Mimpi Mustahil Kelas Menengah Miliki Hunian Layak dengan Gaji Pas-pasan
Memiliki rumah pribadi bukan lagi cita-cita yang wajib diwijudkan masyarakat Indonesia berpenghasilan menengah.
Bagi sebagian orang, rumah adalah lambang keberhasilan hidup. Bukan sekadar tempat tinggal, rumah juga menjadi ruang membangun keluarga dan masa depan yang stabil. Namun, bagi banyak warga Indonesia, memiliki rumah pribadi masih menjadi impian yang sulit digapai terutama bagi mereka yang hanya berpenghasilan setara Upah Minimum Regional (UMR).
Salah satunya adalah Akbar, seorang satpam yang tinggal di pinggiran Jakarta. Di usianya yang masih produktif, impian memiliki rumah terus hidup dalam benaknya. Namun realita menunjukkan hal sebaliknya.
“Sejak mulai kerja sudah ingin punya rumah. Tapi harga rumah tiap tahun naik terus. Gaji saya pas-pasan, dan harus bantu keluarga juga. Rasanya, mimpi punya rumah tuh makin jauh,” ungkap Akbar saat ditemui, Selasa (20/5).
Angka Backlog Masih Tinggi, Harga Rumah Terus Naik
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, backlog atau kekurangan rumah di Indonesia telah mencapai 9,9 juta unit. Angka ini menunjukkan betapa banyak warga yang belum memiliki hunian layak.
Ironisnya, harga rumah terus meningkat setiap tahun, sementara daya beli masyarakat khususnya dari golongan berpenghasilan rendah tidak banyak berubah.
Contohnya, harga rumah subsidi di Jabodetabek kini berkisar antara Rp200 juta hingga Rp220 juta, sementara di wilayah Jawa sekitar Rp180 juta hingga Rp200 juta. Sekilas terlihat terjangkau, namun bagi mereka yang bergaji UMR, angka tersebut tetap terasa berat.
“Kalau Cash Ngos-ngosan, KPR pun Takut”
Bagi Akbar, membeli rumah secara tunai jelas mustahil. Ia pun belum berani mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) karena khawatir tidak mampu mencicil.
“Kalau cash jelas ngos-ngosan. Tapi ambil KPR juga takut. Tiap bulan kan masih bantu keluarga, adik sekolah, dan kebutuhan harian juga,” katanya lirih.
Akbar mengaku belum pernah sekalipun mengajukan KPR. Saat ini, ia masih tinggal di rumah orang tuanya. Untungnya, belum perlu menyewa atau mengontrak.
“Kalau lihat kondisi sekarang, punya rumah lima sampai sepuluh tahun ke depan pun kayaknya belum bisa. Harga rumah naiknya terlalu cepat, nggak bisa dikejar pakai gaji UMR.”
Program Rumah yang Tak Menjawab Masalah
Pemerintah memang telah menyediakan berbagai program perumahan subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, program tersebut belum tentu menjawab kebutuhan semua orang.
"Saya tahu ada program subsidi. Tapi saya masih belum tertarik. Mungkin nanti kalau sudah menikah atau berkeluarga, baru pikirkan rumah. Sekarang sih belum kepikiran,” tutupnya.