DIY Siapkan Ribuan Becak Kayuh Bertenaga Alternatif Gantikan Bentor, Solusi Malioboro Lebih Nyaman dan Ramah Lingkungan
Pemerintah DIY berencana mengganti bentor dengan ribuan becak kayuh bertenaga alternatif untuk menata transportasi di Malioboro, demi kenyamanan dan kawasan rendah emisi.
Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah mempersiapkan langkah strategis untuk menata transportasi tradisional di wilayahnya. Rencana utama adalah penambahan signifikan jumlah becak kayuh bertenaga alternatif. Langkah ini diambil untuk secara bertahap menggantikan becak motor (bentor) yang populasinya dinilai telah melebihi kapasitas, terutama di area padat seperti Malioboro.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menjelaskan bahwa rencana ini telah disampaikan kepada pemerintah pusat dan berbagai pihak terkait. Pemda DIY aktif menjalin komunikasi dengan lembaga maupun negara yang memiliki perhatian pada konsep low emission zone. Tujuannya adalah untuk mendapatkan dukungan dalam pengadaan armada becak yang lebih ramah lingkungan ini.
Hingga saat ini, sekitar 90 unit becak kayuh bertenaga alternatif telah beroperasi di DIY, dan jumlah ini akan terus ditingkatkan. Kebijakan ini tidak hanya berfokus pada kenyamanan dan estetika kota, tetapi juga diarahkan untuk menjamin keamanan pengguna jalan. Selain itu, inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen DIY untuk mendukung terwujudnya kawasan rendah emisi.
Penataan Transportasi Tradisional Demi Kenyamanan Kota
Penataan transportasi tradisional di Yogyakarta menjadi prioritas Pemda DIY mengingat jumlah bentor yang terus bertambah. Made menjelaskan bahwa Dinas Perhubungan DIY telah lama melakukan konsolidasi dengan paguyuban bentor terkait penertiban ini. Kebijakan ini bukan bertujuan menghilangkan mata pencarian, melainkan menata agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan dan kesemrawutan di pusat kota.
“Bukan kami bermaksud menghilangkan pekerjaan mereka, tapi menata. Penataan ini bisa soal modanya, layanannya, maupun jumlahnya. Karena kalau sudah over seperti saat ini, tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan, akan semrawut,” ujar Made.
Pada pendataan terakhir selama pandemi COVID-19, tercatat sekitar 2.000 unit bentor beroperasi di DIY. Angka ini diyakini telah meningkat pascapandemi, sehingga penertiban menjadi krusial. Penataan ini diharapkan dapat menjaga agar kawasan ikonik seperti Malioboro tetap nyaman bagi penduduk lokal maupun wisatawan yang berkunjung.
Made menambahkan bahwa setiap kawasan, termasuk Malioboro, memiliki kapasitas tertentu untuk kendaraan. Kapasitas ini mencakup berbagai jenis becak, mulai dari bentor, becak kayuh konvensional, hingga becak kayuh bertenaga alternatif yang menjadi fokus pengembangan saat ini.
Mendorong Kawasan Rendah Emisi dan Solusi Ramah Lingkungan
Visi Pemda DIY untuk menciptakan kawasan rendah emisi (low emission zone) menjadi salah satu pendorong utama dalam kebijakan penggantian bentor dengan becak kayuh bertenaga alternatif. Becak jenis ini dianggap lebih sesuai dengan citra Yogyakarta sebagai kota budaya yang ramah lingkungan. Aspek kenyamanan dan estetika kota juga menjadi pertimbangan penting dalam implementasi kebijakan ini.
Upaya menghadirkan becak bertenaga alternatif ini telah dimulai sejak tahun 2020. Pemda DIY berupaya menyediakan solusi yang memungkinkan pengemudi becak tetap bekerja tanpa kelelahan fisik berlebih, sekaligus memastikan moda transportasi yang digunakan ramah lingkungan. Hal ini juga menjadi jawaban atas persoalan lain, di mana tidak semua pengemudi bentor memiliki KTP DIY.
“Kita sudah berusaha dari tahun 2020-an, bagaimana agar ada becak yang tetap digenjot tapi sudah tidak capek lagi. Dan persoalan lainnya, tidak semua bentor itu ber-KTP DIY,” jelas Made. Pemda DIY membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga donor dan negara pemerhati lingkungan, untuk mempercepat pengadaan armada becak ramah lingkungan ini dan mewujudkan visi transportasi berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews