ExxonMobil Minta Bagi Hasil Blok Cepu Naik, Bahlil Masih Hitung
Adapun berdasarkan kontrak eksisting, pengelolaan blok minyak ini akan berakhir pada 2035, dan berencana diperpanjang 20 tahun hingga 2055.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia masih melakukan negosiasi dengan ExxonMobil terkait perpanjangan kontrak bagi hasil, atau production sharing contract (PSC) di Blok Cepu.
"Perpanjangan Exxon sekarang lagi dalam negosiasi. Negosiasi mereka ini kan mereka sistemnya itu adalah cost recovery," ujar Bahlil saat ditemui di kantornya, Jakarta, dikutip Rabu (4/3).
Adapun berdasarkan kontrak eksisting, pengelolaan blok minyak ini akan berakhir pada 2035, dan berencana diperpanjang 20 tahun hingga 2055.
"Nah, dari 2035 itu karena mereka menemukan beberapa sumber-sumber baru lagi, maka ada keinginan untuk memperpanjang," imbuh Bahlil.
Secara komposisi kepemilikan, ExxonMobil melalui ExxonMobil Cepu Ltd sebagai operator memegang 45 persen saham. Sementara PT Pertamina EP Cepu menguasai 45 persen, dan 10 persen sisa milik Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu (BUMD dan pemerintah daerah).
"Sekarang dalam tahap negosiasi terhadap sharing-nya, berapa yang hak mereka, berapa yang hak pemerintah. Kita belum ketemunya disitu, tapi secara prinsip yang lain sudah kita ketemu," kata Bahlil.
Di luar keuntungan ExxonMobil sebagai operator, Bahlil juga ingin mengutamakan pendapatan negara. Oleh karenanya, ia menilai accounting rate of return (ARR) dalam proyek ini sudah maksimal di level 20 persen. "Jadi saya lagi menghitung mana yang menguntungkan untuk negara. Sudah barang tentu mereka juga harus untung, win-win dong," ungkap Bahlil.
"Tapi kita harus lebih maksimal. Kalau ARR-nya di atas 20 persen, masa mintanya lebih gede. Yang benar aja," dia menegaskan.
Target Dongkrak Produksi di 2026
Jauh sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah meminta ExxonMobil Cepu Ltd untuk meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 150.000 barel minyak per hari (BOPD) pada 2026.
Permintaan itu selaras dengan angka produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan. Sehingga upaya peningkatan produksi minyak nasional menjadi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
"Saat ini, tingkat produksi minyak nasional sekitar 577 ribu BOPD. Dari jumlah tersebut, Blok Cepu masih memberikan kontribusi sekitar 144 ribu BOPD, menjadikannya salah satu yang terbesar secara nasional," ujar Bahlil saat berbincang dengan jajaran manajemen, insinyur, dan operator Blok Cepu di Bojonegoro, Jawa Timur beberapa waktu lalu.
Target Produksi 150.000 BOPD
Bahlil menekankan pentingnya upaya peningkatan produksi untuk menekan defisit minyak yang saat ini terjadi. Ia meminta Presiden Direktur ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Carole Gall, untuk menaikkan target produksi dari 125.000 BOPD pada 2026 menjadi 150 ribu BOPD.
"Exxon menargetkan 125 ribu barel untuk 2026. Tapi saya punya keyakinan, dengan sistem manajemen, etos kerja, dan kreativitas tim Exxon di lapangan, ExxonMobil harus bisa mencapai di atas 150 ribu barel per hari pada tahun 2026 untuk mengurangi defisit lifting kita," pinta Bahlil.
Ditegaskan Bahlil, pemerintah saat ini maupun di bawah presiden terpilih Prabowo Subianto, mendukung penuh peningkatan produksi minyak ini karena berdampak besar bagi penerimaan negara dan cadangan devisa.
"Negara kita membutuhkan dukungan dari perusahaan-perusahaan berpengalaman untuk meningkatkan produksinya. Presiden terpilih, Pak Prabowo, memerintahkan saya untuk menyelesaikan masalah lifting minyak ini, karena peningkatan lifting pasti akan meningkatkan pendapatan negara dan mengurangi impor," tuturnya.