BPS Usul Peningkatan Produktivitas Pertanian Bali di Tengah Lahan Sempit
Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mendesak pemerintah daerah untuk meningkatkan produktivitas pertanian Bali guna mengatasi penurunan produksi padi akibat penyempitan lahan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk segera meningkatkan produktivitas pertanian di tengah tantangan penyempitan lahan panen padi. Usulan ini muncul setelah BPS mencatat adanya penurunan signifikan pada produksi padi di Pulau Dewata sepanjang tahun 2025.
Ketua Tim Statistik Pertanian BPS Bali, Sapto Wintardi, menyatakan bahwa peningkatan produktivitas menjadi kunci utama. Hal ini mengingat luas lahan panen padi di Bali cenderung sulit untuk diperluas akibat berbagai faktor.
Langkah strategis ini diharapkan dapat mengimbangi dampak dari alih fungsi lahan yang terus terjadi. Dengan demikian, sektor pertanian Bali tetap mampu berkontribusi optimal meskipun menghadapi keterbatasan geografis.
Penurunan Produksi Padi dan Beras yang Signifikan
Data BPS Bali menunjukkan bahwa produksi padi di Bali mengalami penurunan drastis sepanjang Januari hingga Desember 2025. Total produksi hanya mencapai 587,87 ribu ton, turun sebesar 47,61 ribu ton atau 7,49 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.
Penurunan ini terlihat konsisten di setiap subround, termasuk pada subround tiga (September-Desember 2025) yang mencatat produksi 199,31 ribu ton. Angka ini lebih rendah 6,99 persen atau setara 14,97 ribu ton padi dibandingkan subround tiga tahun sebelumnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada produksi beras, yang merupakan konversi dari padi. Sepanjang tahun 2025, produksi beras di Bali tercatat 331,53 ribu ton, mengalami penurunan 26,65 ribu ton atau 7,49 persen dibandingkan tahun 2024.
Produksi beras di subround tiga tahun 2025 juga signifikan, yaitu sebesar 8,44 ribu ton. Data ini menggarisbawahi urgensi untuk segera mencari solusi demi menjaga ketahanan pangan lokal.
Alih Fungsi Lahan dan Dampaknya pada Sektor Pertanian Bali
BPS Bali mengaitkan penurunan produksi padi ini dengan menyempitnya luas panen di Pulau Dewata sepanjang tahun 2025. Bali, sebagai destinasi pariwisata unggulan, memang tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur yang mendukung sektor tersebut.
Alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian menjadi salah satu penyebab utama. Sejak tahun 2019 hingga 2024, luas lahan pertanian di Bali telah berkurang sekitar 6 ribu hektare.
Penurunan luas panen padi tercatat sebesar 7,09 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024, dengan total luasan 96,44 ribu hektare. Subround dua (Mei-Agustus) menunjukkan penurunan tertinggi, yakni 12,40 persen atau 5,35 ribu hektare.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan sektor pertanian dan kemampuan Bali untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri di masa depan.
Proyeksi dan Rekomendasi untuk Produktivitas Pertanian Bali
Jika tidak ada upaya peningkatan produktivitas pertanian di tengah penyempitan lahan, BPS Bali memperkirakan penurunan produksi padi dan beras akan berlanjut. Proyeksi awal tahun 2026 menunjukkan potensi penurunan produksi padi sebesar 12,05 ribu ton atau 17,48 persen pada Januari dan Februari dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Penurunan produksi beras juga diperkirakan akan mengikuti tren serupa, dengan subround dua menunjukkan potensi penurunan tertinggi sebesar 13,85 ribu ton.
Oleh karena itu, BPS Bali menekankan pentingnya koordinasi dengan pemerintah daerah untuk fokus pada peningkatan produktivitas. Strategi ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah keterbatasan lahan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang mendukung inovasi pertanian, penggunaan teknologi tepat guna, dan praktik budidaya yang efisien. Hal ini demi memastikan ketahanan pangan Bali tetap terjaga.
Sumber: AntaraNews