Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025: Jadwal, Sejarah, Tradisi, Bacaan dan Contoh Khutbahnya
Di tahun 2025 ini, Maulid Nabi jatuh pada hari Jumat, 5 September 2025 atau 12 Rabiul Awal 1447 H.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu peristiwa yang sangat penting dalam kalender umat Islam. Acara ini diadakan untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, yang menjadi teladan utama bagi umatnya. Di seluruh penjuru Indonesia, perayaan ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari kegiatan keagamaan hingga tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Di tahun 2025 ini, Maulid Nabi jatuh pada hari Jumat, 5 September 2025 atau 12 Rabiul Awal 1447 H. Penetapan tanggal tersebut berdasarkan kalender Hijriah yang telah disesuaikan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Berbagai instansi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat umum sudah mulai mempersiapkan acara keagamaan serta kegiatan sosial menjelang hari besar ini.
Perayaan Maulid Nabi bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarumat Muslim. Kegiatan seperti pembacaan sholawat, ceramah agama, dan pembagian sedekah menjadi agenda rutin yang penuh makna. Di beberapa daerah, perayaan Maulid Nabi bahkan berlangsung selama beberapa hari dengan suasana yang meriah dan khas.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai perayaan Maulid Nabi 2025, mencakup jadwal resmi, sejarah singkat kelahiran Nabi Muhammad SAW, berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat, bacaan populer untuk Maulid, serta contoh khutbah yang bisa digunakan dalam acara keagamaan.
Jadwal Maulid Nabi 2025
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2025 akan dilaksanakan pada hari Jumat, yaitu tanggal 5 September 2025, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 H. Tanggal ini diambil dari Kalender Hijriah resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Selain itu, penetapan hari tersebut juga diakui sebagai hari libur nasional di seluruh Indonesia.
Sebagai salah satu perayaan penting dalam agama Islam, berbagai kegiatan keagamaan akan diselenggarakan pada hari tersebut. Kegiatan tersebut meliputi pengajian, pembacaan sholawat, ceramah agama, serta kegiatan sosial lainnya. Berbagai instansi pemerintah, sekolah, masjid, dan komunitas Muslim biasanya telah mempersiapkan agenda acara jauh-jauh hari sebelum tanggal tersebut tiba.
Jadwal Maulid Nabi ini juga menjadi kesempatan berharga bagi umat Islam untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW melalui berbagai aktivitas spiritual dan sosial. Banyak masjid besar yang sudah mengumumkan rangkaian acara Maulid dalam beberapa hari menjelang 5 September 2025.
Sejarah Maulid Nabi
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Moch Yunus berjudul "Peringatan Maulid Nabi: Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia", dijelaskan bahwa tradisi peringatan Maulid Nabi pertama kali dicatat dalam sejarah pada masa Dinasti Fathimiyyah di Mesir. Perayaan ini dimulai di bawah kepemimpinan Khalifah Mu'iz li Dinillah pada abad ke-4 Hijriyah, sekitar tahun 341 H.
Meskipun sempat dilarang, Amir li Ahkamillah kemudian menghidupkan kembali tradisi ini pada tahun 524 H. Peringatan Maulid Nabi diadakan sebagai upaya untuk membina spiritualitas masyarakat dan menyebarkan semangat keagamaan di wilayah kekuasaan Fathimiyyah. Saat itu, fokus dari perayaan adalah untuk memperkuat identitas keislaman dan melawan potensi penjajahan dari bangsa asing.
"Ketika itu, Maulid diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 H secara besar-besaran. Saat itu, Mudhaffar sedang berpikir agar negerinya bisa selamat dari kekejaman Temujin yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227M.) dari Mongol. Jengiz Khan memiliki ambisi menguasai dunia, sehingga melakukan pecah belah ke berbagai bangsa. Ketika itu dihidangkan 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas serta mengundang para orator untuk menghidupkan nadi heroisme Muslimin," keterangan dalam hasil studi tersebut.
Moch Yunus juga mencatat versi kedua mengenai asal-usul perayaan Maulid Nabi yang berasal dari era Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Pada saat itu, Sultan menginstruksikan pelaksanaan Maulid sebagai sarana untuk mempersatukan umat Islam menjelang Perang Salib.
Kegiatan ini dipelopori oleh iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yang menjabat sebagai gubernur di Irbil, Suriah. Keyakinan bahwa menghidupkan kembali cinta terhadap Rasulullah dapat membangkitkan semangat jihad umat Islam semakin memperkuat gagasan ini.
Sultan Salahuddin juga mengadakan sayembara untuk penulisan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, yang dimenangkan oleh Syaikh Ja'far al-Barzanji, penulis kitab terkenal Barzanji. Tradisi pembacaan Barzanji ini masih dipertahankan hingga kini dalam perayaan Maulid di berbagai daerah di Indonesia.
