Bukan APBN! Begini Skema Non-APBN Whoosh untuk Bayar Utang Kereta Cepat, Danantara Jadi Penyelamat?
Pemerintah tegaskan tidak akan gunakan APBN untuk utang Whoosh. Skema Non-APBN Whoosh melibatkan Danantara sedang disiapkan, bagaimana detailnya?
Pemerintah Indonesia secara tegas menyatakan tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menanggung beban utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh. Keputusan ini diambil untuk mencari solusi pembiayaan yang tidak membebani keuangan negara. Upaya ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam mengelola proyek infrastruktur strategis.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi pada Minggu (12/10) malam di kediaman Presiden Prabowo Subianto, Kertanegara, Jakarta, mengungkapkan bahwa berbagai langkah alternatif telah didiskusikan. Diskusi ini bertujuan untuk menemukan skema pembiayaan yang berkelanjutan dan mandiri. Pemerintah berkomitmen mencari jalan keluar terbaik tanpa mengandalkan dana publik.
Meskipun demikian, Prasetyo Hadi menekankan bahwa proyek Whoosh memiliki manfaat besar bagi masyarakat. Proyek ini sangat membantu meningkatkan konektivitas dan mobilitas antara Jakarta dan Bandung. Pemerintah juga melihat potensi besar untuk pengembangan jaringan kereta cepat di masa depan.
Komitmen Pemerintah Hindari Beban APBN
Pemerintah Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk tidak membebankan utang proyek Kereta Cepat Whoosh kepada APBN. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam acara Media Gathering Kemenkeu 2025 di Bogor pada Jumat (10/10), secara eksplisit menyatakan hal tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan keberlanjutan fiskal negara.
Menurut Purbaya, pemisahan tanggung jawab antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting. Hal ini bertujuan agar proyek infrastruktur tidak terus-menerus menjadi beban APBN di masa mendatang. Kebijakan ini mencerminkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan negara.
Mensesneg Prasetyo Hadi juga mengamini pernyataan tersebut. “Beberapa waktu yang lalu juga sudah dibicarakan untuk diminta mencari skema ya, skema supaya beban keuangan itu bisa dicarikan jalan keluar,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mencari solusi pembiayaan alternatif yang inovatif.
Prasetyo menambahkan bahwa meskipun pembahasan Whoosh tidak masuk dalam agenda rapat terbatas malam itu, pemerintah terus memikirkan solusinya. Fokus utama adalah mencari skema pembiayaan yang efektif dan tidak mengganggu stabilitas APBN.
Danantara Jadi Kunci Skema Non-APBN Whoosh
Untuk merealisasikan skema non-APBN Whoosh, pemerintah mendorong penyelesaian pembiayaan melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Danantara dinilai memiliki kapasitas keuangan yang memadai untuk menangani proyek strategis ini. Lembaga ini memiliki sumber dividen mandiri sekitar Rp80 triliun per tahun.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa ada dua opsi utama yang tengah dikaji. Opsi pertama adalah penambahan modal (equity) ke PT KCIC sebagai pengelola Whoosh. Opsi kedua adalah pengambilalihan infrastruktur oleh pemerintah, serupa dengan praktik di industri perkeretaapian lainnya.
Dony menegaskan bahwa aspek keberlanjutan bisnis KCIC, yang kini merupakan bagian dari PT KAI, harus tetap terjaga. Oleh karena itu, pemilihan skema pembiayaan yang tepat menjadi krusial. Tujuannya adalah memastikan operasional Whoosh tetap berjalan optimal tanpa membebani APBN.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang bagi pembiayaan proyek Whoosh. Dengan demikian, proyek ini dapat terus memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Skema ini juga diharapkan menjadi model untuk proyek infrastruktur lainnya di masa depan.
Manfaat dan Potensi Pengembangan Whoosh
Terlepas dari isu pembiayaan, pemerintah menilai proyek Whoosh memiliki manfaat besar bagi masyarakat dan perekonomian. Dony Oskaria menyebutkan bahwa proyek KCJB telah memberikan dampak ekonomi signifikan dengan peningkatan mobilitas dan jumlah penumpang mencapai 30 ribu orang per hari.
Mensesneg Prasetyo Hadi juga menyoroti peran Whoosh sebagai moda transportasi yang sangat membantu aktivitas masyarakat. “Faktanya, Whoosh menjadi salah satu moda transportasi yang sangat membantu aktivitas masyarakat, baik dari Jakarta maupun ke Bandung dan sebaliknya,” katanya. Ini menunjukkan penerimaan positif dari publik.
Pemerintah bahkan melihat potensi pengembangan jaringan kereta cepat ini lebih lanjut. “Justru, kita ingin sebenarnya kan itu berkembang ya, tidak hanya ke Jakarta dan sampai ke Bandung, mungkin juga kita sedang berpikir untuk sampai ke Jakarta, ke Surabaya,” ujar Prasetyo. Visi ini menunjukkan ambisi pemerintah untuk memperluas konektivitas nasional.
Pengembangan jaringan kereta cepat ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Peningkatan konektivitas antar kota besar akan memfasilitasi perdagangan, pariwisata, dan mobilitas tenaga kerja. Dengan demikian, Whoosh bukan hanya solusi transportasi tetapi juga pendorong pembangunan.
Sumber: AntaraNews