Mengenal Salman Al-Farisi, si Jago Perang asal Iran yang Selamatkan Madinah
Salman Al-Farisi adalah sosok yang memperkenalkan serta merancang strategi perang Khandaq.
Nama Salman Al-Farisi mungkin tidak sepopuler sahabat Nabi lainnya, seperti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, atau Abu Bakar. Namun, perannya tercatat dengan jelas dalam sejarah perkembangan awal Islam. Sebagaimana namanya, Salman Al-Farisi adalah seorang pria asal Persia, yang kini wilayahnya dikenal sebagai Iran.
Pada masa itu, Persia merupakan sebuah kerajaan yang sangat maju, memiliki pengetahuan dan teknologi yang jauh lebih berkembang dibandingkan dengan wilayah lain, termasuk Arab. Oleh karena itu, masyarakat Persia pada waktu itu memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain.
Salman Al-Farisi adalah salah satu contoh dari masyarakat yang berpengetahuan tersebut. Ia dikenal sebagai seorang ahli strategi perang. Meskipun kehidupannya sehari-hari tampak sederhana, pengetahuannya tentang taktik perang yang ia pelajari membuatnya sangat berkontribusi dalam perang Khandaq. Sesuai dengan namanya, strategi yang digunakan dalam perang Khandaq melibatkan penggunaan parit sebagai garis pertahanan.
Strategi ini berhasil membingungkan para pemimpin Quraisy yang berencana menyerang Madinah dengan jumlah pasukan yang besar. Akibatnya, pasukan Quraisy terpaksa terhenti selama beberapa hari karena tidak dapat menembus pertahanan Madinah, dan akhirnya mereka mundur dalam keadaan kacau.
Dalam berbagai sumber yang dikompilasi, kisah perjuangan Salman Al-Farisi ini ditulis pada Rabu (25/6/2025). Ia adalah sosok yang tidak hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga keberanian dan dedikasi yang tinggi untuk membela agama dan komunitasnya.
Riwayat Salman Al-Farisi
Salman al-Farisi dilahirkan di Desa Jayyun, yang terletak di Kota Isfahan, Persia. Pada masa itu, Persia merupakan sebuah imperium sangat besar, dengan wilayah yang luas mencakup sebagian jazirah Arab. Meskipun lahir di Persia, Salman al-Farisi awalnya mengikuti agama Majusi, yaitu penyembah api. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan keraguan yang mendalam mengenai kebenaran kepercayaan yang dianutnya.
Suatu ketika, dalam perjalanan untuk menjalankan tugas, Salman bertemu dengan seorang Nasrani. Melihat cara ibadah mereka, ia merasa tertarik dan memutuskan untuk memeluk agama Nasrani karena ajarannya yang sederhana. Namun, ketenangan yang dicari Salman tidak kunjung ia temukan. Ia mulai menyadari banyak pendeta yang hidup dalam kemewahan dan mengumpulkan harta dari penebusan dosa. Itu sangat bertentangan dengan ajaran yang seharusnya memberikan ketenangan jiwa.
Pencarian Salman akan kebenaran membawanya hingga ke jazirah Arab, di mana ia akhirnya bertemu dengan Rasulullah SAW. Pertemuan ini membawa ketenangan bagi hatinya, karena apa yang diucapkan Nabi sejalan dengan apa yang selama ini ia cari. Meskipun sebelumnya Salman adalah seorang bangsawan di Persia, ia dengan rela melepaskan semua atribut kebangsawanannya. Di Madinah, ia menjalani kehidupan yang sederhana, termasuk menganyam, sebuah keahlian yang ia pelajari semasa tinggal di Persia.
Walaupun hidup sederhana, kemampuan Salman al-Farisi sebagai ahli strategi perang tetap terjaga dengan baik. Sebagai seorang bangsawan, ia memiliki pengetahuan mendalam mengenai teknik perang dan strategi pertempuran, yang merupakan bagian dari pendidikan para bangsawan Persia.
Pengetahuan ini sangat berharga ketika umat Islam menghadapi ancaman dari tentara koalisi Bani Quraisy dan Yahudi (Ghathfan) di luar, serta serangan dari dalam kota Madinah oleh kaum Yahudi Bani Quraidlah. Mereka berencana untuk menyerbu Madinah dan menghancurkan ajaran Islam yang baru saja mulai berkembang.
Pembuatan Parit
Setelah dua kekuatan tersebut bersatu, mereka mempersiapkan diri untuk bertindak. Orang-orang Yahudi kemudian meninggalkan Makkah dan menuju Ghathafan untuk mengajak mereka berperang melawan Rasulullah SAW. Mereka melakukan provokasi terhadap orang-orang Ghathafan agar mendukung rencana mereka, dengan menjelaskan bahwa kaum Quraisy telah setuju dengan ide tersebut. Akibatnya, orang-orang Ghathafan pun bersatu dengan orang-orang Yahudi. Pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dari pihak Quraisy berangkat, sementara orang-orang Ghathafan dipimpin oleh Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr. Di sisi lain, Bani Nadhir yang merupakan kelompok Yahudi dipimpin oleh Sallam bin Abul Huqaiq. Total kekuatan koalisi kaum kafir mencapai 10.000 personel, dan menurut Syekh Wahbah Zuhaili, jumlah mereka bisa mencapai 15.000, sedangkan pasukan Muslim hanya berjumlah 3.000.
Ketika mendengar bahwa pasukan besar ini mendekati Madinah dengan persenjataan lengkap dan banyak perbekalan, kaum Muslimin menjadi panik. Mereka merasa seolah kehilangan akal menghadapi situasi yang tak terduga ini. Keadaan mereka digambarkan dalam al-Quran:
"Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah." (Q.S. 33 al-Ahzab:10). Mendapatkan berita ini, Nabi Muhammad SAW segera mengumpulkan sahabat-sahabat terkemuka untuk membahas strategi menghadapi serangan dari pasukan al-Ahzab atau koalisi, termasuk Salman al-Farisi.
Salman al-Farisi kemudian mengajukan ide cemerlang. Ia menyarankan agar umat Islam menggali parit (khandaq) untuk menghalangi pergerakan pasukan koalisi yang besar, terutama pasukan berkuda yang terkenal ganas. Parit ini akan menjadi penghalang yang efektif bagi musuh. Dengan pengalaman luas yang dimiliki Salman mengenai teknik dan taktik perang di Persia, kaum Muslimin pun bekerja sama untuk segera membangun parit tersebut. Proses pembangunan parit ini memakan waktu sekitar sembilan hari, dan mereka melakukannya dengan semangat gotong royong.
Peristiwa Pengepungan Madinah dan Badai Pasir Terjadi Bersamaan
Parit dibangun di bagian utara kota Madinah, yang berfungsi menghubungkan dua ujung daerah Harran Waqim dan Harrah al-Wabrah. Lokasi ini merupakan satu-satunya jalur terbuka yang dihadapi oleh pasukan musuh, sementara sisi lainnya telah menjadi benteng alami karena dikelilingi oleh gunung-gunung tinggi yang dipenuhi dengan pohon-pohon kecil dan palem, sehingga menyulitkan unta dan pejalan kaki untuk melintasinya. Panjang parit tersebut mencapai 5.544 meter, dengan lebar 4,62 meter dan kedalaman 3,234 meter. Rasulullah Saw bersama 3.000 pengikutnya berangkat menuju Gunung Sil'un, di mana beliau mendirikan markas, sementara parit berfungsi sebagai pemisah antara mereka dan musuh.
Ketika pasukan Quraisy dan sekutunya tiba di Madinah, mereka terkejut melihat parit yang menghalangi akses mereka ke kota. Mereka menyadari bahwa strategi yang diterapkan oleh Rasulullah dan kaum muslimin kali ini berbeda dari taktik yang digunakan dalam peperangan sebelumnya. Berbagai usaha dilakukan untuk menerobos parit tersebut, namun semua usaha itu selalu gagal. Selama hampir sebulan, pertempuran yang terjadi hanya terbatas pada saling lempar panah. Hingga pada suatu ketika, beberapa tentara berkuda, termasuk Amr bin Abdu Wadd Al Amiri, berhasil melewati parit. Amr dikenal memiliki kekuatan yang setara dengan 100 orang.
Melihat situasi ini, Rasulullah memerintahkan untuk menghadapi Amr. Ali bin Abi Thalib kemudian maju dan berhasil mengalahkan serta membunuhnya. Setelah sebulan pengepungan, Nua'im bin Mas'ud dari Bani Ghathafan yang memeluk Islam secara diam-diam, dengan kecerdasannya berhasil memecah belah pasukan koalisi. Perpecahan ini sangat menguntungkan kaum muslimin karena menyebabkan kekuatan musuh semakin melemah dan sebagian dari mereka merasa enggan untuk melanjutkan pertempuran melawan Rasulullah Saw.
Keberuntungan kaum muslimin tidak berhenti di situ, karena pada saat yang bersamaan, Allah Swt mengirimkan pertolongan berupa badai pasir yang menghancurkan kemah-kemah musuh, menakut-nakuti hewan tunggangan mereka, serta merusak periuk-periuk dan memadamkan api mereka. Dalam keadaan yang semakin tidak menguntungkan, pasukan musuh akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kembali ke tempat asal mereka dengan penuh kekalahan. Peristiwa ini menjadi bukti kebenaran firman Allah dalam Surat Al Ahzab: 9.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan."