Danantara Siapkan 3 Opsi Solusi Penyelesaian Utang KCIC Whoosh Tanpa APBN
Danantara Indonesia tengah mengevaluasi komprehensif penyelesaian utang KCIC Whoosh, menyiapkan berbagai opsi solusi tanpa melibatkan APBN. Bagaimana skema yang akan diusulkan untuk proyek strategis ini?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) saat ini tengah melakukan evaluasi secara menyeluruh dan komprehensif terkait penyelesaian utang proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Evaluasi ini bertujuan untuk menemukan skema terbaik dalam melunasi kewajiban finansial proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dikenal sebagai Whoosh. Proses ini menjadi sorotan utama mengingat besarnya nilai investasi dan dampak strategis proyek tersebut bagi konektivitas nasional.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan beberapa model solusi yang akan diajukan kepada kementerian-kementerian terkait. Pernyataan ini disampaikan Rosan seusai acara bertajuk 1 Tahun Pemerintahan Prabowo Gibran "Optimism on 8 Percent Economic Growth" di Jakarta. Keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci dalam merumuskan penyelesaian yang optimal dan berkelanjutan.
Rosan menambahkan bahwa Danantara Indonesia akan segera memfinalisasi evaluasi ini untuk kemudian dibawa ke forum pengambilan keputusan bersama. Keputusan ini diharapkan dapat memberikan kejelasan dan kepastian mengenai masa depan pembiayaan proyek Whoosh. Langkah ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan keberlanjutan proyek infrastruktur besar.
Evaluasi Komprehensif oleh Danantara Indonesia
Rosan Roeslani menegaskan bahwa Danantara Indonesia sedang mengevaluasi penyelesaian utang Whoosh secara keseluruhan dan komprehensif. "Kalau masalah Whoosh, saya juga sampaikan ke semua kementerian, kemarin juga ke Pak (Menkeu) Purbaya, bahwa kita sedang mengevaluasi penyelesaian Whoosh ini secara keseluruhan, secara komprehensif," ujar Rosan.
Dalam proses evaluasi ini, Danantara Indonesia tidak hanya mencari satu solusi, melainkan menyiapkan beberapa opsi yang matang. "Tentunya kita mengevaluasi ini kita memberikan ada opsi 1, opsi 2, dan 3," jelas Rosan. Opsi-opsi ini akan disampaikan kepada kementerian terkait setelah evaluasi selesai secara baik dan matang.
Penyelesaian utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini memerlukan koordinasi lintas sektor yang melibatkan banyak pihak. Kementerian Perhubungan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, serta kementerian lainnya, semuanya memiliki peran penting dalam menemukan solusi terbaik. Danantara Indonesia akan segera melakukan finalisasi evaluasi ini untuk kemudian secara bersama-sama dapat memutuskan penyelesaian yang terbaik terkait utang proyek KCIC.
Peran Presiden dan Jaminan Tanpa APBN
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) terkait penyelesaian utang proyek KCIC atau Whoosh. "Kita tinggal tunggu Keppres saja," kata Luhut. Keppres ini diharapkan akan membentuk tim khusus yang bertugas membahas strategi pembayaran utang proyek KCIC.
Luhut juga menyebutkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, dan menyepakati bahwa penyelesaian utang proyek ini perlu ditangani bersama. Koordinasi ini menunjukkan adanya sinergi antarlembaga dalam mencari jalan keluar terbaik untuk masalah utang KCIC.
Secara tegas, Luhut memastikan bahwa pelunasan utang KCIC tidak akan membutuhkan bantuan tambahan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Tidak ada yang pernah meminta APBN. Restrukturisasi. Saya sudah bicara dengan China karena saya dari awal mengerjakan itu," ujar Luhut, memberikan jaminan kepada publik mengenai skema pembiayaan ini.
Kapasitas Keuangan Danantara dan Harapan Kementerian Keuangan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah menyatakan keyakinannya terhadap kapasitas Danantara Indonesia. Ia menilai Danantara memiliki kapasitas keuangan yang cukup untuk menyelesaikan utang proyek KCIC atau Whoosh tanpa perlu menggunakan dana APBN. Hal ini sejalan dengan pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan.
Purbaya menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan akan menunggu proposal dari Danantara Indonesia mengenai skema penyelesaian utang tersebut. "Mereka (Danantara) akan purpose ke kita seperti apa. Ya kira-kira nanti kita tunggu deh seperti apa studinya," ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, yang terpenting bagi China Development Bank (CDB) sebagai kreditur adalah struktur pembayaran yang jelas. "Tapi yang jelas, saya tanya ke beliau (Rosan) tadi, apakah di klausulnya yang bayar harus pemerintah? Kan yang penting, kalau yang saya tahu CDB (China Development Bank) mereka yang penting struktur pembayarannya clear. Jadi seharusnya enggak ada masalah," pungkas Purbaya, menunjukkan optimisme terhadap solusi yang akan diusulkan.
Sumber: AntaraNews