Jangan Sepelekan, Faktor Ini Bisa Turunkan Kecerdasan Anak
Perhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan penurunan IQ pada anak.
Isu mengenai rendahnya IQ anak kembali menjadi perhatian setelah survei global menunjukkan bahwa Indonesia memiliki rata-rata IQ yang tergolong rendah.
Namun, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH selaku Ketua Health Collaborative Centre (HCC) Indonesia, mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menarik kesimpulan bahwa anak-anak mereka kurang pintar.
Menurutnya, penurunan kemampuan kognitif anak sering kali disebabkan oleh faktor-faktor sederhana yang sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
"IQ bukan angka final. Kemampuan kognitif anak sangat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari gizi, kualitas tidur, kesehatan mental, hingga lingkungan," jelas Ray.
Dia menambahkan bahwa salah satu penyebab utama yang sering kali tidak disadari adalah kurangnya asupan nutrisi penting.
Otak anak memerlukan zat gizi seperti zat besi, yodium, protein, omega-3, vitamin B12, dan folat untuk berfungsi secara optimal. Jika kebutuhan gizi ini tidak terpenuhi, dampaknya dapat terlihat pada konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan belajar.
Misalnya, kondisi anemia sering disalahartikan sebagai kemalasan. "Anemia bisa membuat anak terlihat tidak fokus dan kurang bersemangat. Ini bukan karena malas, tetapi karena otaknya tidak mendapatkan dukungan nutrisi yang cukup," ungkapnya.
Selain faktor gizi, kualitas tidur juga memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Anak dan remaja yang kurang tidur cenderung mengalami penurunan performa akademik.
Mereka lebih sulit untuk fokus, mudah terdistraksi, dan cenderung impulsif dalam pengambilan keputusan. Di sisi lain, lingkungan rumah yang penuh tekanan dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental anak.
Konflik keluarga, tekanan ekonomi, atau suasana yang tidak kondusif dapat memengaruhi kesehatan mental anak, yang pada akhirnya berpengaruh pada perkembangan kognitif mereka.
"Stres di rumah itu masuk ke otak anak. Lingkungan yang tidak suportif bisa mengganggu perkembangan emosi dan kemampuan berpikir," tambah Ray.
Paparan gadget yang berlebihan juga menjadi perhatian serius di era digital saat ini. Aktivitas seperti scrolling tanpa adanya interaksi sosial dinilai tidak memberikan stimulasi yang cukup bagi otak anak.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak, agar mereka dapat tumbuh dengan optimal dan memiliki kemampuan yang baik di masa depan.
Pendekatan Komprehensif
Berbeda dengan kegiatan membaca, berdiskusi, atau bermain kreatif yang dapat melatih kemampuan berpikir dan problem solving, paparan polusi udara juga berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif.
Berbagai penelitian di tingkat global menunjukkan bahwa polusi dapat berdampak negatif terhadap konsentrasi serta perkembangan neurologis anak.
Menyikapi berbagai faktor tersebut, Ray menekankan pentingnya pendekatan yang komprehensif untuk mendukung perkembangan otak anak. Hal ini mencakup memastikan asupan gizi yang seimbang, membiasakan anak untuk sarapan sehat, menjaga kualitas tidur, serta menciptakan lingkungan rumah yang nyaman dan mendukung.
Selain itu, dia juga merekomendasikan agar orang tua membatasi screen time yang pasif dan mendorong anak untuk lebih aktif dalam membaca, berdiskusi, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin. "Jangan buru-buru menilai anak kurang pintar. Bisa jadi tubuhnya lapar nutrisi, otaknya kurang tidur, atau hatinya sedang penuh tekanan," pungkasnya.