Hasil dari upaya ini sangat efektif, karena semangat umat Islam meningkat, dan dalam waktu singkat, Yerusalem berhasil direbut kembali pada tahun 1187 M, yang merupakan pencapaian monumental dalam sejarah Islam. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak hanya berfungsi sebagai strategi perjuangan, tetapi juga sebagai media pendidikan spiritual.
Tradisi Maulid di Nusantara: Kaya, Kreatif, dan Penuh Makna
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momen penting yang menandai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Secara etimologis, istilah "maulid" atau "milad" merujuk pada hari lahir. Perayaan ini telah menjadi tradisi yang berkembang dalam komunitas Muslim setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yang menunjukkan adanya perubahan dalam praktik keagamaan seiring berjalannya waktu. Terdapat beberapa riwayat mengenai asal mula perayaan ini.
Beberapa sumber mengungkapkan bahwa Maulid Nabi pertama kali dirayakan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-10 Masehi. Di sisi lain, riwayat lain menghubungkan perayaan ini dengan Raja al-Muzhaffar Abu Sa'id Kaukabri dari Irbil, Irak utara, pada abad ke-12 Masehi. Sultan Salahuddin al-Ayyubi juga dikenal mendorong perayaan ini untuk meningkatkan semangat juang umat Islam.
Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi sangat dipengaruhi oleh Wali Songo dalam proses penyebaran agama Islam. Tradisi ini telah berakulturasi dengan berbagai budaya lokal, sehingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini mencerminkan bagaimana Islam mampu beradaptasi dan menyatu dengan kearifan lokal yang ada.
Keberagaman Tradisi Maulid Nabi di Indonesia
Masyarakat Muslim di Indonesia merayakan Maulid Nabi dengan beragam kegiatan keagamaan dan tradisi lokal yang kaya dan bervariasi. Tradisi ini mencerminkan kekayaan budaya Nusantara yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Kegiatan yang biasa dilakukan antara lain adalah pembacaan selawat nabi, pengajian, pemberian santunan kepada anak yatim, serta kumpul keluarga.
Selain kegiatan umum, berbagai daerah di Indonesia juga memiliki tradisi unik yang menarik untuk disimak. Misalnya, Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta yang melibatkan arak-arakan gunungan, serta Muludan yang terkenal di Cirebon. Di Gorontalo, terdapat tradisi Walima, sedangkan di Padang Pariaman, Sumatera Barat, dikenal dengan Bungo Lado, di mana masyarakat membuat pohon hias dari cabai.
Tradisi lainnya yang tidak kalah menarik adalah Maudu Lompoa di Gowa, Aceh dengan Meuripee dan Kuah Beulangong, serta Baayun Maulid di Kalimantan Selatan. Keberagaman tradisi ini menunjukkan bahwa Perayaan Maulid Nabi berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan budaya sekaligus memperkuat hubungan antarwarga. Hal ini juga menjadi bukti adanya akulturasi budaya yang harmonis.
- Grebeg Maulud (Yogyakarta dan Surakarta): Arak-arakan gunungan nasi dan hasil bumi dari keraton menuju masjid agung.
- Muludan (Cirebon): Istilah lokal untuk peringatan Maulid Nabi.
- Walima (Gorontalo): Tradisi khusus perayaan Maulid di Gorontalo.
- Bungo Lado (Padang Pariaman): Pohon hias dari daun merah menyerupai cabai, disumbangkan ke panti asuhan.
- Maudu Lompoa (Gowa): Mengarak ratusan paket makanan dengan perahu di sungai, diiringi ribuan telur.
- Meuripee dan Kuah Beulangong (Aceh): Warga berpatungan membeli sapi untuk dimasak kari daging khas Aceh.
- Baayun Maulid (Kalimantan Selatan): Mengayun bayi atau anak sebagai ungkapan syukur sambil membaca syair maulid.
- Maulid Nabi di Banyuwangi: Di Banyuwangi, tradisi perayaan Maulid Nabi yaitu endhog-endhogan, menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
- Maulid Nabi di Jepara: Peringatan Maulid Nabi di Jepara dirayakan dengan pembacaan kitab al-Barzanji, sebuah kitab yang berisi syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini juga melibatkan pengarakkan ratusan telur yang ditancapkan pada jodang pohon pisang dan ancak, wadah yang berisi nasi dan lauk-pauk.
- Maulid Nabi di Lombok: Di Lombok, tradisi perayaan Maulid Nabi diwarnai dengan tradisi membunyikan alat musik gerantung selama 24 jam tanpa henti. Musik gerantung ini menjadi simbol kebersamaan dan semangat yang terus menyala dalam memperingati kelahiran Nabi.
