Donggala, Produsen Tuna Terbesar, Dorong Hilirisasi Tuna Lokal Bersama BBP3KP
Pemkab Donggala dan BBP3KP sepakat tingkatkan hilirisasi tuna lokal, menjadikan Donggala pusat industri pengolahan tuna mandiri dan penyuplai IKN. Bagaimana strateginya?
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala, Sulawesi Tengah, bersama Balai Besar Pengujian, Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) telah mencapai kesepakatan penting. Kesepakatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan menguatkan hilirisasi tuna lokal di wilayah tersebut. Langkah strategis ini diharapkan dapat membawa transformasi signifikan bagi Kabupaten Donggala.
Kerja sama ini memiliki visi menjadikan Donggala sebagai pusat industri pengolahan tuna yang mandiri, mengingat daerah ini dikenal sebagai penghasil tuna terbesar di Indonesia. Melalui hilirisasi, diharapkan dapat memperkuat sektor ekonomi masyarakat lokal. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan menjaga stabilitas pangan di daerah tersebut.
Kepala BBP3KP Rahmadi Sunoko menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat, dalam mendukung pengembangan sektor perikanan. Kerja sama ini merupakan langkah awal dalam menyusun program jangka pendek dan menengah. Program-program tersebut akan mendukung industri pengolahan hasil laut di Donggala secara berkelanjutan.
Mendorong Donggala sebagai Pusat Industri Tuna Mandiri
Rahmadi Sunoko menyatakan bahwa kerja sama ini bertujuan mentransformasi Kabupaten Donggala sebagai daerah penghasil tuna terbesar di Indonesia. "Jadi Donggala ini ke depan kita dorong menjadi pusat industri pengolahan tuna yang mandiri," kata Rahmadi saat ditemui awak media di Banawa pada Minggu.
Beliau juga menyoroti pentingnya keterlibatan semua pihak, baik pemerintah daerah maupun pusat, untuk memberikan perhatian besar pada pengembangan sektor perikanan. Kerja sama ini menjadi fondasi awal dalam merancang program-program yang mendukung industri pengolahan hasil laut. Program tersebut mencakup perencanaan jangka pendek dan menengah.
Hilirisasi tuna lokal di Donggala diharapkan mampu memperkuat sektor ekonomi masyarakat secara signifikan. Selain itu, pengolahan tuna yang lebih baik juga akan menjaga stabilitas pangan di daerah tersebut. Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini.
Rahmadi menambahkan bahwa pengolahan yang baik dapat menjaga suplai ikan, sehingga ikan tidak lagi menjadi pemicu inflasi daerah di masa mendatang. Hal ini menunjukkan dampak positif hilirisasi terhadap stabilitas harga komoditas pangan. Dukungan KKP menjadi kunci keberhasilan program ini.
Potensi Besar Tuna Donggala dan Dukungan Nasional
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, mengungkapkan bahwa potensi ikan tangkap di wilayahnya sangat besar, mencapai 193.200 ton per tahun. "Nilai produksi potensi ikan di Donggala sebesar Rp5,4 triliun," kata Vera.
Kekayaan ikan di Selat Makassar, khususnya di Donggala, sebagian besar merupakan jenis ikan tuna. Potensi melimpah ini menjadi dasar kuat bagi pengembangan industri pengolahan. Pemkab Donggala berkomitmen penuh untuk memanfaatkan sumber daya ini.
Vera Elena Laruni memastikan komitmen Pemkab Donggala untuk terus berupaya menstabilkan harga jual ikan, baik di perkotaan maupun di pelosok. Upaya ini bertujuan agar potensi sumber daya ikan memberikan nilai ekonomi maksimal bagi masyarakat, terutama para nelayan lokal.
Rahmadi menjelaskan bahwa lokasi Kabupaten Donggala yang dekat dan strategis dari Ibu Kota Negara (IKN) juga menjadi nilai tambah. "Harapannya di masa mendatang Kabupaten Donggala dapat menjadi lumbung ikan yang bisa mendukung pasokan pangan laut untuk IKN dan wilayah sekitarnya," ujarnya.
Strategi Penguatan Ekonomi dan Konektivitas Ekspor
Pemerintah daerah memiliki potensi besar dalam menjalin konektivitas untuk ekspor tuna segar. Rahmadi Sunoko melihat peluang ini sebagai langkah penting untuk meningkatkan nilai jual produk perikanan Donggala. Potensi ekspor ini akan membuka pasar yang lebih luas.
Untuk mewujudkan ekspor tuna segar, Rahmadi menyatakan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Koordinasi akan dilakukan dengan Angkasa Pura, Imigrasi, dan lembaga lain agar tuna segar dari Donggala bisa dikirim langsung ke Jepang. Konektivitas yang terbangun baik menjadi kunci utama.
Penguatan hilirisasi ini tidak hanya berfokus pada volume produksi, tetapi juga pada peningkatan nilai tambah bagi nelayan. Dengan pengolahan yang lebih maju, nelayan diharapkan mendapatkan harga yang lebih stabil dan menguntungkan. Ini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Secara keseluruhan, kerja sama ini merupakan upaya komprehensif untuk mengoptimalkan potensi perikanan Donggala. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem industri tuna yang mandiri, berdaya saing global, dan memberikan dampak positif. Dampak tersebut mencakup ekonomi, sosial, dan lingkungan di tingkat lokal maupun nasional.
Sumber: AntaraNews