayaan Ekonomi
Gubernur Gusnar Ismail menginstruksikan semua pemangku kebijakan terkait MBG untuk membangun ekosistem yang kuat. Persiapan suplai bahan baku harus dilakukan seiring bertambahnya Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG). "Saya lebih menekankan kepada semua pemangku kebijakan yang terkait dengan MBG ini untuk membangun ekosistem, mempersiapkan suplai bahan baku ketika MBG ini semakin berkembang yang ditunjukkan dengan bertambahnya SPPG. Contohnya yang sudah harus didesak adalah pertanian," ucap Gusnar.
Saat ini, dari 41 calon SPPG, baru 22 yang beroperasi, dengan target penambahan 19 unit hingga akhir Desember. Satgas MBG diminta memetakan sumber komoditas di sekitar SPPG untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang konsisten. Penggunaan bahan baku lokal dinilai penting untuk mencegah inflasi, khususnya pada komoditas cabai, dan memastikan perputaran ekonomi di masyarakat.
Pemerintah provinsi juga mendorong kolaborasi dengan TP PKK untuk memperkuat produksi hortikultura. Dukungan anggaran telah disiapkan untuk tahun 2026 guna mendukung inisiatif ini. Gusnar menyatakan kesiapan untuk membantu masyarakat bertani, bahkan dengan menyediakan traktor gratis untuk lahan yang luas, asalkan SPPG dapat dikondisikan. "Dimana yang bisa bekerja sama, kita datangi. Kita berikan muatan, kita arahkan masyarakat bertani, yang penting ada lahan sedikit, apalagi kita punya traktor banyak. Kalau ada yang luasan lahan besar, kita traktor gratis. Kita siapkan lahan siap tanam, masyarakat tinggal menanam, tapi dengan catatan SPPG-nya harus dikondisikan," jelasnya.
Dampak Ekonomi dan Pengembangan Infrastruktur Gizi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian daerah Gorontalo. Tercatat sekitar Rp63 miliar dana telah beredar melalui pengadaan bahan pangan dan operasional dapur. Program ini melibatkan 86 UMKM lokal sebagai pemasok, dua perusahaan berbentuk CV, serta 38 yayasan sosial dan pendidikan.
Koordinator Regional Badan Gizi Nasional Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, menambahkan bahwa sektor jasa transportasi lokal juga menerima alokasi biaya pengiriman bahan pangan. Ini turut menggerakkan aktivitas ekonomi di tingkat daerah. "Jadi untuk satu SPPG itu kebutuhan anggarannya itu, per bulan sekitar Rp800 juta sampai Rp1 miliar, sesuai dengan kebutuhan. Jadi anggaran itu masuk ke Provinsi Gorontalo, diterima oleh masyarakat Gorontalo sendiri," ungkap Zulkifli.
Terkait kebutuhan susu, Gusnar menyebut Gorontalo belum terbiasa dengan produksi susu sapi perah. Pemerintah provinsi akan mengkaji kemungkinan menghadirkan sapi perah secara bertahap agar produksi susu dapat dilakukan di daerah. Ini merupakan langkah jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri.
Dalam hal infrastruktur layanan gizi, Gorontalo memperoleh alokasi 22 titik Sentra Penyediaan Pangan dan Gizi (SPPG) untuk wilayah 3T. Titik-titik ini tersebar di lima kabupaten dan sudah memiliki mitra investor. Pembangunan dapur ditargetkan selesai dalam 45 hari, dengan prioritas pada kawasan 3T yang selama ini sulit dijangkau dan kurang diminati investor.
Sumber: AntaraNews