Minyak Jelantah Jadi Uang, Pertamina Buka Peluang Baru
Pertamina menggunakan minyak jelantah sebagai sumber bahan bakar yang berkelanjutan, mendukung ekonomi sirkular.
Minyak jelantah, yang selama ini dipandang sebagai limbah rumah tangga, kini mendapatkan fungsi baru yang lebih bermanfaat. PT Pertamina (Persero) melalui berbagai inisiatif inovatif mulai menggunakan minyak bekas ini sebagai bahan bakar berkelanjutan untuk mendukung peralihan menuju energi hijau.
Program ini sejalan dengan visi nasional untuk mencapai nol emisi karbon pada tahun 2060. Dalam upaya terbarunya, Pertamina mengembangkan program pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat melalui berbagai saluran, termasuk bank sampah dan titik pengumpulan khusus di beberapa SPBU.
Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi limbah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat. Sejalan dengan tren global, Pertamina memandang minyak jelantah sebagai peluang strategis untuk mendukung ekonomi sirkular.
Program pengolahan ini diharapkan dapat mempercepat peralihan menuju energi bersih sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Proses Pengolahan Minyak Jelantah Menjadi Bioavtur
Minyak jelantah saat ini bukan hanya dianggap limbah, tetapi juga dipandang sebagai sumber energi yang bernilai. PT Pertamina melalui proyek Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah memulai proses pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan. Langkah awal dari proyek ini ditandai dengan penandatanganan serta peluncuran ekosistem pengembangan SAF di Kilang Cilacap.
"Kemarin yang waktu uji coba tahun lalu yang 2.4, yang kita uji coba dengan (pesawat) Garuda rute Jakarta-Solo-Jakarta itu yang 2,4 persen tapi bahan bakunya dari sawit, sekarang bahan bakunya diubah dari minyak jelantah," ungkap Taufik Aditiyawarman, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), seperti yang dikutip dari ANTARA.
Pada uji coba sebelumnya, bioavtur yang berasal dari kelapa sawit telah digunakan untuk penerbangan Garuda Indonesia. Sekarang, minyak jelantah dihadirkan sebagai alternatif baru untuk mendukung pengembangan SAF 3.0, yang merupakan langkah strategis menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Program Green Movement UCO Mendorong Ekonomi Sirkular
Pertamina telah meluncurkan inisiatif Green Movement UCO, yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat dalam pengumpulan minyak jelantah. Inisiatif ini bertujuan mendukung peralihan menuju energi bersih dan sekaligus memberikan keuntungan ekonomi langsung kepada masyarakat.
Minyak jelantah yang terkumpul melalui UCollect Box yang ditempatkan di berbagai lokasi akan diolah menjadi bahan bakar alternatif seperti Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Partisipasi masyarakat dalam program ini diberikan penghargaan berupa kompensasi, seperti saldo e-wallet dan voucher MyPertamina. Dengan demikian, program ini tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan insentif finansial yang menarik bagi peserta.
Langkah Strategis Pertamina untuk Kemandirian Energi
Proyek pengolahan minyak jelantah ini adalah bagian dari upaya Pertamina untuk mendukung kemandirian energi di Indonesia. Sesuai dengan visi pemerintah, target untuk mencapai swasembada energi direncanakan pada tahun 2029. “Perusahaan telah melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan produksi biofuel,” ungkap Salyadi Dariah Saputra, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina.
Salah satu inovasi tersebut adalah pengembangan Biosolar B40 serta proyek bioavtur yang berbasis pada minyak jelantah. Inisiatif ini juga bertujuan untuk mempercepat peralihan dari penggunaan bahan bakar fosil menuju sumber energi terbarukan, yang merupakan kunci dalam pengelolaan energi di masa depan.
Peran Masyarakat dalam Mendukung Energi Hijau
Keberhasilan program pengolahan minyak jelantah sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat. Dengan angka konsumsi minyak goreng rumah tangga yang mencapai 2,66 juta ton setiap tahun, potensi minyak jelantah sebagai bahan baku sangatlah besar. Melalui kerja sama dengan bank sampah dan perusahaan yang mengumpulkan minyak jelantah, Pertamina memastikan bahwa pengelolaan limbah ini dilakukan secara terencana.
"Ekspor minyak jelantah yang selama ini diambil oleh tetangga kita, ya kita nanti akan gunakan semaksimal mungkin di sini," tambah Taufik.
Masyarakat kini dapat dengan mudah menemukan informasi mengenai lokasi pengumpulan minyak jelantah berkat aplikasi MyPertamina, sehingga partisipasi mereka menjadi lebih praktis dan transparan.
Dampak Positif bagi Lingkungan dan Ekonomi
Inisiatif ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga menciptakan keuntungan ekonomi yang signifikan. Dengan menggunakan limbah sebagai sumber energi, Pertamina berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon secara signifikan.
Lebih jauh lagi, program ini berperan dalam menciptakan peluang kerja baru di sektor pengolahan biofuel. Ekonomi sirkular yang terbentuk melalui pengelolaan minyak jelantah juga menciptakan kesempatan investasi dalam sektor energi hijau, yang semakin penting di tengah transisi energi global.
Apa langkah-langkah yang diambil masyarakat untuk ikut serta dalam program pengumpulan minyak jelantah?
Masyarakat memiliki kesempatan untuk mendonasikan minyak jelantah ke UCollect Box yang tersedia di beberapa tempat, termasuk SPBU dan rumah sakit Pertamina.
Apa keuntungan yang didapat masyarakat dari program ini?
Di samping memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat juga akan memperoleh imbalan berupa saldo e-wallet sebesar Rp6.000 per liter dan voucher MyPertamina senilai Rp25.000.
Apa alasan minyak jelantah berperan penting dalam peralihan menuju energi bersih?
Minyak jelantah memiliki potensi untuk diolah menjadi biofuel, salah satunya Sustainable Aviation Fuel (SAF). Proses ini berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.