Kenaikan Harga Minyak Dinilai Justru Membawa Berkah ke Emiten Energi
Namun demikian, kondisi ini tidak selalu menguntungkan bagi semua sektor.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai kenaikan harga minyak dunia umumnya membawa sentimen positif bagi emiten di sektor energi. Perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas) maupun jasa penunjang energi berpotensi memperoleh peningkatan pendapatan seiring naiknya harga komoditas tersebut.
"Kenaikan harga minyak dunia umumnya menjadi sentimen positif bagi emiten sektor energi, khususnya yang bergerak di migas dan jasa penunjang energi, karena berpotensi meningkatkan pendapatan," kata Reydi kepada Liputan6.com, Selasa (10/3/2026).
Namun di sisi lain, kondisi ini tidak selalu menguntungkan bagi semua sektor. Industri transportasi dan logistik justru berpotensi menghadapi tekanan karena biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen terbesar dalam operasional mereka.
"Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik cenderung tertekan karena biaya bahan bakar merupakan komponen biaya operasional yang cukup besar," jelasnya.
Energi Berpotensi Diuntungkan, Transportasi Tertekan
Menurut Reydi, apabila tren kenaikan harga minyak dunia berlanjut, emiten sektor energi diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan. Kenaikan harga komoditas akan memberikan dukungan terhadap kinerja keuangan perusahaan, khususnya yang bergerak di sektor migas dan jasa energi.
"Jika tren kenaikan minyak berlanjut, emiten sektor energi seperti migas dan jasa energi berpotensi paling diuntungkan karena harga komoditas yang lebih tinggi mendukung kinerja," ujarnya.
Sebaliknya, sektor yang paling rentan terdampak adalah transportasi dan logistik. Selain itu, beberapa industri manufaktur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi sebagai komponen biaya produksi juga berpotensi mengalami tekanan terhadap kinerja.
Risiko Inflasi dan Dampaknya ke Daya Beli
Lebih lanjut, Reydi mengatakan lonjakan harga minyak juga berpotensi memicu peningkatan inflasi. Hal ini terjadi karena kenaikan biaya energi dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari transportasi hingga produksi barang.
"Jika inflasi naik, daya beli masyarakat bisa tertekan sehingga berisiko memengaruhi kinerja emiten sektor konsumsi," ujarnya.
Selain itu, biaya produksi di sektor manufaktur juga bisa meningkat, sehingga margin perusahaan berpotensi tergerus apabila tidak sepenuhnya dapat dialihkan ke harga jual.