Pemkot Semarang Gelar 240 Operasi Pasar Hingga Lebaran, Jaga Stabilitas Harga Pangan
Pemerintah Kota Semarang menargetkan 240 operasi pasar hingga akhir Ramadhan 1447 H untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan menekan inflasi di wilayahnya.
Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah, secara masif menggelar operasi pasar untuk memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Hingga akhir bulan puasa ini, Pemkot Semarang menargetkan pelaksanaan 240 operasi pasar di berbagai titik. Langkah ini merupakan bagian dari upaya penguatan intervensi pasar yang dilakukan bersama Satgas Pangan Kota Semarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan kesepakatan untuk menambah jumlah operasi pasar setelah berkoordinasi dengan Satgas Pangan. Penambahan ini bertujuan untuk lebih efektif dalam menjaga harga komoditas pangan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok bagi masyarakat.
Operasi pasar ini tidak hanya berfokus pada satu jenis komoditas, melainkan mencakup berbagai kebutuhan dasar. Tujuannya adalah untuk mengendalikan fluktuasi harga yang sering terjadi menjelang hari besar keagamaan. Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat terjaga dan inflasi dapat terkendali.
Strategi Intervensi Pasar yang Masif
Pemerintah Kota Semarang bersama Satgas Pangan Kota Semarang mengoptimalkan berbagai moda untuk menjangkau masyarakat secara luas. Moda keliling seperti Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman (Pak Rahman) serta Ketahanan Pangan Keliling Semarang (Kempling Semar) menjadi ujung tombak strategi ini. Armada ini bergerak setiap hari, menyasar 3-4 lokasi berbeda untuk memastikan suplai bahan pangan langsung sampai ke tingkat bawah.
Pada pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di Kantor Kecamatan Semarang Barat, logistik yang disalurkan sangat besar. Sebanyak 1,5 ton beras SPHP, 3 ton beras medium, 300 kg bawang putih, serta ratusan kilogram komoditas lain seperti gula pasir, minyak goreng, dan telur ayam ras didistribusikan melalui 23 mitra strategis. Ini menunjukkan skala operasi yang signifikan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Di Kecamatan Mijen, pasokan serupa juga digelontorkan, namun dengan tambahan stok protein yang lebih lengkap. Wali Kota menjelaskan bahwa tim Kempling Semar bekerja dengan presisi, menyesuaikan stok berdasarkan permintaan warga. Ketersediaan daging dan ayam yang lebih tinggi di Mijen berbeda dengan Semarang Barat yang lebih fokus pada kebutuhan pokok dasar.
Dampak Nyata pada Stabilitas Harga
Intervensi pasar yang konsisten ini mulai menunjukkan dampak nyata pada harga komoditas, khususnya hortikultura, di pasar tradisional. Salah satu contoh keberhasilan adalah penurunan harga cabai yang sempat melambung tinggi. Sebelumnya, harga cabai mencapai Rp95.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Melalui strategi potong jalur distribusi langsung ke produsen, harga cabai berhasil ditekan ke level Rp75.000 per kilogram. Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas pendekatan Pemkot Semarang dalam mengatasi lonjakan harga. Harapan besar adalah agar upaya ini terus berlanjut sehingga harga sembako tetap stabil.
Fluktuasi harga yang memengaruhi inflasi di Kota Semarang terjadi sepanjang tahun, tidak hanya menjelang Lebaran. Keberhasilan menekan angka inflasi hingga 2,1 persen pada akhir tahun lalu menjadi motivasi kuat. Pemkot Semarang berkomitmen untuk terus menjaga daya beli masyarakat melalui intervensi pasar yang berkelanjutan.
Menjaga Daya Beli dan Ekosistem Pangan Sehat
Upaya Pemkot Semarang dalam menggelar operasi pasar dan menstabilkan harga pangan merupakan bagian integral dari strategi menjaga daya beli masyarakat. Dengan harga kebutuhan pokok yang terkendali, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa terbebani lonjakan biaya. Ini sangat penting, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Tujuan jangka panjang dari intervensi ini adalah menciptakan ekosistem pangan yang sehat dan berkelanjutan di Kota Semarang. Ekosistem ini mencakup rantai pasokan yang efisien, ketersediaan stok yang memadai, dan harga yang wajar bagi konsumen maupun produsen. Dengan demikian, seluruh warga dapat merasakan manfaatnya.
Diharapkan, dengan terjaganya ekosistem pangan yang sehat, warga dapat merayakan hari raya dengan penuh kenyamanan. Mereka tidak perlu khawatir akan terbebani oleh lonjakan harga yang tidak terkendali. Ini juga menjadi indikator keberhasilan pemerintah daerah dalam mengelola perekonomian lokal.
Sumber: AntaraNews