BMEB ke-19 Soroti Penguatan Ekosistem Riset BI: Kunci Hadapi Geopolitik dan Iklim Global
Bank Indonesia (BI) melalui Konferensi BMEB ke-19 menyoroti pentingnya penguatan Ekosistem Riset BI sebagai kunci hadapi tantangan geopolitik, iklim, dan digitalisasi. Simak selengkapnya!
Bank Indonesia (BI) baru-baru ini menggarisbawahi pentingnya penguatan ekosistem riset dalam menghadapi berbagai dinamika global. Hal ini menjadi fokus utama dalam Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-19 yang diselenggarakan di Jakarta. Acara tersebut menjadi platform penting bagi para pembuat kebijakan dan peneliti.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa tiga tren utama sedang membentuk perekonomian global saat ini. Tren tersebut meliputi dinamika geopolitik dan geoekonomi, perubahan iklim, serta akselerasi digitalisasi dan disrupsi teknologi. Ketiga faktor ini memerlukan respons kebijakan yang adaptif.
Konferensi BMEB ke-19 ini bertujuan untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan di tengah tantangan global. Penguatan Ekosistem Riset BI diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata.
Tiga Tren Utama dan Respons Kebijakan BI
Perry Warjiyo menjelaskan tiga tren utama yang dihadapi perekonomian global. Dinamika geopolitik, perubahan iklim, dan digitalisasi menjadi sorotan utama. Faktor-faktor ini menuntut adaptasi kebijakan yang sinergis. Kebijakan harus selaras dengan agenda pembangunan nasional Astacita.
Untuk mengantisipasi dampak rambatan global, Bank Indonesia menerapkan lima respons kebijakan. Ini termasuk pengembangan bauran kebijakan di tengah fragmentasi pasar. BI juga fokus pada pengembangan sistem pembayaran digital yang inovatif.
Kebijakan lain yang diterapkan adalah mendorong keuangan berkelanjutan dan inklusif. Penguatan koordinasi dengan pemerintah serta kerja sama lintas negara juga menjadi prioritas. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Peran Ekosistem Riset dalam Menjawab Tantangan Global
Konferensi BMEB ke-19 juga menyoroti isu strategis terkait perubahan iklim. Akademisi menekankan perlunya kerja sama regional ASEAN+3. Ini bertujuan untuk mempercepat transisi hijau di tengah fragmentasi geopolitik.
Bukti empiris dampak cuaca terhadap pertumbuhan dan inflasi turut dibahas. Respons moneter harus membedakan guncangan sementara dan persisten. Pentingnya ruang fiskal dan perlindungan asuransi ditekankan untuk meredam risiko.
Di bidang digitalisasi, diskusi mencakup transformasi bank sentral di era digital. Risiko dan peluang stable coin serta desain central bank digital currency (CBDC) menjadi topik hangat. Penguatan kehati-hatian dan inklusi digital juga dibahas secara mendalam.
Urgensi koordinasi fiskal-moneter dan standar lintas negara juga menjadi perhatian. Diskusi ini menjadi ruang penting bagi akademisi dan pembuat kebijakan. Tujuannya adalah merumuskan rekomendasi yang bermanfaat bagi pembangunan ekonomi.
Kontribusi Internasional untuk Penguatan Riset Ekonomi
BMEB berfungsi sebagai wahana diseminasi riset mutakhir dan dialog ilmiah lintas negara. Ini memperkuat perumusan kebijakan berbasis bukti, khususnya bagi negara berkembang. Tema tahun ini adalah “Geopolitics, Climate Risks, and Digitalisation: The Future of Central Banking”.
Pada call for paper tahun ini, panitia menerima 320 naskah lengkap. Sebanyak 172 naskah berasal dari Indonesia dan 148 dari negara lain. Proses peer review yang ketat kemudian dilakukan.
Hasilnya, terpilih 34 riset dari 12 negara yang berbeda. Negara-negara tersebut meliputi Indonesia, Australia, Tiongkok, Prancis, India, Italia, Malaysia, Filipina, Republik Korea, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Inggris. Ini menunjukkan jangkauan internasional BMEB.
Melalui forum ini, Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat riset ekonomi. Tujuannya adalah menghadirkan solusi nyata bagi tantangan global yang semakin kompleks. Penguatan Ekosistem Riset BI menjadi prioritas nasional.
Sumber: AntaraNews