Harga Emas Anjlok Lebih dari 10% Reaksi Penunjukan Ketua Baru The Fed
Harga emas internasional anjlok lebih dari 10% setelah pasar bereaksi terhadap calon Ketua The Fed yang baru serta penguatan nilai dolar AS.
Harga emas dunia mengalami penurunan drastis pada perdagangan Jumat, setelah pasar bereaksi terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru oleh Presiden Donald Trump. Reaksi ini menurunkan kekhawatiran investor mengenai independensi bank sentral AS dan menyebabkan penguatan dolar yang signifikan.
Menurut laporan dari CNBC pada Sabtu (31/1), harga emas spot tercatat turun sekitar 9% menjadi USD 4.895,22 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas ditutup lebih rendah, yaitu 11,4% di posisi USD 4.745,10 per ons.
Tekanan pada pasar logam mulia muncul segera setelah berita pencalonan Warsh menyebar. Penurunan harga semakin dalam pada sesi perdagangan AS, di mana banyak investor melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan panjang harga emas sebelumnya.
Penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor dari luar negeri, sehingga permintaan menjadi menurun. Selain itu, penguatan dolar melemahkan anggapan bahwa logam mulia dapat berfungsi sebagai pengganti dolar dalam posisi mata uang cadangan global.
Indeks dolar AS terakhir tercatat naik sekitar 0,8% pada perdagangan hari yang sama. Perak juga mengalami penurunan yang signifikan, meskipun perhatian utama pelaku pasar tetap terfokus pada penurunan besar harga emas.
Logam Mulia Bergerak Ekstrem
Matt Maley, seorang strategist dari Miller Tabak, menilai bahwa pergerakan pasar logam mulia saat ini berada dalam kondisi yang sangat ekstrem. "Ini sudah jadi gila. Sebagian besar kemungkinan adalah aksi jual paksa. Aset ini sangat populer di kalangan trader harian dan trader jangka pendek. Ada banyak posisi leverage yang terbangun. Dengan penurunan besar hari ini, margin call langsung terjadi."
Sebelumnya, pasar sempat menganggap Kevin Hassett sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Jerome Powell. Namun, dalam beberapa hari terakhir, nama Kevin Warsh justru muncul sebagai pemimpin dalam prediksi pasar.
Krishna Guha dari Evercore ISI berpendapat bahwa pasar melihat Warsh sebagai sosok yang cenderung menerapkan kebijakan moneter yang ketat.
"Penunjukan Warsh seharusnya membantu menstabilkan dolar dan mengurangi meski tidak menghilangkan risiko pelemahan dolar yang dalam dan berkepanjangan. Itu juga yang menjelaskan mengapa emas turun tajam."
Meskipun demikian, Guha mengingatkan para investor agar tidak bereaksi secara berlebihan terhadap asumsi bahwa Warsh pasti akan sangat hawkish. "Kami melihat Warsh sebagai pragmatis, bukan hawk ideologis seperti bankir sentral konservatif independen pada umumnya."
Sepanjang tahun 2025, harga emas mengalami lonjakan yang signifikan, dengan peningkatan sekitar 66% dalam setahun. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik, fluktuasi pasar, serta kekhawatiran terhadap kebijakan moneter di Amerika Serikat. Claudio Wewel, analis valas dari J. Safra Sarasin Sustainable Asset Management, menyatakan bahwa kenaikan harga emas sebelumnya didorong oleh kombinasi faktor-faktor geopolitik dan spekulasi mengenai kepemimpinan di Federal Reserve.
Dia menjelaskan bahwa pasar sebelumnya memperkirakan adanya kemungkinan ketua The Fed yang lebih dovish, yang biasanya akan mendukung kenaikan harga emas. Namun, informasi terbaru telah mengubah ekspektasi tersebut.
Di sisi lain, Toni Meadows dari BRI Wealth Management berpendapat bahwa lonjakan harga emas hingga menembus USD 5.000 terjadi terlalu cepat.
"Pembelian bank sentral mendorong reli jangka panjang, tetapi dalam beberapa bulan terakhir mulai berkurang." Meskipun demikian, alasan untuk diversifikasi cadangan devisa masih tetap ada, terutama karena kebijakan perdagangan dan langkah-langkah geopolitik AS membuat banyak negara berhati-hati dalam memegang aset dolar.
Analis lainnya juga mengingatkan bahwa jika terlalu banyak investor berkumpul di satu aset, maka kemungkinan terjadinya koreksi tajam bisa meningkat. Katy Stoves, manajer investasi di Mattioli Woods, menambahkan, "Ketika semua orang berada di sisi posisi yang sama, bahkan aset yang bagus pun bisa terkoreksi saat posisi dilepas."