Kementan Terapkan Metode AWD, Strategi Hemat Air Hadapi Ancaman Godzilla El Nino
Kementan Terapkan Metode AWD untuk efisiensi air irigasi hingga 20 persen. Simak bagaimana teknologi ini menjadi kunci ketahanan pangan di tengah ancaman kekeringan ekstrem “Godzilla El Nino”.
Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah proaktif dalam menghadapi potensi kekeringan ekstrem akibat fenomena "Godzilla El Nino" dengan menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD). Strategi ini bertujuan menghemat penggunaan air irigasi secara signifikan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa mengurangi produktivitas padi. Efisiensi air menjadi krusial di tengah musim kemarau yang tidak menentu.
Teknologi ini merupakan bagian integral dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim nasional. Fokus utamanya adalah pengelolaan sumber daya air yang semakin terbatas demi keberlanjutan produksi pertanian.
Efisiensi Air dan Peningkatan Produktivitas dengan AWD
Metode Alternate Wetting and Drying (AWD) terbukti efektif dalam mengelola ketersediaan air untuk tanaman padi. Pengaturan pemberian air yang terukur memungkinkan tanaman tumbuh optimal meski dalam kondisi terbatas.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa AWD adalah inovasi yang menjawab tantangan musim kemarau. Teknologi ini mengurangi ketergantungan pada penggenangan terus-menerus di sawah.
Pengujian selama enam musim tanam menunjukkan bahwa teknik AWD dapat menekan kelangkaan air di lahan sawah. Bahkan, metode ini mampu menghemat penggunaan air irigasi antara 17-20 persen.
Selain efisiensi air, penerapan AWD juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah, mendukung pertanian berkelanjutan.
Mekanisme Penerapan Metode AWD di Lapangan
Analis BRMP Lingkungan Pertanian Kementan, Ali Pramono, menjelaskan bahwa penerapan AWD melibatkan pengaturan siklus pengairan berdasarkan kelembapan tanah. Sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang penuh.
Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali. Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon yang dibenamkan di sawah.
Pipa paralon berdiameter 10-15 cm dan panjang 30-100 cm ini dilubangi dan dibungkus kain kassa, kemudian ditanam hingga 10-20 cm di atas permukaan tanah. Alat ini berfungsi seperti piezometer sederhana untuk memantau kedalaman air.
Pengairan kembali umumnya dilakukan saat muka air dalam pipa turun hingga 10-15 cm di bawah permukaan tanah. Air kemudian diberikan dalam jumlah terbatas, sekitar 3-5 cm, untuk menjaga kelembapan tanah.
Strategi Adaptasi Iklim dan Ketahanan Pangan
Siklus pengairan AWD dilakukan secara berulang dengan penyesuaian kondisi lahan dan cuaca. Ketersediaan air tetap terjaga pada fase kritis pertumbuhan padi, seperti pemupukan, penyiangan, hingga fase bunting-berbunga.
Ali Pramono menambahkan bahwa AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi air, tetapi juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah. Hal ini membuat tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil.
Metode ini merupakan bagian dari strategi pertanian cerdas iklim (climate smart agriculture) yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan. Tujuannya adalah menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan air pada musim kemarau.
Kementan telah mengadaptasi teknologi AWD dari International Rice Research Institute (IRRI) sejak tahun 2013. Teknologi ini dikembangkan IRRI pada tahun 2009 sebagai solusi adaptif untuk petani.
Sumber: AntaraNews