Pemerintah Dorong Kemandirian Susu Nasional dari Hulu hingga Hilir
Pemerintah serius mengupayakan Kemandirian Susu Nasional dari hulu ke hilir demi ketahanan pangan dan generasi emas 2045, mengingat 80 persen kebutuhan masih dipenuhi impor.
Pemerintah Indonesia tengah gencar mengupayakan Kemandirian Susu Nasional secara menyeluruh, dari sektor hulu hingga hilir. Langkah strategis ini mencakup penguatan produksi, riset, hilirisasi, serta kolaborasi lintas sektor yang erat. Tujuannya adalah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung pembangunan generasi berkualitas menuju visi Indonesia Emas 2045.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menyoroti bahwa sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih sangat bergantung pada impor. Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 1 juta ton susu dari total kebutuhan 4 juta ton per tahun, sebuah kesenjangan yang signifikan.
Hanif menegaskan, Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 yang baru saja diselenggarakan di Jakarta pada Minggu (14/6) harus menjadi momentum penting. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan ajang evaluasi bersama untuk mempercepat pembangunan sektor persusuan nasional yang masih menghadapi beragam tantangan besar.
Tantangan Ketergantungan Impor dan Rendahnya Konsumsi Susu Nasional
Kemandirian Susu Nasional menjadi agenda krusial mengingat tingginya ketergantungan Indonesia pada pasokan impor. Data menunjukkan bahwa 80 persen kebutuhan susu dalam negeri dipenuhi dari luar, sebuah kondisi yang telah berlangsung lama dan menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Ketergantungan ini berpotensi menimbulkan risiko serius terhadap ketahanan pangan nasional, terutama jika terjadi gejolak geopolitik global yang dapat mengganggu rantai pasok.
Selain itu, tingkat konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah, yakni hanya sekitar 16,2 hingga 16,8 liter per kapita per tahun. Angka ini setara dengan konsumsi satu sendok susu per hari, jauh di bawah standar kebutuhan ideal yang direkomendasikan untuk kesehatan. Padahal, susu kaya akan nutrisi penting seperti protein, kalsium, vitamin, dan probiotik yang esensial untuk kekuatan tulang, otot, serta perkembangan otak generasi muda.
Hanif menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus menjadi perhatian utama, mengingat Indonesia memiliki sekitar 70 persen penduduk usia produktif. Kelompok ini merupakan modal penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, sehingga asupan nutrisi yang cukup, termasuk dari susu, sangat vital. Ketergantungan pada impor sejak lama menunjukkan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan sektor persusuan.
Strategi Penguatan Sektor Hulu Susu Melalui Riset dan Inovasi
Pemerintah mendorong penguatan ekosistem persusuan nasional dengan membangun sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir. Di sektor hulu, fokus utama adalah peningkatan populasi dan produktivitas ternak perah yang adaptif terhadap iklim tropis Indonesia. Hal ini penting agar tidak sepenuhnya bergantung pada jenis ternak dari wilayah subtropis, seperti Eropa, Australia, atau Selandia Baru, yang memerlukan penyesuaian lingkungan khusus.
Riset dan inovasi menjadi kunci untuk menghasilkan varietas ternak yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal Indonesia, termasuk suhu dan kelembapan tinggi. Pengembangan jenis ternak yang sesuai iklim tropis akan meningkatkan produktivitas susu secara signifikan, menjadikan industri nasional lebih kompetitif dan berkelanjutan. Saat ini, sebagian besar sapi perah yang digunakan di Indonesia berasal dari wilayah subtropis, yang seringkali membutuhkan pemeliharaan di dataran tinggi.
Oleh karena itu, Hanif mendorong penguatan riset dan inovasi untuk menciptakan ternak perah yang tidak hanya adaptif tetapi juga produktif di lingkungan tropis. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produksi susu nasional secara drastis, sehingga mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor. Kemandirian Susu Nasional sangat bergantung pada keberhasilan inovasi di sektor hulu ini.
Pentingnya Hilirisasi dan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kemandirian
Selain penguatan sektor hulu, pemerintah juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas industri pengolahan susu di sektor tengah dan hilir. Pembangunan industri yang terintegrasi akan memperkuat rantai pasok persusuan nasional, menjadikannya lebih tangguh dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan ketahanan pangan sebagai program prioritas nasional yang tidak dapat ditunda.
Pengembangan sektor susu tidak bisa hanya dibebankan kepada Kementerian Pertanian saja, melainkan membutuhkan gotong royong dari semua pemangku kepentingan. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat luas sangat esensial untuk mencapai Kemandirian Susu Nasional. Sinergi ini akan memastikan setiap aspek, mulai dari produksi bahan baku hingga produk jadi, dapat berjalan optimal.
Hanif menekankan pentingnya memikirkan secara serius bagaimana produksi susu di dalam negeri dapat ditingkatkan secara signifikan. Dengan demikian, ekosistem persusuan nasional dapat berkembang secara mandiri, mengurangi risiko dari gejolak pasar global, dan memastikan ketersediaan nutrisi penting bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sumber: AntaraNews