Bitcoin Melonjak Tembus USD 96.000, Inflasi AS dan Regulasi Jadi Katalis
Lonjakan ini didorong oleh sentimen positif dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih moderat serta perkembangan pembahasan regulasi aset kripto.
Pasar kripto mencatat penguatan signifikan setelah Bitcoin kembali menembus level USD 96.232 atau setara sekitar Rp1,64 miliar (kurs dolar AS Rp16.875) pada perdagangan Kamis (14/1).
Lonjakan ini didorong oleh sentimen positif dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih moderat serta perkembangan pembahasan regulasi aset kripto di Negeri Paman Sam yang semakin menunjukkan arah jelas.
Berdasarkan data perdagangan global, Bitcoin sempat naik sekitar 3,6% ke level USD 96.876. Ethereum (ETH) turut menguat 4,8%, sementara XRP mencatat kenaikan sekitar 1,4%.
"Reli ini terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember yang menunjukkan inflasi inti lebih terkendali, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga dalam waktu dekat," kata Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan Tokocrypto, Jumat (16/1).
Inflasi Inti Hanya Naik 0,2 Persen
CPI AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, sementara inflasi inti hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Data ini meningkatkan optimisme pasar terhadap pelonggaran kondisi likuiditas ke depan, yang secara historis berdampak positif bagi aset berisiko termasuk kripto.
Dari sisi kebijakan, sentimen pasar turut diperkuat oleh diperkenalkannya draf RUU “Digital Asset Market CLARITY Act” oleh Senator AS menjelang pembahasan di Senate Banking Committee.
RUU ini bertujuan memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.
Ia menilai kombinasi faktor makroekonomi dan regulasi ini menjadi katalis penting bagi pergerakan harga Bitcoin.
“Pasar melihat adanya sinyal yang semakin jelas bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif. Kepastian regulasi adalah faktor krusial bagi masuknya modal institusional, dan ini yang saat ini mulai diantisipasi oleh pasar,” ujarnya.
Bitcoin Berhasil Keluar dari Fase Konsolidasi
Fyqieh menambahkan bahwa secara teknikal, Bitcoin telah keluar dari fase konsolidasi yang cukup panjang sejak akhir 2025.
“Penembusan area USD 94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis USD 100.000 tetap terbuka,” jelasnya.
Selain faktor regulasi dan inflasi, arus dana institusional juga menjadi pendorong utama. Tercatat, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus masuk dana bersih lebih dari USD 750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025. Di saat yang sama, terjadi rotasi modal dari pasar saham dan emas, seiring meningkatnya volatilitas di pasar keuangan tradisional.
Volatilitas Perlu diperhatikan
Namun demikian, Fyqieh mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto.
Meski tren Bitcoin masih bullish, pasar kini memasuki fase yang kerap disebut sebagai “bagian tersulit” dalam reli yak i setelah breakout terjadi, pergerakan berikutnya biasanya tidak seatraktif lonjakan awal karena harga cenderung melambat di area-level tinggi.