Menkeu Purbaya Tanggapi Pernyataan Jokowi Soal Pembangunan Whoosh
Menkeu Purbaya menegaskan bahwa proyek kereta cepat Whoosh bertujuan untuk mengembangkan kawasan, bukan hanya untuk profit.
Presiden Republik Indonesia yang ke-7, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi, menegaskan bahwa proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mengatasi masalah kemacetan serta mendorong pertumbuhan wilayah. Pernyataan tersebut didukung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menilai bahwa proyek ini memiliki misi untuk pengembangan kawasan (regional development).
"Ada betulnya juga sedikit, karena kan Whoosh sebetulnya ada misi regional development juga kan," ungkap Purbaya saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta, seperti yang dikutip pada Rabu (29/10/2025).
Walaupun demikian, Purbaya mengakui bahwa manfaat ekonomi dari proyek ini belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar jalur kereta cepat. Saat ini, Whoosh memiliki empat stasiun utama yang menjadi pemberhentian, yaitu Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar.
"Mungkin di mana ada pemberhentian di sekitar jalur Whoosh supaya ekonomi sekitar tumbuh itu harus dikembangkan ke depan. Jadi ada betulnya," tambahnya. Dengan demikian, pengembangan infrastruktur ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di sekitarnya.
Pernyataan Jokowi
Sebelumnya, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi, memberikan tanggapan mengenai isu utang kereta cepat Whoosh. Ia disebut-sebut sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab atas permasalahan tersebut.
Jokowi menjelaskan latar belakang pembangunan kereta cepat Whoosh, yang menurutnya merupakan solusi dari kemacetan parah yang telah melanda Jakarta dan sekitarnya, termasuk Bandung, selama beberapa dekade.
"Di Jakarta itu kemacetannya sudah parah, sudah sejak 30 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu. Dan Jabodetabek kemacetannya parah, termasuk Bandung kemacetannya parah," ujarnya kepada wartawan di Solo pada Senin (27/10/2025).
Jokowi juga menambahkan bahwa dalam satu tahun, kerugian yang dialami negara akibat kemacetan di Jakarta mencapai sekitar Rp 65 triliun. Sementara itu, di kawasan Jabodetabek dan Bandung, total kerugian bisa melebihi Rp 100 triliun.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Jokowi merancang berbagai proyek transportasi massal, seperti MRT, LRT, kereta cepat Whoosh, kereta bandara, dan KRL, dengan tujuan agar masyarakat beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum.
"Agar masyarakat berpindah dari transportasi pribadi mobil atau sepeda motor ke kereta cepat, MRT, LRT, kereta bandara dan KRL agar kerugian itu bisa terkurangi dengan baik," tuturnya.
Keuntungan sosial dari Whoosh adalah
Presiden Jokowi menekankan bahwa transportasi massal adalah layanan publik yang tidak bertujuan untuk mencari keuntungan. Salah satu manfaat utama dari transportasi massal adalah kemampuannya dalam mengurangi emisi karbon serta mempercepat waktu perjalanan masyarakat.
"Di situlah keuntungan sosial yang didapatkan dari pembangunan transportasi massal," tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa subsidi yang diberikan untuk proyek transportasi massal seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sebagai kerugian.
"Kayak MRT itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mensubsidi Rp 800 miliar per tahun. Itu pun baru dari Lebak Bulus ke (Bundaran) HI," ujarnya.
"Nanti kalau semua rute sudah selesai diperkirakan Rp 4,4 triliun dari itung-itungan kami dulu 12 tahun yang lalu," tambahnya.
Berikan dampak positif bagi perekonomian
Presiden Jokowi juga menekankan manfaat positif dari proyek pembangunan transportasi massal, seperti MRT dan kereta cepat Whoosh. Ia mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah penumpang menjadi bukti keberhasilan pemerintah dalam mengubah perilaku masyarakat, yang sebelumnya lebih memilih kendaraan pribadi, beralih ke penggunaan transportasi umum.
“Memindahkan masyarakat, memindahkan orang dari mobil pribadi dari sepeda mobil, motor ke transportasi massal tidak mudah untuk merubah karakter nggak mudah. Tetapi yang kita lihat MRT sukses mengangkut penumpang sejak diluncurkan itu sudah 171 juta penumpang. Kereta cepat sejak mulai meluncur sampai sekarang sudah mengangkut 12 juta orang dan yang lain-lainnya,” katanya.
Jokowi juga menambahkan bahwa pembangunan transportasi massal bukan hanya sekadar meningkatkan mobilitas, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian.