Fasilitas Nuklir Utama Iran yang Dibom AS Adanya di Dalam Perut Gunung di Bawah Tanah
Donald Trump mengumumkan bahwa ia mengklaim telah berhasil melakukan serangan terhadap tiga lokasi nuklir milik Iran.
Amerika Serikat (AS) ikut serta dalam pertempuran Iran dan Israel. Presiden AS, Donald Trump mengumumkan bahwa ia mengklaim telah berhasil melakukan serangan terhadap tiga lokasi nuklir milik Iran.
Lokasi dugaan nuklir Iran yang tersembunyi di balik deretan pegunungan dekat kota suci Qom, Iran, fasilitas nuklir ini yang paling misterius dan dijaga ketat di dunia, yaitu Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow.
Berdasarkan citra satelit terbaru, kompleks ini terdiri dari lima terowongan yang masuk ke dalam gunung, dilengkapi dengan struktur pendukung yang besar serta sistem keamanan yang ketat.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kedalaman Fordow yang mencapai 80 hingga 90 meter di bawah permukaan tanah, menjadikannya tidak dapat dijangkau oleh bom udara konvensional, bahkan oleh Israel.
Sebelumnya, fasilitas ini pertama kali diungkap ke publik pada tahun 2009, ketika Presiden AS Barack Obama, bersama dengan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, mengumumkan keberadaan Fordow.
Mereka menyatakan bahwa ukuran dan konfigurasi fasilitas tersebut tidak sesuai dengan tujuan program nuklir sipil. Beberapa hari sebelum pengumuman itu, Iran secara mendesak menginformasikan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai pembangunan fasilitas pengayaan bahan bakar baru, seperti yang dilaporkan oleh CNN pada Kamis (19/6).
Walaupun Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai, Fordow tetap menjadi simbol kecurigaan di kalangan komunitas internasional mengenai ambisi nuklir Teheran.
Dalam suratnya kepada IAEA, Iran mengklaim bahwa Fordow dibangun sebagai fasilitas cadangan jika Natanz diserang, dengan kapasitas yang disebut-sebut mencapai 3.000 sentrifus.
Fordow diyakini mulai dibangun pada awal tahun 2000-an sebagai bagian dari program senjata nuklir Iran. Menurut David Albright, seorang pakar nuklir dari Institut Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Internasional (ISIS), proyek ini dirancang untuk memproduksi uranium tingkat senjata dengan memanfaatkan pasokan uranium yang diperkaya rendah dari program sipil Iran.
Keberadaan Fordow semakin mencuat pada tahun 2018, ketika Israel mengumumkan bahwa badan intelijennya telah menyita lebih dari 55.000 dokumen dari apa yang mereka sebut sebagai "arsip atom" Iran. Di dalam dokumen tersebut terdapat cetak biru dari fasilitas Fordow serta rincian mengenai tujuan penggunaannya, yaitu untuk memproduksi cukup uranium guna satu atau dua bom nuklir setiap tahunnya.
Iran Kembangkan Teknologi Nuklir
Meskipun Iran menolak tuduhan tersebut dan menganggap pengungkapan itu sebagai "kekanak-kanakan," dokumen yang ada justru menambah kekhawatiran bahwa Teheran tidak hanya berambisi untuk mengembangkan teknologi nuklir, tetapi juga senjata.
Saat ini, Fordow kembali menjadi perhatian setelah laporan terbaru dari IAEA menyatakan bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga 60% di fasilitas tersebut.
Angka ini hanya satu langkah lagi menuju tingkat senjata. Dengan adanya 2.700 sentrifus yang aktif, para ahli memperkirakan bahwa Iran mampu menghasilkan cukup bahan untuk sembilan senjata nuklir dalam waktu hanya tiga minggu.
Namun, masalahnya adalah menghancurkan Fordow bukanlah tugas yang mudah. Bahkan bom penghancur bunker paling kuat yang dimiliki AS, yaitu GBU-57 "Massive Ordnance Penetrator," yang hanya dapat dibawa oleh pesawat pembom siluman B-2, diperkirakan tidak akan mampu menembus kedalaman Fordow dalam satu kali serangan.
Laporan dari Royal United Services Institute (RUSI) menyatakan bahwa untuk melaksanakan misi tersebut, dibutuhkan beberapa kali serangan pada titik yang sama, yang merupakan sebuah tantangan besar bagi Angkatan Udara AS, apalagi bagi Israel yang tidak memiliki pesawat pembom seperti itu.
Amerika Serikat yang Miliki Kemampuan Militer
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, mengakui bahwa hanya Amerika Serikat yang memiliki kemampuan militer untuk menghancurkan fasilitas Fordow dari udara.
Dia juga menambahkan bahwa ada opsi lain, seperti menghancurkan akses terowongan dan sistem ventilasi, yang dapat mengganggu operasi Fordow selama beberapa bulan.
Ancaman yang ada memang nyata, namun bukan satu-satunya. Meskipun Fordow kini menjadi simbol ambisi nuklir Iran, para ahli memperingatkan bahwa penghancuran fasilitas ini tidak akan mengakhiri ancaman sepenuhnya.
"Jika Anda menghancurkan Fordow, masalahnya belum selesai. Pertanyaannya adalah: berapa banyak sentrifus yang telah dibuat Iran dan disembunyikan di tempat lain?" ungkap Albright.
Dengan meningkatnya potensi produksi uranium dan lokasi strategis Fordow yang sulit dihancurkan tanpa intervensi militer besar dari AS, fasilitas ini menjadi pusat ketegangan geopolitik baru.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan diplomasi yang rentan, satu hal yang jelas: selama Fordow masih ada, dunia akan terus terjebak dalam kecemasan terkait potensi senjata nuklir Iran.
AS Berhasil Lakukan Serangan Bom ke 3 Situs Nuklir Iran
Mengutip dari aljazeera.com, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan bahwa American Forces atau pasukan Amerika telah berhasil melakukan serangan berupa bom ke 3 situs nuklir milik Iran. Serangan itu menyasar Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Hal itu secara jelas juga diungkapkan oleh Trump melalui akun X pribadinya. Trump mengatakan jika ia telah sukses menyerang 3 lokasi nuklir Iran.
"Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan," tulis Trump.