Jepang Memperingatkan Adanya Peningkatan Risiko Gempa Besar Usai Magnitudo 7,7
Megaquake, atau gempa besar, merujuk pada gempa bumi yang memiliki kekuatan sangat besar, umumnya dengan magnitudo 8,0 atau lebih.
Gempa berkekuatan 7,7 mengguncang lepas pantai Sanriku, Jepang bagian utara, pada Senin (20/4/2026). Awalnya, magnitudo gempa ini dilaporkan sebesar 7,5 sebelum Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperbarui datanya.
Kejadian ini tidak hanya menyebabkan terjadinya tsunami kecil, tetapi juga memicu pemerintah untuk mengingatkan masyarakat akan meningkatnya risiko gempa besar (megaquake) di kawasan pesisir. Menurut pernyataan dari Kantor Kabinet Jepang dan JMA, kemungkinan terjadinya megaquake dalam satu minggu ke depan diperkirakan mencapai 1 persen, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal yang biasanya hanya sekitar 0,1 persen.
Peningkatan risiko ini disebabkan oleh lokasi pusat gempa yang berada di Samudra Pasifik pada kedalaman sekitar 20 km, dekat dengan Palung Jepang dan Palung Chishima, yang merupakan zona tektonik aktif di daerah tersebut. Namun, seperti yang dikutip dari laporan Associated Press, pejabat setempat menegaskan bahwa peringatan ini tidak dimaksudkan sebagai prediksi gempa, melainkan sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akibat adanya peningkatan risiko.
Masyarakat di 182 kota dan desa di sepanjang pesisir timur laut diminta untuk tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga harus meningkatkan kesiapsiagaan mereka.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa penting bagi warga untuk mengetahui lokasi tempat evakuasi yang telah ditetapkan, memahami jalur evakuasi, serta memeriksa persediaan makanan darurat dan tas siaga. Hal ini sangat penting agar mereka dapat segera menyelamatkan diri jika terjadi gempa besar.
"Pemerintah akan melakukan segala upaya dalam menghadapi keadaan darurat," ujarnya.
Peringatan ini adalah yang kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, peringatan serupa juga dikeluarkan setelah gempa dengan magnitudo 7,5 pada bulan Desember, namun saat itu tidak terjadi megaquake.
Gelombang Tsunami Kecil
Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana melaporkan bahwa dua orang mengalami luka-luka, masing-masing di Aomori dan Iwate, akibat terjatuh saat gempa yang terjadi pada Senin. Menurut informasi dari badan meteorologi, gempa tersebut terjadi pada pukul 16.53 waktu setempat.
Rekaman yang ditayangkan oleh NHK menunjukkan benda-benda yang bergoyang dan orang-orang berjongkok di sebuah pusat perbelanjaan di Aomori. Pada saat itu, warga diminta untuk segera mencari tempat yang lebih tinggi dan menjauhi wilayah pesisir demi keselamatan mereka.
Layanan kereta cepat Shinkansen yang menghubungkan Tokyo dengan wilayah utara Jepang sempat dihentikan sementara. Akibatnya, penumpang harus menunggu di dalam kereta maupun di peron hingga layanan kembali normal.
Gelombang tsunami setinggi sekitar 80 sentimeter terdeteksi di Pelabuhan Kuji di Prefektur Iwate dalam waktu satu jam setelah terjadinya gempa. Selain itu, tsunami setinggi 40 sentimeter juga tercatat di pelabuhan lain di wilayah yang sama, menunjukkan dampak serius dari kejadian tersebut.
Pusat Peringatan Tsunami Pasifik yang berbasis di Amerika Serikat, Pacific Tsunami Warning Center, kemudian menyatakan bahwa ancaman tsunami telah berlalu. Beberapa jam setelah itu, Jepang mencabut seluruh peringatan dan imbauan tsunami.
Otoritas Regulasi Nuklir memastikan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir serta fasilitas terkait di wilayah tersebut berada dalam kondisi aman dan tidak ditemukan adanya masalah. Badan manajemen bencana menyatakan bahwa lebih dari 180.000 orang di lima prefektur di wilayah utara, dari Hokkaido hingga Fukushima, sempat diminta untuk berlindung di tempat aman.
Gempa yang terjadi pada Senin ini merupakan peringatan, karena terjadi 15 tahun setelah gempa magnitudo 9,0 dan tsunami pada 11 Maret 2011. Peristiwa tersebut menghancurkan sebagian besar wilayah utara Jepang, menewaskan lebih dari 22.000 orang, serta memaksa hampir setengah juta orang meninggalkan rumah mereka, sebagian besar akibat tsunami.
Kejadian ini mengingatkan kembali masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam yang tidak terduga.