Alasan Sunnah Merayakan Maulid Nabi
1. Perayaan Maulid Nabi merupakan ungkapan rasa bahagia atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang membawa banyak kebaikan bagi umat manusia di dunia dan akhirat.
Menariknya, Abu Lahab, yang dikenal sebagai penentang dakwah Nabi, mengalami pengurangan siksaan di neraka setiap hari Senin. Hal ini terjadi karena dia merasa senang dengan kelahiran Nabi Muhammad dan bahkan memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai bentuk kegembiraannya.
Bila Abu Lahab yang ahli neraka saja merasa gembira dengan kelahiran Nabi Muhammad hingga mendapatkan berkahnya, apalagi bila kita selalu merasakan kegembiraan atas kelahiran beliau, dan wafat sebagai orang yang beriman.
2. Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan berpuasa pada hari Senin sebagai bentuk rasa syukur atas kelahirannya. Dengan kelahiran beliau, umat manusia diberikan cahaya agama Islam yang menerangi kehidupan. Kita sebagai umat Nabi seharusnya selalu bersyukur atas kehadiran Baginda Nabi.
عن أبي قتادة الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم سئل عن صوم الاثنين ؟ فقال فيه ولدت وفيه أنزل علي
Dalam sebuah riwayat, Abu Qatadah al-Anshari menyampaikan bahwa ketika ditanya mengenai puasa di hari Senin, Rasulullah bersabda, "Di hari Senin-lah aku dilahirkan dan di hari Senin-lah diturunkan (Al-Qur'an) kepadaku" (HR Muslim).
3. Allah memerintahkan kita untuk bersuka cita atas rahmat dan pertolongan yang diberikan-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا
Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira” (QS Yunus: 58). Dan rahmat terbesar yang Allah berikan bagi kita adalah lahirnya Baginda Nabi Muhammad saw.
4. Perayaan Maulid Nabi biasanya diisi dengan pembacaan sejarah hidup Nabi, mulai dari kelahirannya, akhlak mulia, ciri fisik, hingga mukjizat yang diberikan Allah kepadanya.
Kegiatan ini tidak hanya menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad, tetapi juga memperkuat iman kita. Selain itu, perayaan ini juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi, sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur'an untuk banyak membaca shalawat.
5. Perayaan Maulid Nabi dipandang sebagai bid'ah hasanah (baik) yang telah diwariskan oleh umat Islam dari generasi ke generasi. Umumnya, acara ini disertai dengan ceramah agama yang memberikan nasihat bermanfaat dan suguhan makanan bagi para hadirin.
قال عبد الله بن مسعود ما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن و ما رآه المسلمون سيئا فهو عند الله سيىء
Artinya: Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Perkara yang dilihat umat Islam sebagai perkara yang baik maka perkara tersebut baik di sisi Allah, dan perkara yang dilihat umat Islam sebagai perkara yang buruk maka perkara tersebut buruk disisi Allah” (HR Ahmad).
Para ulama fiqih juga menetapkan bahwa setiap tindakan dinilai berdasarkan tujuannya. Oleh karena itu, perayaan Maulid Nabi dianggap sunnah karena tujuannya adalah untuk meneladani dan bershalawat kepada Baginda Nabi.
Amalan dan Bacaan Penting Saat Maulid Nabi
Dalam peringatan Maulid Nabi, salah satu amalan yang paling utama adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai wujud cinta dan penghormatan. Sholawat merupakan doa yang berisi pujian dan salam kepada Rasulullah, serta menjadi ibadah yang dijanjikan mendatangkan syafaat dan keberkahan. Allah SWT telah memerintahkan umat-Nya untuk bersholawat kepada Nabi.
Selain itu, pembacaan kitab-kitab maulid seperti Barzanji, Diba'i, Simtuddurar, dan Burdah juga merupakan kegiatan yang umum dilakukan. Kitab-kitab tersebut mengandung puji-pujian dan kisah hidup Nabi Muhammad SAW, yang membantu umat untuk lebih memahami perjalanan hidup beliau. Mengenang kisah hidup dan perjuangan Rasulullah SAW melalui Sirah Nabawiyah juga menjadi bagian penting dari amalan dalam peringatan ini.
Beberapa jenis sholawat yang sering dibaca antara lain adalah Sholawat Fatih, Sholawat Nariyah, dan Sholawat Ibrahimiyah. Setiap jenis sholawat memiliki keutamaan dan makna yang mendalam yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, tadabbur Al-Quran, yaitu membaca dan memahami isi Al-Quran, juga menjadi salah satu cara untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.
- Sholawat Fatih: "Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammadinil Fatihi lima ughliqa..."
- Sholawat Nariyah: "Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaaman taamman 'alaa sayyidinaa Muhammadinil ladzii tanhallu bihil 'uqodu..."
