InJourney Siap Luncurkan Transformasi Grand Hotel De Djokja, Bangkitkan Nuansa Sejarah 1911
InJourney akan meluncurkan transformasi Grand Hotel De Djokja di Malioboro tahun ini. Proyek ini bertujuan mengembalikan nuansa hotel ke tahun 1911, menjadikannya ikon wisata baru yang menarik.
Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, berencana meluncurkan hasil transformasi Grand Hotel De Djokja tahun ini. Hotel warisan ini berlokasi strategis di Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan bahwa Grand Hotel De Djokja memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi sejak tahun 1911. Bahkan, Jenderal Sudirman pernah menjadikan hotel tersebut sebagai markasnya di masa lalu.
Peluncuran hotel ini diharapkan dapat menjadi ikon wisata baru pada tahun 2026. Hal ini sejalan dengan upaya InJourney dalam melakukan transformasi pada beberapa bandara besar di Indonesia.
Mengembalikan Kejayaan Sejarah Grand Hotel De Djokja
InJourney memiliki ambisi besar untuk mengembalikan suasana Grand Hotel De Djokja ke era tahun 1911, meniru konsep sukses seperti Hotel Raffles di Singapura. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen InJourney dalam melestarikan budaya dan warisan sejarah Indonesia.
Maya Watono menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar renovasi, melainkan sebuah restorasi yang mendalam untuk menghidupkan kembali esensi historis hotel. Setiap detail akan diperhatikan agar pengunjung dapat merasakan kembali kejayaan masa lalu.
Transformasi ini diharapkan tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara yang mencari pengalaman menginap dengan nilai sejarah dan budaya yang kental. Hal ini sejalan dengan visi InJourney untuk memperkuat sektor pariwisata nasional.
Target Peluncuran dan Dampak Pariwisata
InJourney menargetkan Grand Hotel De Djokja dapat melakukan soft launch pada momen Lebaran yang diperkirakan jatuh pada bulan Maret 2026. Target waktu ini dipilih untuk memaksimalkan potensi kunjungan wisatawan selama periode liburan panjang.
Maya Watono berharap peluncuran hotel ini akan menjadi ikon wisata baru yang signifikan di tahun 2026, melengkapi daya tarik pariwisata Yogyakarta. Kehadiran hotel dengan nuansa sejarah yang kuat ini diharapkan dapat meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung.
Transformasi ini juga merupakan bagian dari strategi InJourney yang lebih luas untuk mengembangkan destinasi pariwisata unggulan. Dengan menghadirkan pengalaman unik, Grand Hotel De Djokja diproyeksikan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal dan nasional.
Ambisi InJourney dalam Transformasi Infrastruktur Pariwisata
Selain fokus pada hotel bersejarah, InJourney juga menyampaikan ambisinya untuk mentransformasi atau memodifikasi lima bandara besar di Indonesia. Transformasi ini akan mengusung konsep budaya dan alam, menciptakan pengalaman yang lebih otentik bagi para pelancong.
Meskipun belum mengumumkan secara spesifik bandara mana saja yang akan ditransformasikan, Maya Watono memberi bocoran bahwa proyek ini akan mencakup lima bandara terbesar di Indonesia. Hal ini menunjukkan skala besar dari rencana pengembangan infrastruktur pariwisata oleh InJourney.
Beberapa bandara yang disebut-sebut termasuk Bandara Internasional Juanda di Surabaya sebagai bandara ketiga terbesar, serta Bandara Kualanamu. Transformasi ini tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan kualitas layanan.
Sumber: AntaraNews