Lindungi Industri Dalam Negeri, Vietnam Kenakan Tarif bagi Baja Asal China
Harga baja berjangka di China turun hingga 1,8%, sementara produsen baja di Vietnam menguat.
Vietnam akan mengenakan tarif antidumping terhadap baja asal China. Langkah Vietnam sebelumnya sudah dilakukan oleh Korea Selatan dan negara lain demi melawan lonjakan pasokan dari produsen terbesar dunia tersebut.
Berdasarkan pernyataan dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan sebagaimana dilansir dari Bloomberg, Vietnam akan mengenakan tarif sementara pada sejumlah baja canai panas mulai awal Maret.
Di luar China, Vietnam adalah pembeli tunggal terbesar baja China, dan baja canai panas merupakan produk ekspor utama.
China mengirim baja terbanyak ke luar negeri dalam sembilan tahun terakhir pada tahun 2024, karena produsennya beralih ke pasar global untuk mengimbangi perlambatan konstruksi yang parah di dalam negeri. Hal itu menjadi alasan bagi Presiden Donald Trump untuk mengusulkan tarif menyeluruh sebesar 25% untuk semua impor Amerika Serikat, dan telah mendorong negara-negara dari Korea Selatan hingga Brasil dan India untuk mempertimbangkan pungutan.
Gelombang proteksionisme akan menambah tekanan pada Beijing untuk mengendalikan industri bajanya yang bernilai miliaran ton setelah beberapa tahun permintaan domestik melambat. Harga baja berjangka di China turun hingga 1,8%, sementara produsen baja di Vietnam menguat.
Keputusan tarif baru-baru ini “harus memberi insentif kepada pemerintah China untuk meluncurkan putaran reformasi pasokan lainnya” guna meningkatkan disiplin pasokan dan memperbaiki profitabilitas industri, tulis analis termasuk Jack Shang dari Citigroup Inc. dalam sebuah catatan.
Tarif sementara Vietnam antara 19,38% dan 27,83% akan mulai berlaku pada 7 Maret dan berlangsung selama 120 hari. Tahun lalu, China mengekspor sekitar 8 juta ton HRC ke Vietnam, dan tarif tersebut kemungkinan akan mencakup sekitar 50% dari volume tersebut, kata Citigroup, mengutip diskusi dengan para pelaku industri.
Penyelidikan antidumping tersebut dipicu oleh Hoa Phat Group dan Formosa Ha Tinh Steel Corp., dua perusahaan pembuat baja besar Vietnam yang meminta penyelidikan impor dari India dan China tahun lalu. Pemerintah tidak akan melanjutkan pengenaan bea masuk terhadap India saat ini, katanya.
Harga kontrak berjangka HRC di Bursa Berjangka Shanghai Tiongkok turun 1,3% pada pukul 3.34 siang waktu setempat, sementara bijih besi di Singapura sedikit berubah pada USD107,50 per ton.