Kuota BBM Subsidi Kapal Penumpang PELNI 2026 Capai 181 Ribu KL, BPH Migas Pastikan Ketersediaan
BPH Migas menetapkan kuota BBM subsidi kapal penumpang PELNI sebesar 181.431 kiloliter untuk tahun 2026, memastikan ketersediaan pasokan untuk mendukung operasional armada.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah menetapkan alokasi kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Jenis BBM Tertentu (JBT) untuk operasional kapal penumpang PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) pada tahun 2026. Jumlah kuota BBM subsidi kapal penumpang PELNI ini mencapai 181.431 kiloliter (KL) untuk mendukung kelancaran transportasi laut nasional. Penetapan kuota ini diumumkan langsung oleh Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, pada Selasa (6/1) malam.
Keputusan ini diambil setelah BPH Migas melakukan verifikasi mendalam terhadap realisasi pemanfaatan BBM subsidi oleh PELNI sepanjang tahun 2025 yang mencapai 177.930 KL. Kenaikan kuota BBM subsidi kapal penumpang PELNI sebesar dua persen ini sejalan dengan penambahan jumlah kapal penumpang yang akan dioperasikan PELNI di tahun mendatang. Penambahan kuota ini bertujuan untuk menjamin seluruh kebutuhan BBM PELNI dapat terpenuhi dengan baik sepanjang tahun 2026.
Selain penetapan kuota, BPH Migas dan PELNI juga memperkuat kerja sama dalam pengawasan penyaluran dan pemanfaatan BBM subsidi, khususnya menjelang periode puncak arus balik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kolaborasi ini penting untuk memastikan pasokan BBM subsidi kapal penumpang PELNI berjalan lancar dan optimal. Monitoring bersama proses bunkering, seperti yang dilakukan pada KM Sangiang di Pelabuhan Bitung, menjadi salah satu wujud nyata dari sinergi tersebut.
Peningkatan Kuota BBM Subsidi untuk PELNI
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menjelaskan bahwa alokasi kuota BBM subsidi kapal penumpang PELNI untuk tahun 2026 telah ditetapkan sebesar 181.431 kiloliter. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar dua persen dibandingkan realisasi pemanfaatan BBM subsidi pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 177.930 kiloliter. Peningkatan kuota BBM subsidi kapal penumpang PELNI ini merupakan langkah antisipatif terhadap kebutuhan operasional.
Kenaikan kuota BBM subsidi ini didasari oleh adanya penambahan satu unit kapal penumpang dalam armada PELNI. Jika pada tahun 2025 PELNI mengoperasikan 25 kapal, maka di tahun 2026 jumlahnya bertambah menjadi 26 kapal yang melayani rute khusus angkutan penumpang. Penambahan armada ini tentu memerlukan pasokan BBM subsidi yang lebih besar untuk menjamin kelancaran jadwal pelayaran.
Wahyudi Anas menegaskan komitmen BPH Migas untuk memastikan ketersediaan BBM. "Sehingga dengan kondisi tersebut kita dapat memastikan, insya Allah kebutuhan BBM tahun 2026 khusus untuk PT PELNI dapat terpenuhi dengan baik," ujarnya. Pernyataan ini memberikan jaminan kepada masyarakat dan pihak PELNI terkait pasokan BBM subsidi kapal penumpang PELNI.
Kolaborasi BPH Migas dan PELNI dalam Pengawasan
BPH Migas dan PELNI tidak hanya berfokus pada penetapan kuota, tetapi juga menjalin kerja sama erat dalam pengawasan pemanfaatan BBM subsidi. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa distribusi dan penggunaan BBM subsidi dapat berjalan secara efisien dan tepat sasaran. Pengawasan ini menjadi krusial, terutama saat periode padat penumpang seperti arus balik Nataru 2025/2026 yang diperkirakan masih berlangsung hingga Kamis (8/1).
Sebagai wujud konkret dari kerja sama ini, BPH Migas dan PELNI melakukan peninjauan bersama atau monitoring proses bunkering. Salah satu kegiatan monitoring tersebut dilakukan pada KM Sangiang di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Proses ini memastikan bahwa pengisian BBM subsidi kapal penumpang PELNI dilakukan sesuai prosedur dan kuota yang telah ditetapkan.
Direktur Utama PT PELNI, Tri Andayani, menyampaikan bahwa monitoring bersama BPH Migas adalah langkah strategis. Hal ini dilakukan untuk memastikan proses bunkering berjalan optimal, terutama selama periode arus balik Nataru 2025/2026. Sinergi ini menunjukkan komitmen kedua belah pihak dalam mendukung kelancaran operasional transportasi laut.
Kesiapan PELNI Menghadapi Puncak Arus dan Operasional
PT PELNI telah melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi periode puncak arus Nataru 2025/2026 dan operasional sepanjang tahun. Kebutuhan BBM untuk 25 kapal penumpang dan 30 kapal perintis selama periode Nataru diperkirakan mencapai 17.000-18.000 kiloliter. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 9-12 persen dibandingkan kebutuhan pada periode reguler, sehingga memastikan pasokan BBM subsidi kapal penumpang PELNI menjadi prioritas.
Dengan total 84 armada yang dimiliki, PELNI mengelola 32 homebase bunkering reguler yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan selama peak season Nataru 2025/2026, PELNI bahkan menambah dua titik bunkering baru. Penambahan titik ini berlokasi strategis di Ambon dan Bitung, guna menjamin ketersediaan BBM subsidi kapal penumpang PELNI di wilayah padat pelayaran.
Melalui kolaborasi yang solid dengan BPH Migas dan berbagai pemangku kepentingan terkait, PELNI berkomitmen penuh untuk memastikan pasokan BBM berjalan lancar. Hal ini tidak hanya penting untuk mendukung kelancaran arus balik Nataru 2025/2026, tetapi juga untuk menjamin keberlangsungan operasional kapal PELNI sepanjang tahun. Upaya ini menunjukkan keseriusan PELNI dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Sumber: AntaraNews