Tahukah Anda? RI Terus Kembangkan Kereta Api Meski Utang Whoosh Capai Rp 116 Triliun
Meskipun proyek Kereta Cepat Whoosh menghadapi isu utang Rp 116 triliun, pemerintah Indonesia berkomitmen melanjutkan pengembangan infrastruktur kereta api. Bagaimana strategi penyelesaian utang ini dan dampaknya?
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, atau Whoosh, kini menjadi sorotan utama pemerintah Indonesia akibat isu utang yang terus membesar dalam beberapa bulan terakhir. Total investasi proyek ini mencapai US$7,27 miliar, atau sekitar Rp120,38 triliun. Sekitar 75 persen pendanaan berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan suku bunga dua persen per tahun.
Isu utang Whoosh ini telah menarik perhatian publik, dengan total kewajiban diperkirakan mencapai Rp116 triliun (US$7 miliar). Angka ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang keberlanjutan finansial. Potensi dampaknya terhadap anggaran negara menjadi perdebatan hangat di berbagai kalangan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN tidak akan digunakan untuk melunasi utang proyek ini. Tanggung jawab finansial sepenuhnya berada pada BUMN yang terlibat. Negosiasi restrukturisasi utang dengan pihak Tiongkok sedang berlangsung intensif.
Modernisasi Transportasi dan Tantangan Utang Whoosh
Whoosh mulai beroperasi komersial pada 17 Oktober 2023, menjadikan Indonesia negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki sistem kereta api berkecepatan tinggi. Sejak itu, Whoosh telah mengangkut lebih dari 12 juta penumpang. Tingkat ketepatan waktu mencapai 99,9 persen tanpa insiden kecelakaan, menurut data KCIC.
Jumlah penumpang terus meningkat, bahkan mencapai rekor 26.770 penumpang harian pada Juni 2025. Wisatawan asing juga menunjukkan minat tinggi, dengan 566.829 penumpang hingga September. Kehadiran Whoosh telah menjadi daya tarik wisata baru yang signifikan.
Proyek ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dengan 188 kios beroperasi di stasiun, 76 di antaranya dikelola UMKM. Mereka menjual makanan, suvenir, dan barang perjalanan, menunjukkan dampak positif Whoosh. Kereta cepat ini melambangkan transformasi transportasi modern Indonesia, mengintegrasikan teknologi canggih dan operasi berkelanjutan.
Jalur ini menghubungkan Jakarta dan Bandung dalam waktu kurang dari satu jam, secara signifikan memangkas waktu perjalanan dan mengurangi kemacetan. Meskipun isu utang Whoosh masih ada, pemerintah berkomitmen memajukan infrastruktur transportasi modern karena manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungannya.
Komitmen Pemerintah dan Strategi Penyelesaian Utang Whoosh
Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan bertanggung jawab penuh atas semua utang terkait Whoosh, menegaskan kapasitas finansial Indonesia cukup untuk menjaga operasional. Hal ini tanpa membebani anggaran negara. Prabowo bahkan menginstruksikan menteri kabinetnya mencari skema terbaik untuk menyelesaikan masalah utang ini.
Instruksi ini disampaikan dalam rapat kabinet terbatas pada 29 Oktober, dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Kepala Negara meminta tinjauan menyeluruh atas semua skenario keuangan, termasuk opsi perpanjangan jangka waktu pinjaman untuk meringankan beban finansial proyek.
Menurut Prabowo, proyek transportasi publik seperti Whoosh tidak boleh dinilai hanya dari untung rugi, melainkan dari manfaat publik yang lebih luas. Ia mendesak masyarakat agar tidak mempolitisasi isu utang Whoosh, menegaskan bahwa ekonomi Indonesia cukup kuat mendukung inisiatif infrastruktur strategis.
CEO Danantara Dony Oskaria pada 23 Oktober mengatakan negosiasi restrukturisasi utang dengan Tiongkok masih berjalan. Tim negosiasi Danantara akan segera ke Beijing untuk membahas aspek-aspek utama perjanjian pinjaman. Ini termasuk jangka waktu, suku bunga, dan denominasi mata uang, dengan tujuan mendapatkan skema pembayaran yang lebih menguntungkan.
Pengembangan Jaringan Kereta Api Berkelanjutan
Prabowo juga menegaskan kembali rencananya memperpanjang jalur Whoosh dari Jakarta-Bandung hingga Surabaya dan Banyuwangi, di ujung timur Pulau Jawa. Perpanjangan Jakarta-Surabaya akan memangkas waktu perjalanan kereta dari 10 jam menjadi sekitar 3,5 jam. Pemerintah berencana membuat harga tiket lebih terjangkau dari rute Jakarta-Bandung saat ini.
Prabowo menggambarkan Whoosh sebagai simbol kerja sama Indonesia-Tiongkok dan langkah kunci dalam menguasai teknologi transportasi modern. Pengembangan kereta api menjadi prioritas utama pemerintahannya karena peran strategisnya dalam memenuhi kebutuhan transportasi publik dan meningkatkan konektivitas nasional.
Kereta api dan sistem transit massal lainnya, yang mengangkut sekitar 486 juta penumpang setiap tahun, sangat penting untuk mendukung kehidupan perkotaan modern. Oleh karena itu, pemerintah akan terus meningkatkan layanan seperti Greater Jakarta Commuter Line dan sistem Light Rail Transit (LRT) Jabodebek.
Namun, isu utang Whoosh harus menjadi pelajaran penting dalam tata kelola yang bijaksana bagi pembuat kebijakan. Mereka perlu melakukan studi komprehensif dan menilai manfaat publik, kapasitas fiskal, serta pemilihan mitra secara cermat sebelum undertaking proyek infrastruktur masa depan.
Sumber: AntaraNews