- Sholawat Ibrahimiyah: "Allahumma shalli 'alaa muhammad wa'alaa aali Muhammad, kamaa shallaita 'alaa ibraahiima wa'alaa aali ibraahiima..."
Contoh Khutbah Maulid Nabi
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ . فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah swt. atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam kita haturkan kepada Rasulullah saw. Semoga kita selalu menjadi hamba yang bersyukur dan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad saw di hari kiamat. Amin.
Saat ini kita berada di bulan Rabiul Awwal, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai bulan Maulid. Bulan ini menjadi istimewa karena kita merayakan kelahiran Nabi Muhammad saw, sosok yang paling mulia dan menjadi teladan bagi umat manusia. Kita diperintahkan untuk bershalawat kepada beliau, dan tidak hanya kita, bahkan Allah swt dan para malaikat juga bershalawat kepada Nabi. Ini tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 56:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Kehadiran Nabi Muhammad di dunia membawa misi penting untuk memperbaiki akhlak manusia. Misi ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan elemen vital dalam kehidupan, yang dapat menciptakan perdamaian dan ketentraman dalam interaksi sosial. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Baihaqi, dan Hakim, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ
“Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Akhlak menjadi pilar utama dalam karakter seorang muslim, sehingga para ulama mengungkapkan bahwa "Al-Adabu fauqal ilmi". Adab dan akhlak harus diutamakan di atas ilmu, yang berarti bahwa setiap muslim perlu menanamkan nilai-nilai ini dalam diri mereka. Dalam dunia pendidikan, aspek afektif, yang mencakup sikap dan karakter, seharusnya lebih diutamakan dibandingkan dengan aspek kognitif atau kepintaran. Oleh karena itu, peran guru dan orang tua sangat penting dalam mendidik generasi muda agar menjadi pribadi yang baik, bukan hanya pintar secara akademis.
Pendidikan karakter dan akhlak di kalangan generasi muda saat ini sangatlah krusial. Hal ini disebabkan oleh berbagai tantangan dan godaan yang muncul akibat kemajuan teknologi yang pesat. Kita dapat melihat bahwa perkembangan teknologi dan informasi telah membawa ancaman terhadap moralitas, yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pemuda yang akhlaknya mulai tergerus oleh gaya hidup digital di era modern ini.
Tindakan kriminal, asusila, dan kurangnya kepedulian sosial dapat dengan mudah kita saksikan. Generasi muda saat ini lebih asyik berinteraksi di dunia maya dengan ponselnya ketimbang bersosialisasi secara langsung. Kebiasaan berkomentar di media sosial yang tidak memperhatikan etika komunikasi juga dapat membawa dampak negatif dalam interaksi mereka di dunia nyata, sehingga mereka cenderung tidak membedakan cara berbicara dengan teman dan orang tua.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Fenomena-fenomena ini seharusnya menjadi perhatian kita semua, terutama para orang tua. Momentum Maulid Nabi Muhammad saw adalah saat yang tepat untuk memperkuat pengawasan terhadap akhlak generasi penerus kita. Kita perlu memantau aktivitas mereka saat menggunakan handphone agar nilai-nilai akhlak tetap terjaga. Akhlak adalah ukuran apakah seseorang menjadi insan yang baik atau tidak, bukan kepintaran semata. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Umar:
خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.”
Sudah saatnya kita meneladani akhlak Nabi yang merupakan contoh terbaik, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Selain menjadikan Maulid sebagai momentum untuk menjaga akhlak generasi muda, mari kita gunakan bulan Maulid ini untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas shalawat serta cinta kita kepada Nabi Muhammad. Dengan memperbanyak shalawat, insya Allah hidup kita akan menjadi lebih nikmat karena kita mendapatkan syafaat di hari kiamat.
Syafaat dari Nabi Muhammad sangat penting untuk kita raih, karena kita tidak tahu ibadah mana yang akan diterima di sisi Allah. Meskipun kita merasa ibadah kita sudah optimal, belum tentu itu diterima di hadapan-Nya. Oleh karena itu, kita harus terus berdoa untuk mendapatkan rahmat Allah dan memperbanyak shalawat kepada Nabi agar kita mendapatkan syafaatnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, terdapat kisah seorang sahabat yang mengeluh kepada Nabi tentang kurangnya rajin dalam beribadah, namun ia memiliki cinta yang besar kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi pun memberikan kabar gembira bahwa sahabat tersebut akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
"Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah. Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Semoga kita bisa meneruskan dan mewujudkan misi Nabi kepada generasi muda, yaitu menjadikan akhlak yang mulia sebagai fondasi peradaban kehidupan manusia. Semoga kita selalu dapat meneladani akhlak Nabi dan menjadi umatnya yang mendapatkan syafaat serta masuk ke dalam surga Allah swt. Amin.
Khutbah ini dikutip dari laman resmi Kementerian Agama RI.