Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Menguat Berkat Program Pemerintah dan Reformasi Struktural
Kepala Ekonom Citibank memproyeksikan Ekonomi Indonesia 2026 akan tumbuh lebih solid didukung program pemerintah, namun reformasi struktural kunci keberlanjutan.
Perekonomian Indonesia diproyeksikan akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih solid pada tahun 2026. Prediksi optimis ini disampaikan oleh Kepala Ekonom Citibank N.A., Indonesia, Helmi Arman, yang melihat realisasi program pemerintah sebagai pendorong utama.
Menurut Helmi Arman, momentum positif ini akan didukung oleh belanja pemerintah yang lebih ekspansif serta kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar. Hal ini diharapkan dapat memberikan ruang gerak bagi sektor-sektor ekonomi yang sangat bergantung pada pembiayaan.
Proyeksi ini muncul di tengah harapan akan adanya dorongan signifikan dari program-program pemerintah yang berorientasi sosial. Sektor-sektor yang melayani segmen menengah ke bawah diperkirakan akan mendapatkan dukungan kuat, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Program Pemerintah dan Kebijakan Fiskal-Moneter Sebagai Pendorong
Helmi Arman menjelaskan bahwa tahun depan akan menjadi periode yang menguntungkan bagi perekonomian nasional. "Dengan realisasi yang semakin baik untuk program-program pemerintah dan program-program ini banyak yang berorientasi sosial, jadi seharusnya sektor-sektor yang melayani segmen-segmen menengah ke bawah harusnya lebih ada support (dorongan) tahun depan," kata Helmi Arman di Jakarta.
Dukungan dari belanja pemerintah yang lebih ekspansif diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi. Selain itu, penurunan suku bunga yang diantisipasi akan memberikan kelonggaran bagi dunia usaha untuk mengakses pembiayaan, memicu investasi dan konsumsi.
Kombinasi antara kebijakan fiskal yang proaktif dan kebijakan moneter yang akomodatif menjadi fondasi utama proyeksi pertumbuhan ini. Kebijakan-kebijakan ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Urgensi Reformasi Struktural untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Meskipun demikian, Helmi Arman menegaskan bahwa dorongan dari kebijakan fiskal dan moneter saja tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional. Batas defisit anggaran sebesar 3 persen dan ketatnya arus modal ke pasar obligasi membatasi ruang gerak kedua kebijakan tersebut.
Oleh karena itu, reformasi struktural perlu dipercepat guna memastikan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan secara berkelanjutan. Investasi harus menjadi motor utama untuk pertumbuhan jangka panjang yang stabil dan kuat.
"Yang perlu dipacu lagi sekarang adalah kebijakan-kebijakan struktural yang memperbaiki kemudahan berusaha. Investasi harus menjadi key driver (motor utama) untuk sustainable growth (pertumbuhan yang berkelanjutan)," jelas Helmi.
Pemerintah perlu kembali fokus memperkuat kebijakan struktural, termasuk pengurangan hambatan perdagangan dan penyederhanaan regulasi usaha. Langkah-langkah ini krusial untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berkelanjutan di tengah perlambatan investasi global.
Belajar dari Vietnam dan Pentingnya Kepercayaan Investor
Helmi Arman mencontohkan langkah agresif Vietnam dalam melakukan reformasi birokrasi dan investasi. Penyederhanaan kementerian dan pemerintahan daerah, serta percepatan pembangunan infrastruktur, telah menjadikan Vietnam salah satu penerima investasi asing (FDI) terbesar di kawasan ASEAN.
Reformasi tersebut menempatkan Vietnam sebagai pesaing utama Indonesia dalam menarik minat investor global. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan struktural yang efektif memiliki dampak langsung pada daya tarik investasi suatu negara.
Untuk meningkatkan keyakinan investor, Indonesia perlu memperbanyak kebijakan yang mendukung kemudahan berusaha dan kepastian investasi. "Jadi kebijakan-kebijakan yang seperti itu yang dibutuhkan kalau mau menaikkan confidence (keyakinan) investor, kebijakan seperti itu perlu lebih diperbanyak kalau mau sustain (mempertahankan) pertumbuhan," ujarnya.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,04 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan III-2025, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp6.060,0 triliun.
Sumber: AntaraNews