Terbiasa Tidur dengan Mulut Diplester 'Mouth Taping', ini Dampaknya bagi Kesehatan
Berikut dampak terbiasa tidur dengan mulut diplester 'Mouth Taping' bagi kesehatan.
Tren kesehatan di media sosial kerap memunculkan praktik-praktik baru yang menarik perhatian. Salah satunya adalah "mouth taping" atau menutup mulut dengan plester saat tidur. Metode ini diklaim mampu meningkatkan kualitas tidur, mengurangi dengkuran, hingga memperbaiki pernapasan hidung.
Namun, di balik popularitasnya, praktik mouth taping masih menjadi perdebatan sengit di kalangan profesional medis. Banyak yang mempertanyakan efektivitas serta keamanannya, mengingat minimnya bukti ilmiah yang mendukung klaim-klaim tersebut.
Artikel ini akan mengupas tuntas Dampak Tidur dengan Mulut Diplester 'Mouth Taping' bagi Kesehatan, menimbang antara potensi manfaat yang belum terbukti dan risiko serius yang mungkin mengintai para penggunanya. Lantas bagaimana dampak terbiasa tidur dengan mulut diplester 'Mouth Taping' bagi kesehatan? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (15/7), simak ulasan informasinya berikut ini.
Apa Itu Praktik 'Mouth Taping'?
Mouth taping adalah kebiasaan menutup mulut menggunakan plester khusus yang aman untuk kulit sebelum tidur. Tujuannya adalah untuk mendorong individu bernapas melalui hidung sepanjang malam.
Konsep dasar praktik ini cukup sederhana yaitu dengan menjaga bibir tetap tertutup. Di mana tubuh 'dipaksa' untuk mengandalkan saluran pernapasan alami, yakni hidung. Plester berpori biasanya ditempelkan secara horizontal di atas bibir atas dan bawah.
Metode ini diminati oleh mereka yang memiliki kebiasaan bernapas melalui mulut saat tidur, sering mendengkur, mengalami mulut kering, atau gangguan tidur ringan. Ini bukan untuk mengekang ekstrem, melainkan dorongan lembut agar tidak bernapas melalui mulut secara tidak sadar.
Potensi Manfaat bagi Kesehatan
Beberapa klaim manfaat mouth taping meliputi pengurangan dengkuran, peningkatan kualitas tidur, dan perbaikan pernapasan hidung. Pernapasan hidung memang lebih baik karena dapat melembapkan udara dan menyaring polutan.
Meskipun ada laporan anekdotal tentang tidur lebih nyenyak, para ahli mengingatkan bahwa ini bisa jadi efek plasebo. Sebuah tinjauan sistematis oleh Brian Rotenberg, MD, MPH, menemukan bahwa delapan dari sepuluh studi tidak menunjukkan manfaat signifikan.
Studi tersebut juga mencatat bahwa manfaat pada kasus obstructive sleep apnea (OSA) ringan dianggap tidak signifikan dalam praktik klinis. Ini menunjukkan bahwa klaim manfaat perlu dikonfirmasi dengan penelitian lebih lanjut yang lebih kuat.
Risiko dan Efek Samping yang Mengintai
Praktik mouth taping memiliki sejumlah risiko dan efek samping yang perlu diwaspadai. Iritasi kulit di sekitar mulut dan bibir akibat plester adalah keluhan umum yang sering terjadi.
Alih-alih meningkatkan kualitas tidur, mouth taping justru dapat mengganggu tidur karena ketidaknyamanan atau kesulitan bernapas. Dokter Boris Gilyadov dari Mount Sinai memperingatkan, jika udara tidak bisa masuk cukup, tubuh akan masuk mode darurat.
Kondisi ini menyebabkan kadar oksigen turun, karbon dioksida naik, dan tubuh akan terkejut untuk membangunkan. Proses ini dapat meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan hormon stres, yang bila terjadi berulang bisa berdampak buruk pada jantung dan otak.
Pada individu dengan sleep apnea, mouth taping dapat memperburuk kondisi dengan membatasi aliran udara, berpotensi menyebabkan penurunan kadar oksigen yang berbahaya. Risiko terlepasnya plester dan masuk ke dalam mulut, menyebabkan tersedak, juga ada.
Siapa yang Boleh dan Tidak Boleh Melakukan 'Mouth Taping'?
Sebelum mencoba mouth taping, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan. Praktik ini tidak disarankan bagi individu dengan kondisi medis tertentu.
Orang yang memiliki masalah hidung tersumbat, seperti akibat flu, alergi, polip, deviasi septum, atau pembesaran amandel, sangat tidak dianjurkan. Bernapas hanya melalui hidung akan sulit dan berisiko bagi mereka.
Terutama, individu dengan obstructive sleep apnea (OSA) harus menghindari mouth taping. Seperti dijelaskan Dr. Gonchar, penderita OSA memerlukan perawatan khusus seperti CPAP yang menjaga saluran napas tetap terbuka, bukan penutupan mulut.
Mouth taping tidak dapat memberikan tekanan udara positif seperti CPAP, dan tanpa pengobatan yang tepat, OSA dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Prioritaskan Kesehatan dan Konsultasi Medis
Tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung penggunaan mouth taping sebagai metode yang aman dan efektif untuk meningkatkan kesehatan atau kualitas tidur. Tren ini lebih banyak didasari klaim anekdotal daripada riset valid.
Mengikuti tren kesehatan tanpa konsultasi medis dapat berisiko bagi kesehatan Anda, terutama jika Anda memiliki kondisi medis yang mendasarinya. Prioritaskan praktik tidur yang sehat dan terbukti efektif secara ilmiah.
Menjaga jadwal tidur teratur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, serta menghindari kafein dan alkohol sebelum tidur adalah langkah-langkah yang jauh lebih aman dan terbukti efektif untuk kualitas tidur optimal.