Mouth Tape, Tidur dengan Mulut Dilakban, Tren Viral yang Tampak Sehat, tapi Bisa Membunuh Diam-Diam?
Mouth tape, tren tidur dengan mulut dilakban, diklaim atasi dengkuran & mulut kering. Namun, efektivitas dan keamanannya dipertanyakan. Simak risiko mouth tape!
Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh tren baru yang cukup mengundang rasa penasaran: mouth taping atau menutup mulut dengan plester saat tidur. Banyak yang mengklaim bahwa kebiasaan ini bisa membuat tidur lebih nyenyak, mengurangi dengkuran, dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Tapi benarkah demikian?
Sebuah studi terbaru justru membalikkan anggapan populer itu. Alih-alih menyehatkan, mouth taping ternyata menyimpan risiko yang tidak main-main—mulai dari penurunan kadar oksigen, peningkatan risiko sleep apnea, hingga kemungkinan terburuk: mati lemas saat tidur. Mari kita kupas satu per satu mengapa tren ini mungkin lebih berbahaya daripada bermanfaat.
Apa Itu Mouth Taping?
Mouth taping adalah praktik menempelkan selotip (biasanya jenis yang aman untuk kulit) di bibir untuk mendorong pernapasan lewat hidung selama tidur. Tujuannya sederhana: agar tidak bernapas melalui mulut.
Teknik ini diyakini mencegah mulut kering, bau napas tak sedap, dan bahkan gigi berlubang akibat tidur dengan mulut terbuka. Banyak juga yang mengklaim bahwa bernapas lewat hidung lebih baik karena dapat menyaring udara, melembapkan, dan meningkatkan aliran oksigen ke tubuh.
Namun, perlu dicatat bahwa orang yang bernapas melalui mulut saat tidur sering kali mengalami gangguan di saluran napas—misalnya hidung tersumbat akibat flu, alergi, atau kondisi medis seperti polip, deviasi septum, bahkan pembesaran amandel.
Studi Baru: Bukti Ilmiah yang Mengecewakan
Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan di jurnal PLOS One baru-baru ini meneliti puluhan studi mengenai mouth taping. Dari 86 studi yang dianalisis, hanya 10 yang dianggap cukup layak untuk dievaluasi lebih lanjut. Dan hasilnya? “Delapan dari sepuluh studi tersebut menunjukkan tidak ada manfaat signifikan dari mouth taping, dan beberapa bahkan mencatat risiko serius,” ujar Brian Rotenberg, MD, MPH, penulis utama studi tersebut.
Empat dari studi tersebut secara khusus menyatakan bahwa orang yang memiliki sumbatan di hidung bisa menghadapi risiko kekurangan oksigen saat menggunakan metode ini. Dua studi lainnya menunjukkan adanya sedikit manfaat pada orang dengan obstructive sleep apnea (OSA) ringan, tetapi manfaat tersebut dianggap tidak signifikan dalam praktik klinis.
Risiko Serius yang Tak Terlihat
Dokter Boris Gilyadov dari Mount Sinai dengan tegas memperingatkan, “Kalau Anda tidak bisa bernapas lewat hidung dengan baik, mengapa justru menutup mulut Anda juga?"
Ketika udara tak bisa masuk dengan cukup, tubuh Anda masuk ke mode darurat. Kadar oksigen turun, kadar karbon dioksida naik, dan tubuh akan terkejut untuk membangunkan Anda agar tidak mati lemas. Proses ini bisa meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan hormon stres—dan bila terjadi berulang setiap malam, bisa berdampak buruk pada jantung dan otak.
Rotenberg menambahkan, jika seseorang menderita sleep apnea tapi belum terdiagnosis, praktik ini bisa memperparah kondisi karena justru mempersempit jalan napas. Lebih mengerikannya lagi, plester yang digunakan bisa terlepas dan masuk ke dalam mulut saat tidur—yang berarti menambah risiko tersedak atau tersumbat napas secara tiba-tiba.
Jika Terasa Manjur, Haruskah Dilanjutkan?
Beberapa orang mungkin merasa mouth taping membantu mereka tidur lebih nyenyak. Tapi para ahli sepakat bahwa efek positif itu bisa menipu. “Kita perlu tahu dulu, apa sebenarnya masalahnya,” kata Rotenberg. Bisa jadi Anda hanya menutupi gejala, bukan menyelesaikan akar masalah.
Zinchuk, dokter spesialis tidur dari Yale School of Medicine, menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda merasa tidak puas dengan kualitas tidur. Dokter bisa merujuk Anda ke spesialis tidur dan mencari tahu apakah ada gangguan seperti sleep apnea atau masalah pernapasan lainnya yang tersembunyi.
Alternatif Aman untuk Mengatasi Napas Lewat Mulut
Jika Anda merasa masalah pernapasan hanya akibat hidung tersumbat karena alergi atau cuaca, ada banyak cara lain yang lebih aman daripada menutup mulut:
- Gunakan nasal spray atau antihistamin.
- Tidur miring, bukan telentang.
- Jaga hidrasi tubuh.
- Lakukan latihan pernapasan yang fokus pada nasal breathing.
Untuk penderita OSA, pilihan pengobatan bisa meliputi alat bantu napas seperti CPAP, alat ortodonti khusus, atau dalam kasus tertentu, pembedahan.
Jangan Main-Main dengan Napas Anda
Meski terdengar simpel dan murah, tren mouth taping sebetulnya bukan solusi yang bisa dipakai sembarangan. Faktanya, bisa jadi justru memperparah kondisi medis yang belum Anda sadari. “Hanya karena sesuatu tampak populer dan terasa bekerja, bukan berarti itu aman,” ujar Zinchuk.
Jika Anda mendengkur, sering terbangun, atau merasa lelah terus menerus, itu mungkin tanda tubuh Anda sedang kesulitan bernapas saat tidur. Jangan menunda untuk mencari pertolongan medis. Kesehatan Anda layak diperjuangkan—dan bernapas bukanlah hal yang boleh dianggap remeh.
Ingat: tidur lebih nyenyak tak harus dengan plester di mulut. Bisa jadi, jawaban yang Anda cari adalah konsultasi medis, bukan tren viral TikTok.