Di penghujung bulan suci Ramadhan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kota Cirebon, Jawa Barat, menjadi magnet bagi masyarakat. Ribuan pengunjung berbondong-bondong datang untuk beribadah sekaligus menikmati wisata religi yang kaya sejarah.
Sejak sore hari, aktivitas jamaah tampak meningkat, memenuhi area masjid dan pelatarannya. Mereka datang silih berganti, baik individu maupun bersama keluarga, menanti waktu berbuka puasa.
Kehadiran masjid bersejarah ini, yang terletak di kawasan Keraton Kasepuhan, menawarkan suasana spiritual yang khas. Ini menjadi ruang refleksi bagi para pengunjung dari berbagai daerah yang mencari ketenangan batin.
Advertisement
Advertisement
Masjid Agung Sang Cipta Rasa mempertahankan arsitektur tradisional dengan nuansa klasik yang tetap terjaga. Tampilan luarnya sederhana, ditandai gerbang bata merah yang menjadi ciri utama bangunan. Ornamen kaligrafi di bagian atas pintu menambah kesan historis sekaligus sakral, memperkuat identitas masjid.
Memasuki bagian dalam, suasana masjid terasa lapang dan terbuka, didominasi oleh tiang-tiang kayu besar berwarna gelap. Tiang-tiang ini menopang atap berbentuk limasan khas arsitektur Jawa. Susunan rangka atap yang terlihat jelas memperkuat kesan tradisional dan memperlihatkan teknik konstruksi masa lampau.
Lantai masjid menggunakan ubin berwarna cokelat mengilap dengan garis-garis saf yang tersusun rapi, memudahkan jamaah dalam beribadah. Pencahayaan dari lampu gantung klasik di bagian tengah serta beberapa lampu tambahan menciptakan suasana hangat dan tenang. Kesederhanaan ornamen justru menghadirkan kesan khusyuk, menjadikan ruangan sejuk dan cocok untuk beribadah atau beristirahat.
Advertisement
Masjid ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Cirebon yang masih berdiri hingga saat ini, didirikan pada abad ke-15. Pembangunannya berkaitan erat dengan penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati dan menjadi bagian dari kawasan Keraton Kasepuhan. Nama “Sang Cipta Rasa” sendiri berasal dari kata “Sang” yang bermakna keagungan, “Cipta” yang berarti dibangun, dan “Rasa” yang merujuk pada pemanfaatannya.
Advertisement
Banyak pengunjung memanfaatkan momen akhir Ramadhan untuk singgah di Masjid Agung Cirebon. Salah satunya Nana, pengunjung asal Tangerang, yang mengaku sengaja menyempatkan diri saat mudik ke Beber, Cirebon. Ia ingin sekalian salat dan berjalan-jalan di malam terakhir Ramadhan.
Nana mengungkapkan bahwa kunjungannya tidak hanya didorong oleh momentum Ramadhan, tetapi juga karena nilai sejarah yang melekat pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa. “Ini kan patilasan para wali. Saya percaya shalat di sini bisa dapat berkah. Itu yang bikin istimewa,” katanya. Kunjungan ke masjid tersebut menjadi kebiasaan setiap kali pulang kampung, terutama saat ada kegiatan keagamaan.
Pintu masuk masjid yang relatif rendah menjadi salah satu ciri khas, yang dimaknai sebagai simbol kerendahan hati bagi setiap orang yang datang untuk beribadah. Masjid ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi, terutama pada momen-momen tertentu.
Advertisement
Advertisement
Selain musafir, ada juga pengunjung yang datang dengan tujuan spiritual yang lebih mendalam. Wahyono, warga Karawang, mengaku menjalani ibadah i’tikaf selama hampir satu bulan penuh di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. “Saya di sini i’tikaf satu bulan Ramadhan. Kegiatannya ibadah saja, dari maghrib sampai subuh,” katanya.
Wahyono mengaku merasakan ketenangan batin selama menjalani ibadah di masjid tersebut, sesuatu yang menurutnya sulit ditemukan di tempat lain. “Batin jadi lebih tenang, tidak memikirkan hal-hal duniawi. Rasanya luar biasa,” ujarnya. Pengalaman tersebut memberikan refleksi mendalam tentang kehidupan, terutama dalam mengurangi ketergantungan pada hal-hal yang bersifat duniawi.
Ia juga menyebut momen akhir Ramadhan sebagai waktu yang paling berkesan selama menjalani i’tikaf karena dianggap sebagai puncak dari rangkaian ibadah selama satu bulan penuh. “Ini malam kemenangan. Belum tentu tahun depan bisa merasakan lagi seperti sekarang,” ujarnya. Selama menjalani i’tikaf, Wahyono mengisi waktunya sepenuhnya untuk beribadah, dengan rutinitas yang dijalani secara konsisten setiap hari.
Advertisement
Wahyono menilai keberadaan Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak terlepas dari sejarah penyebaran Islam di Cirebon yang berkaitan dengan para wali. “Kalau tidak ada jasa para wali, mungkin Islam di Indonesia tidak sebesar sekarang. Jadi saya datang ke sini untuk menghargai perjuangan mereka,” katanya.
Sumber: AntaraNews