Sosok Bekas PM Israel Koma Begitu Lama Sebelum Kematiannya, Jenderal Kejam Pembantai Rakyat Palestina
Mantan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon merupakan satu di antara banyak sosok di dunia yang meninggal setelah mengalami koma panjang bertahun-tahun.
Pangeran Arab Saudi, Al-Waleed bin Khaled bin Talal mulai dikenal luas lantaran terbaring koma sejak tahun 2005 silam hingga kini. 'Sleeping Prince' mengalami koma usai kecelakaan di London, Inggris.
Rupanya, kisah koma dalam durasi panjang bukan hanya terjadi pada sang pangeran Arab saja. Sejumlah orang di dunia juga pernah mengalaminya bahkan ada yang hingga 42 tahun lamanya.
Satu di antara beberapa kisah ternama yang mengenai koma berkepanjangan ialah eks Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon. Dia kemudian meninggal dunia usai terbaring koma selama bertahun-tahun. Berikut ulasan selengkapnya.
Ariel Sharon Koma 8 Tahun
Politikus garis keras sekaligus eks Perdana Menteri Israel Ariel Sharon menghabiskan delapan tahun dalam kondisi koma sebelum akhirnya meninggal dunia pada 11 Januari 2014 lalu di usia 85 tahun. Koma yang dialami Sharon bermula dari stroke berat pada 4 Januari 2006.
Kondisi ini semakin memperparah kondisi kesehatannya setelah ia mengalami stroke ringan di bulan Desember tahun sebelumnya. Selain itu, biaya perawatan medis Sharon selama koma dilaporkan ke publik mencapai angka fantastis, yaitu USD 440 juta per tahun.
Selama masa koma, Sharon menghadapi komplikasi kesehatan serius yang mengerikan. Dia mengalami kerusakan ginjal, paru-paru, hingga infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh yang semakin memperburuk kondisinya.
Meskipun mendapatkan perawatan medis intensif dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya, Sharon tetap dalam kondisi koma dengan mata terbuka hingga akhir hayatnya.
Sepak Terjang Ariel Sharon
Ariel Sharon lahir pada 26 Februari 1928, di Kfar Malal, sebuah kibbutz di Palestina Mandat Inggris. Sejak muda, ia terlibat dalam berbagai konflik militer Israel. Ia dikenal sebagai seorang komandan militer yang kontroversial karena beberapa tindakan brutalnya terhadap warga Palestina.
Setelah pensiun dari militer dengan pangkat jenderal, Sharon terjun ke dunia politik lalu menjabat berbagai posisi penting dalam pemerintahan Israel, termasuk Menteri Pertahanan. Selama itu, Sharon kerap membuat kebijakan yang keras dan bejat terhadap Palestina.
Ia dianggap sebagai salah satu arsitek utama dari pemukiman Yahudi di Tepi Barat, sebuah kebijakan yang memicu perselisihan dan kekerasan berkepanjangan.
Bagi bangsa Palestina dan Arab lainnya Sharon identik dengan kata pembantaian. Ariel Sharon bertanggung jawab atas tragedi pembantaian Qibya pada 13 Oktober 1953.
Saat itu 96 orang Palestina tewas oleh Unit 101, yang dipimpinnya dan utamanya, peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila tahun 1982 di mana antara 3.000 dan 3.500 orang terbunuh dalam peristiwa itu. Sharon pun dijuluki sebagai "Jagal dari Beirut".
Sosok Ariel Sharon
Ariel Sharon dikenal sebagai tokoh yang menganut ideologi garis keras dalam politik Israel. Dari tahun 1970-an hingga 1990-an, Sharon memperjuangkan pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Puncak karier politiknya adalah ketika ia terpilih menjadi Perdana Menteri Israel pada tahun 2001 hingga 2006. Sebelumnya dia telah berhasil terpilih menjadi pemimpin Likud pada tahun 2000.
Salah satu kebijakan kontroversial Sharon adalah pembangunan Tembok Pemisah di Tepi Barat. Dengan berdalih melindungi warga Israel dari serangan teroris, Sharon membangun tembok tersebut yang kemudian ramai disebut sebagai tindakan yang mencaplok tanah Palestina dan melanggar hak-hak asasi manusia warga Palestina.
Pada tahun 2004, Sharon menarik mundur tentara dan warga yahudi dari Jalur Gaza dan Tepi Barat. Saat itu, Sharon membongkar pemukiman warga yahudi dan mengevakuasi para pemukim serta militer Israel dari Jalur Gaza. Namun di tahun 2005, Sharon memutuskan untuk mencaplok sepertiga wilayah Tepi Barat.
Kebijakannya membongkar pemukiman dan menarik mundur militer serta warga yahudi dari Gaza itu membuatnya mendapat penentangan yang keras dari dalam Partai Likud. Dia kemudian meninggalkan partai Likud pada November 2005 dan membangun partai baru bernama Kadima.
Dia kemudian mengalami stroke pada 4 Januari 2006 dan berada dalam kondisi koma permanen hingga kematiannya pada Januari 2014.