Kunjungan Wisatawan Bantul 2025 Capai 1,8 Juta Orang, Pendapatan Pariwisata Tak Sesuai Target
Kunjungan wisatawan Bantul sepanjang 2025 mencapai 1,8 juta orang, namun target pendapatan pariwisata belum terealisasi penuh. Simak penyebab penurunannya!
Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat adanya pergerakan signifikan dalam sektor pariwisata sepanjang tahun 2025. Sebanyak 1,8 juta wisatawan telah berkunjung ke berbagai destinasi wisata di wilayah tersebut. Angka ini menunjukkan daya tarik Bantul sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia.
Meskipun demikian, realisasi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata pada tahun 2025 belum mencapai target yang ditetapkan. Pendapatan sebesar Rp26,7 miliar hanya terealisasi 54,6 persen dari target awal Rp49 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya tantangan yang perlu diatasi untuk memaksimalkan potensi ekonomi dari sektor pariwisata Bantul.
Penurunan jumlah kunjungan wisatawan juga menjadi sorotan, dengan angka 28 persen lebih rendah dibandingkan tahun 2024. Faktor cuaca ekstrem, khususnya puncak musim hujan pada akhir tahun, disebut-sebut sebagai penyebab utama. Kondisi ini secara langsung memengaruhi minat kunjungan ke destinasi wisata alam yang mendominasi Bantul.
Angka Kunjungan dan Pendapatan Pariwisata Bantul 2025
Sepanjang periode Januari hingga Desember 2025, Dispar Bantul berhasil mencatat total kunjungan wisatawan sebanyak 1.848.776 orang. Data ini dihimpun dari seluruh tempat pemungutan retribusi (TPR) wisata yang tersebar di wilayah Bantul, termasuk area pantai selatan dan wisata alam berbayar.
Dari jumlah kunjungan wisatawan Bantul tersebut, pendapatan yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp26,7 miliar. Angka ini disampaikan oleh Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi. Namun, realisasi ini masih jauh dari target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Target pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata untuk tahun 2025 adalah sebesar Rp49 miliar. Dengan demikian, realisasi pendapatan hanya mencapai 54,6 persen dari target tersebut. Kesenjangan ini menjadi indikator bahwa ada potensi yang belum tergali atau ada hambatan yang memengaruhi pencapaian target.
Tren kunjungan wisatawan menunjukkan variasi bulanan, dengan peningkatan signifikan pada bulan-bulan yang memiliki momen liburan. Sebagai contoh, pada bulan Desember 2025, tercatat sebanyak 183.788 orang berkunjung, menyumbang pendapatan sebesar Rp2,6 miliar. Khusus pada momen liburan tanggal 20 hingga 31 Desember, jumlah kunjungan mencapai 116.361 orang dengan pendapatan Rp1,6 miliar.
Penurunan Signifikan Dibanding Tahun Sebelumnya
Perbandingan data kunjungan wisatawan menunjukkan adanya penurunan yang cukup drastis pada tahun 2025. Jika dibandingkan dengan tahun 2024, jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi Bantul mengalami penurunan sekitar 28 persen. Ini merupakan angka yang perlu menjadi perhatian serius bagi pengembangan pariwisata daerah.
Pada tahun 2024, total kunjungan wisatawan tercatat sebanyak 2,3 juta orang, dengan pendapatan mencapai Rp30,6 miliar. Penurunan menjadi 1,8 juta orang dan pendapatan Rp26,7 miliar pada tahun 2025 mengindikasikan adanya faktor-faktor eksternal yang memengaruhi sektor ini.
Kepala Dispar Bantul, Saryadi, menjelaskan bahwa aktivitas wisata sangat rentan terhadap kondisi cuaca. Mayoritas wisata di Bantul adalah wisata alam, sehingga sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Hal ini menjadi salah satu alasan utama di balik penurunan kunjungan.
Tantangan Cuaca dan Tren Kunjungan Bulanan
Faktor cuaca menjadi penentu utama dalam fluktuasi kunjungan wisatawan ke Bantul. Libur panjang akhir tahun 2025, yang seharusnya menjadi puncak kunjungan, justru bertepatan dengan puncak musim hujan. Kondisi ini secara langsung berdampak negatif pada tingkat kunjungan.
Saryadi menegaskan, "Tahun ini (2025) secara akumulasi tren kunjungan wisatawan ke Bantul turun dari tahun kemarin, karena wisata kita di Bantul itu kan mayoritas wisata alam, sehingga sangat sensitif terhadap cuaca." Pernyataan ini menyoroti ketergantungan pariwisata Bantul pada kondisi alam yang tidak selalu dapat diprediksi.
Meskipun ada penurunan secara keseluruhan, momen-momen liburan tetap memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan biasa. Ini menunjukkan bahwa wisatawan masih memiliki minat untuk berkunjung, namun perlu strategi adaptasi terhadap kondisi cuaca. Strategi mitigasi dampak cuaca buruk pada destinasi wisata alam menjadi krusial.
Pemerintah daerah melalui Dispar Bantul diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang lebih adaptif. Inovasi dalam pengembangan destinasi wisata non-alam atau paket wisata yang tahan cuaca dapat menjadi solusi. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata dan mencapai target pendapatan di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews