Indonesia Paling Banyak Impor Kurma dari Mesir
Menjelang bulan Ramadan tren impor kurma mulai terjadi, khususnya dari Mesir.
Menjelang bulan suci Ramadan, permintaan kurma di Indonesia semakin meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Januari 2025, impor kurma mencapai 16,43 ribu ton dengan nilai sebesar USD20,68 juta.
Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan Mesir menjadi negara pemasok terbesar dengan total impor mencapai 10,15 ribu ton atau sekitar 61,8 persen dari keseluruhan impor kurma Indonesia. Sementara itu, Arab Saudi menyumbang 1,88 ribu ton atau 11,42 persen, diikuti oleh Uni Emirat Arab dengan 1,76 ribu ton atau 10,71 persen.
"Tren impor kurma yang dalam beberapa bulan terakhir ini sudah mulai terlihat persiapannya menjelang periode Ramadan dan Lebaran Setelah melihat perkembangan ekspor dan impor," ujar Amalia dalam konferensi pers, Senin (17/2).
Sebagaimana diketahui, BPS mencatat nilai impor Indonesia per Januari 2025 mencapai USD18 miliar atau turun 15,18 persen secara bulanan (month to month/mtm) persen dibandingkan dengan Desember 2024. Adapun Impor migas senilai USD2,48 miliar, turun 24,69 persen. Sedangkan Impor migas senilai USD2,48 miliar, turun 24,69 persen.
Amalia, menjelaskan penurunan nilai impor secara bulanan ini didorong oleh penurunan nilai impor non migas sebesar 11,34 persen dan juga penurunan nilai impor migas sebesar 3,84 persen.
"Secara tahunan, nilai impor Januari 2025 menurun 2,67 persen. dan nilai impor migas turun 7,99 persen. Sementara non migas turun sebesar 1,76 persen," tutur Amalia.
Secara bulanan, nilai impor barang konsumsi turun sebesar 28,65 persen, bahan baku penolong ini menyumbang setidaknya 72,43 persen dari total impor Januari 2025. Sementara itu secara tahunan, nilai impor barang konsumsi turun 7,16 perse Bahan baku penolong turun 3,15 persen, sedangkan barang modal naik impornya sebesar 1,74 persen.
"Impor menurut penggunaan Pada Januari 2025, seluruh jenis penggunaan barang impor mengalami penurunan secara bulanan. Secara tahunan, terjadi penurunan pada impor barang konsumsi dan bahan baku penolong, namun impor barang modal masih meningkat," jelas dia.