Kementerian Pekerjaan Umum Perkuat Suplai Air Bersih Aceh Tamiang untuk RSUD
Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mempercepat penguatan suplai air bersih Aceh Tamiang, khususnya untuk RSUD, pascabencana. Pembangunan SPAM Karang Baru ditargetkan rampung Juli 2026.
Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mengambil langkah strategis untuk memperkuat suplai air bersih melalui Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karang Baru. Fokus utama upaya ini adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang, yang berlokasi di Provinsi Aceh. Inisiatif ini menjadi prioritas mengingat kebutuhan vital air bersih, terutama bagi fasilitas kesehatan.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa penanganan SPAM Karang Baru adalah prioritas utama pemerintah. “Air bersih adalah kebutuhan mendasar, terlebih untuk rumah sakit,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, Jumat. “Karena itu, Kementerian PU memastikan suplai air tetap terjaga sambil menyiapkan pembangunan permanen agar ke depan sistem ini lebih bagus lagi.”
Kemen PU terus mengakselerasi pemenuhan kebutuhan air bersih pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Percepatan penanganan SPAM Karang Baru dilakukan melalui metode Design and Build, dengan target penyelesaian pembangunan permanen pada Juli 2026. Sementara itu, langkah-langkah darurat telah diimplementasikan untuk menjaga pasokan air.
Akselerasi SPAM Karang Baru untuk Kebutuhan Mendesak
Kementerian Pekerjaan Umum terus mengakselerasi pemenuhan kebutuhan air bersih di Kabupaten Aceh Tamiang setelah bencana melanda wilayah tersebut. Penanganan SPAM Karang Baru menjadi fokus utama dalam upaya pemulihan infrastruktur vital. Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan air bersih yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Metode Design and Build diterapkan untuk mempercepat proses pembangunan secara efisien dan terintegrasi. Ini mencakup pembangunan instalasi pengolahan air (IPA) dan reservoir baru. Pembangunan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas serta keandalan sistem penyediaan air di wilayah tersebut.
Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk konstruksi permanen adalah sekitar enam bulan ke depan. Dengan demikian, diharapkan sistem penyediaan air minum yang lebih baik dapat segera beroperasi. Peran SPAM Karang Baru sangat vital, khususnya bagi operasional RSUD Aceh Tamiang.
Solusi Jangka Pendek dan Pembangunan Permanen
Sambil menanti pembangunan permanen rampung, Kementerian Pekerjaan Umum telah mengambil berbagai langkah penanganan sementara. Ini termasuk perbaikan sarana penyediaan air minum eksisting yang sebelumnya dikelola oleh PDAM Tirta Tamiang. Upaya ini dilakukan untuk meminimalisir gangguan pasokan air.
Optimalisasi pemanfaatan instalasi pengolahan air (IPA) mobile juga dilakukan untuk memastikan ketersediaan air. Langkah ini krusial agar pasokan air bersih, khususnya ke RSUD Aceh Tamiang, tetap terjaga tanpa hambatan selama masa transisi. Kemen PU berkomitmen penuh menjaga layanan esensial.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Dewi Chomistriana, menjelaskan bahwa penanganan SPAM Karang Baru akan dilakukan secara menyeluruh. Peningkatan kapasitas dan kualitas pengolahan air menjadi target utama proyek ini. Pembangunan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah.
Peningkatan Kapasitas dan Penanganan Kekeruhan Air Baku
Dewi Chomistriana merinci rencana pembangunan instalasi pengolahan air baru dengan kapasitas 100 liter per detik. Selain itu, akan dibangun reservoir baru berkapasitas 1.000 meter kubik serta IPA baja yang akan diadakan. Kapasitas ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
Pembangunan reservoir 1.000 meter kubik telah dimulai dengan pelaksanaan pancang perdana, menandai dimulainya fase konstruksi. Target penyelesaian keseluruhan proyek ini adalah pada Juli 2026. Proyek ini diharapkan memberikan solusi jangka panjang.
Untuk mengatasi tingkat kekeruhan air baku yang sangat tinggi pascabencana, Kementerian Pekerjaan Umum akan menambahkan bangunan pra sedimentasi. “Tadi, kita lihat airnya sangat keruh, jauh di atas ambang batas,” kata Dewi. “Karena itu, kami tambahkan tangki pra sedimentasi agar proses pengolahan lebih optimal dan tidak memerlukan bahan kimia berlebihan.”
Dampak Bencana dan Kolaborasi Penanganan
Berdasarkan hasil identifikasi Kementerian Pekerjaan Umum, kerusakan infrastruktur air minum akibat bencana di Provinsi Aceh tercatat pada 52 SPAM. Kerusakan ini tersebar di 11 kabupaten/kota. Skala kerusakan menunjukkan perlunya intervensi cepat dan terkoordinasi.
Total kapasitas air yang terdampak mencapai 2.151 liter per detik, menunjukkan skala kerusakan yang signifikan. Penanganan ini memerlukan pendekatan komprehensif. Dampak bencana ini mempengaruhi ribuan warga dan fasilitas publik.
Penanganan dilakukan secara bertahap, terintegrasi, dan melibatkan kolaborasi erat dengan pemerintah daerah. Keterlibatan pengelola SPAM setempat juga menjadi kunci keberhasilan upaya pemulihan ini. Sinergi antarpihak sangat penting dalam menghadapi tantangan pascabencana.
Sumber: AntaraNews