Data BPS: Impor November 2025 Naik 0,46 Persen
Pada November 2025, terjadi penurunan impor untuk golongan penggunaan barang konsumsi dan bahan baku atau penolong secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor pada November 2025 mencapai USD 19,86 miliar atau meningkat 0,46 persen secara tahunan atau dibandingkan November 2024.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini merinci, untuk nilai impor migas sebesar USD 2,86 miliar atau meningkat 11,19 persen secara tahunan. Sementara itu, impor non-migas senilai USD 17,00 miliar mengalami penurunan secara tahunan sebesar 1,15 persen.
"Peningkatan impor secara tahunan didorong oleh peningkatan impor migas dengan andil sebesar 1,46 persen," kata Pudji dalam Konferensi Pers BPS, Senin (5/1).
Pada November 2025, terjadi penurunan impor untuk golongan penggunaan barang konsumsi dan bahan baku atau penolong secara tahunan.
Secara tahunan nilai impor barang konsumsi turun sebesar 1,76 persen, kemudian nilai impor bahan baku penolong turun sebesar 3,56 persen. Sementara itu, nilai impor barang modal sebagai pendorong utama kenaikan impor naik sebesar 17,27 eprsen dengan andil 3,18 persen.
Kinerja Impor Januari - November 2025
Adapun secara kumulatif atau sepanjang Januari - November 2025, total nilai impor mencapai USD 218,02 miliar atau naik 2,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Nilai impor migas tercatat senilai USD 29,42 miliar atau turun 10,81 eprsen. Nilai impor nonmigas tercatat senilai USD 188,61 miliar atau naik 4,37 eprsen," ujarnya.
Jika dilihat menurut penggunaan. Secara kumulatif peningkatan nilai impor terjadi pada barang modal, sebagai penyumbang utama barang impor, nilai impor barang modal mencapai USD 44,81 miliar atau naik 18,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan memberikan andil peningkatan 3,28 persen.
Impor Barang Modal
Pudji menjelaskan, impor barang modal yang naik cukup besar yaitu mesin peralatan mekanis dan bagiannya atau HS84, mesin perlengkapan elektrik dan bagiannya atau HS85, serta kendaraan udara dan bagiannya atau HS88.
Sedangkan impor bahan baku penolong turun 1,46 persen menjadi USD 153,20 miliar. Begitupula pada impor barang konsumsi yang mengalami penurunan sebesar 2,02 persen menjadi USD 20,01 miliar.
"Jika dilihat menurut negara dan tujuan negara asal impor. Maka peningkatan nilai impor terjadi dengan China dan Amerika Serikat. Sementara itu, impro dari Jepang, negara ASEAN, dan Uni Eropa mengalami penurunan," pungkasnya.