Kasus Pertama, Anak Palestina Meninggal di Penjara Israel karena Kelaparan Ekstrem dan Penyiksaan

Dia menjadi warga Palestina ke-63 yang meninggal di penjara tersebut sejak perang pada Oktober 2023.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Kasus Pertama, Anak Palestina Meninggal di Penjara Israel karena Kelaparan Ekstrem dan Penyiksaan
walid ahmad (Hisham Abu Shaqra/MEE)

Seorang anak Palestina berusia 17 tahun yang dulunya seorang atlet, meninggal di salah satu penjara Israel dalam keadaan kelaparan, dehidrasi, dan radang usus besar. Demikian menurut hasil otopsi.

Walid Khalid Abdullah Ahmad meninggal pada akhir Maret dengan tanda-tanda ‘kelaparan, dehidrasi akibat diare yang disebabkan radang usus besar, dan komplikasi infeksi yang diperparah oleh kekurangan gizi berkepanjangan, serta penolakan intervensi medis untuk menyelamatkan nyawa,” demikian hasil otopsi Ahmad pada laporan Defense for Children International Palestine (DCIP).

Pemeriksaan post-mortem menunjukkan Ahmad menderita penyusutan otot dan lemak tubuh yang ekstrem. Tanda-tanda ini ditunjukkan oleh perutnya yang cekung, kata dokter yang menghadiri otopsi atas nama keluarga Ahmad.

“Kami diberi tahu tentang kematiannya melalui kantor penghubung Palestina pada 24 Maret. Kami terkejut dan syok dengan kabar itu karena dia tidak menderita penyakit apapun. Sidang pengadilan dijadwalkan pada pertengahan April,” kata Khaled Al-Basha, ayah Ahmad, seperti dilansir Middle East Eye, Jumat (4/4).

Otoritas Palestina mengatakan Ahmad adalah anak Palestina pertama yang meninggal di tahanan Israel, dan menjadi warga Palestina ke-63 yang meninggal di penjara tersebut sejak perang pada Oktober 2023.

Para tahanan sering menggambarkan diri mereka sebagai korban pemukulan, penyiksaan, kekerasan seksual, padatnya penjara, kurangnya perawatan medis, wabah penyakit, dan kondisi sanitasi yang buruk.

Meskipun otoritas penjara menyangkal adanya penyiksaan yang sistematis, kementerian keamanan nasional Israel yang dipimpin oleh Itamar Ben Gvir, sering kali membanggakan diri telah berhasil memperketat kondisi para tahanan Palestina hingga ke tingkat paling minimal yang masih diwajibkan oleh hukum.

Ahmad ditahan tanpa dakwaan di Penjara Megiddo, fasilitas yang sebelumnya dituduh melakukan penyiksaan terhadap warga Palestina. Ia mengalami ruam kudis di kedua kaki dan pangkal pahanya, serta lecet di hidung, dada, dan pinggul kanannya.

Otopsi juga menunjukkan adanya kumpulan udara yang signifikan di daerah dada dan rongga perut Ahmad. Menurut DCIP, hal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh “trauma tumpul” bersama dengan tanda-tanda peradangan yang dapat dikaitkan dengan infeksi.

Pemukulan oleh penjaga Israel diduga menjadi penyebab adanya edema dan kongesti di usus besar Ahmad, sesuai dengan cedera traumatis.

Pemeriksaan yang dilakukan di Institut Forensik Abu Kabir di Tel Aviv menemukan Ahmad menderita “malnutrisi ekstrem berkepanjangan” dan kemungkinan radang usus besar yang menyebabkan diare dan dehidrasi. Terdapat juga luka yang ditemukan di lehernya.

Ahmad adalah seorang atlet yang bermain secara profesional untuk tim sepak bola di kampung halamannya. Ia berambisi untuk bisa bermain bagi tim nasional Palestina, tetapi Israel menghalangi mimpinya.

Saat itu Ahmad berada di tahun terakhir sekolahnya dalam keadaan sehat. Ayahnya mengatakan tentara Israel menyerbu rumah mereka pada 30 September di Kota Silwad, sebelah timur Ramallah. Serangan itu menghancurkan rumah mereka beserta isinya, dan memecahkan jendelanya. Tentara Israel kemudian menggeledah kartu identitas mereka dan memberi tahu Ahmad bahwa dirinya ditahan.

Mereka memborgol dan menutup mata Ahmad di depan keluarganya, dan melarangnya untuk berpakaian meskipun keluarganya memohon. Mereka membawanya pergi. Setelahnya, keluarga Ahmad tidak lagi mendengar kabar apapun tentangnya hingga persidangan pertama pada 8 Oktober. Saat itu, mereka hanya dapat melihat Ahmad melalui layar video.

Sejak dimulainya perang di Jalur Gaza, lebih dari 14.000 penduduk Palestina diyakini telah ditangkap di Tepi Barat yang dijajah oleh pasukan Israel.

Sebagian besar ditahan dalam penahanan administratif yang memungkinkan orang ditangkap tanpa bukti yang diungkap.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi