Dampak Cuaca Ekstrem: Kunjungan Wisatawan Pariaman Merosot Tajam, Pendapatan Daerah Terpukul
Pemkot Pariaman mengungkapkan Kunjungan Wisatawan Pariaman merosot tajam dari ribuan menjadi puluhan orang, imbas cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman, Sumatera Barat, mengumumkan penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan ke berbagai objek wisata di daerahnya. Fenomena ini terjadi dalam dua pekan terakhir, setelah cuaca ekstrem melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Penurunan ini berdampak signifikan pada pendapatan daerah dan perekonomian masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Ferialdi, menjelaskan bahwa jumlah pengunjung anjlok dari ribuan orang setiap akhir pekan menjadi hanya puluhan orang. Kondisi cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana dan terputusnya akses jalan menjadi penyebab utama merosotnya sektor pariwisata ini. Pemkot Pariaman berharap cuaca segera membaik agar kunjungan wisatawan dapat pulih kembali.
Sebelumnya, objek wisata di Pariaman selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara. Namun, kini suasana sepi mendominasi, dengan retribusi yang terkumpul hanya mencapai ratusan ribu rupiah. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap sektor pariwisata yang menjadi salah satu penggerak ekonomi utama Kota Tabuik.
Penurunan Drastis Kunjungan dan Pendapatan Pariwisata Pariaman
Dampak cuaca ekstrem terhadap kunjungan wisatawan Pariaman sangat terasa pada data retribusi yang dikumpulkan. Ferialdi mengungkapkan bahwa pada kondisi normal, setiap Sabtu objek wisata di Pariaman mampu menarik 800 hingga 1.000 pengunjung. Dari jumlah tersebut, pendapatan daerah dari retribusi bisa mencapai Rp4 juta sampai Rp5 juta.
Angka ini bahkan melonjak pada hari Minggu, dengan kunjungan wisatawan mencapai 1.400 hingga 2.000 orang. Pendapatan retribusi yang dihasilkan pada hari Minggu pun lebih tinggi, berkisar antara Rp7 juta sampai Rp10 juta. Angka-angka ini menunjukkan potensi besar sektor pariwisata sebelum terganggu oleh faktor alam.
Namun, kondisi berbalik 180 derajat pasca-cuaca ekstrem. Retribusi dari sektor pariwisata pada akhir pekan hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Bahkan, minggu lalu tercatat hanya 53 wisatawan yang berkunjung, dan sebagian besar dari mereka datang menggunakan kereta api. Penurunan kunjungan wisatawan Pariaman ini menjadi pukulan telak bagi pendapatan asli daerah.
Cuaca Ekstrem dan Akses Jalan Terputus Pukul Sektor Wisata
Penyebab utama anjloknya kunjungan wisatawan Pariaman adalah cuaca ekstrem yang melanda wilayah Sumatera Barat. Cuaca buruk ini terjadi pada akhir November 2025, menyebabkan bencana di berbagai daerah. Akibatnya, akses jalan di sejumlah titik di Sumatera Barat terputus, mempersulit mobilitas wisatawan menuju Pariaman.
Ferialdi menegaskan bahwa kondisi ini berdampak besar pada pariwisata di Pariaman. Sektor pariwisata merupakan salah satu penggerak utama perekonomian daerah yang dikenal sebagai Kota Tabuik. Terputusnya akses dan kondisi cuaca yang tidak menentu membuat wisatawan enggan untuk melakukan perjalanan.
Sebelumnya, objek wisata di Pariaman selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun internasional. Ribuan orang biasanya memadati destinasi wisata setiap akhir pekan, memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi lokal. Kondisi ini kini berbanding terbalik, menciptakan tantangan besar bagi Pemkot dan pelaku usaha pariwisata.
Upaya Pemkot dan Harapan Pemulihan Ekonomi Lokal
Menyikapi kondisi tersebut, Pemkot Pariaman sempat tidak menarik retribusi masuk ke objek wisata selama masa tanggap darurat bencana. Hal ini dilakukan mengingat kunjungan wisatawan sangat minim dan beberapa titik di daerah itu mengalami banjir. Kebijakan ini menunjukkan respons cepat Pemkot terhadap situasi darurat.
Melihat cuaca yang mulai membaik, Pemkot Pariaman kembali memberlakukan pemungutan retribusi masuk objek wisata sejak dua pekan lalu. Meskipun demikian, kondisi cuaca masih belum sepenuhnya stabil, dengan sesekali hujan masih mengguyur daerah tersebut. Hal ini menjadi salah satu faktor yang masih menghambat pemulihan kunjungan wisatawan Pariaman.
Pihak Pemkot sangat berharap cuaca segera kembali normal dan akses jalan dapat berfungsi seperti sedia kala. Penurunan kunjungan wisatawan tidak hanya berdampak pada pendapatan daerah, tetapi juga secara langsung memengaruhi perekonomian warga. Banyak masyarakat menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata, mulai dari pedagang kecil hingga penyedia jasa wisata.
Sumber: AntaraNews