Donald Trump: Kuba akan Runtuh Segera!
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menerapkan tarif kepada negara-negara yang berani memasok minyak ke Kuba.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan ancaman terhadap negara-negara yang mengirimkan pasokan minyak ke Kuba dengan rencana kenaikan tarif. Meskipun rincian spesifik mengenai tarif tersebut belum diumumkan, Trump telah menguraikannya dalam sebuah perintah eksekutif.
Menurut laporan dari BBC pada Jumat (30/01/2026), Trump menyatakan pada hari Selasa lalu bahwa Kuba tidak akan bertahan lama, terutama karena sekutunya, Venezuela, telah berhenti memasok minyak dan bantuan keuangan setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
"Kuba akan runtuh segera. Kuba benar-benar sebuah negara yang sudah sangat dekat dengan kegagalan," kata Trump.
Dalam Perintah Eksekutif yang dikeluarkan pada Kamis, 28 Januari 2026, Trump menilai bahwa semua kebijakan dan tindakan Pemerintah Kuba merupakan ancaman besar bagi Amerika Serikat. Ia bahkan menuduh Havana sebagai tempat berlindung bagi musuh-musuh berbahaya.
Sebelumnya, Trump sempat meminta agar Kuba bersedia melakukan negosiasi, meskipun syarat dan konsekuensi dari kesepakatan tersebut tidak dijelaskan secara rinci. Menanggapi tekanan ini, Presiden Kuba, Miguel Daz-Canel, menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki otoritas moral untuk memaksakan kesepakatan terhadap negaranya.
Dalam konsistensinya, Trump melanjutkan sanksi dengan menyita kapal tanker minyak Venezuela yang ditujukan untuk Kuba. Sementara itu, Kuba juga menghadapi tantangan pemadaman listrik bergilir. Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, tetap optimis dan meyakinkan pemerintahnya bahwa Kuba mampu mengimpor bahan bakar dari negara mana pun tanpa campur tangan dari Amerika Serikat.
Mengapa Memilih Kuba?
Sejak Revolusi 1959, Kuba telah berada di bawah pemerintahan komunis. Amerika Serikat menganggap pemerintahan Kuba sebagai rezim otoriter yang melanggar hak asasi manusia dan tidak mendukung prinsip demokrasi.
AS melihat rezim komunis di Kuba sebagai musuhnya. Oleh karena itu, pemerintahan Trump berusaha untuk melemahkan ekonomi Kuba agar pemerintahannya tertekan untuk melakukan perubahan.
Kuba sangat bergantung pada impor minyak dari negara-negara sekutunya seperti Venezuela, Rusia, dan Iran. Dengan mengeluarkan ancaman tarif, AS berupaya membatasi pengaruh lawan-lawan geopolitiknya di wilayah Karibia.
Menurut CNBC, pada hari Jumat (30/01/2026), pemerintahan Trump saat ini sedang berusaha untuk mengganti kepemimpinan di Kuba. AS dilaporkan tengah mencari "orang dalam" di pemerintahan Havana yang dapat membantu mendorong jatuhnya rezim komunis tersebut.
Intinya, AS ingin memberikan tekanan yang cukup besar kepada Kuba dan mencegah negara-negara sekutunya untuk membantu negara tersebut keluar dari situasi sulit. Dengan strategi ini, AS berharap dapat dengan mudah memperluas pengaruhnya di kawasan Karibia.