Diduga Terlibat Genosida di Gaza, ini Dukungan yang Diberikan Microsoft ke Israel
Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) menuntut Microsoft bertanggung jawab usai diduga terlibat mendukung Israel melakukan genosida di Gaza.
Perusahaan teknologi multinasional yang bergerak di bidang perangkat lunak Microsoft disebut terlibat dalam kejahatan genosida di Gaza oleh Israel.
Dikutip dari Middel East Monitor, Selasa (15/4) sebuah organisasi HAM, Skyline International for Human Rights mengatakan Microsoft harus bertanggung jawab usai mendukung tentara pendudukan Israel di Jalur Gaza.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan, Microsoft terindikasi memberikan bantuan dana senilai USD 10 juta melalui platform cloud milik mereka, Azure.
Adapun setoran dana tersebut dilakukan sejak awal mula perang terjadi di Gaza pada Oktober 2023.
Fasilitasi Israel Teknologi
Pendanaan Microsoft digunakan untuk berbagai keperluan di bidang teknologi informasi.
Dalam sebuah laporan terungkap bahwa dukungan Microsoft mencakup layanan manajemen data, pengembangan sistem penargetan, kemajuan dalam teknologi pengawasan, dan penyediaan alat AI mutakhir.
Salah satunya adalah sistem 'Lavender', yaitu sebuah program bertenaga AI yang dirancang untuk mengidentifikasi target pengeboman. Sistem tersebut disebut sebagai dalang di balik kematian puluhan ribuan warga sipil di Gaza.
Selain itu, Microsoft juga memasok teknologi pengawasan biometrik untuk melacak warga Palestina.
"Sistem tersebut diterapkan saat jumlah korban tewas telah melampaui 50.800 orang, termasuk lebih dari 18.000 anak-anak," menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Langgar Prinsip PBB dan HAM
Dukungan Microsoft terhadap Israel disebut telah melanggar berbagai aspek seperti yang tertuang dalam Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan HAM, menurut laporan Skyline.
Organisasi tersebut mendesak Microsoft agar transparan dan membuka status hubungan mereka dengan Israel. Skyline juga mendesak agar Microsoft menghentikan bantuan mereka ke Israel termasuk kerja sama yang terkait dengan kegiatan militer.
Jika hal tersebut dilanjutkan, organisasi itu menganggap Microsoft telah melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia.
Pecat Karyawan Pro Palestina
Sebelumnya, Microsoft belum lama ini memecat dua karyawan yang memprotes kontrak teknologi perusahaan dengan militer Israel dalam sebuah acara ulang tahun ke-50 perusahaan.
Insiden ini terjadi saat perayaan yang dihadiri pendiri Microsoft Bill Gates dan mantan CEO Steve Ballmer, ketika kedua karyawan menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan Microsoft dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan militer.
Insinyur perangkat lunak Ibtihan Aboussad menjadi korban pemecatan oleh Bill Gates usai ia secara terang-terangan melempar syal keffiyeh ke arah panggung sebelum dibawa keluar ruangan.
Aksi serupa juga dilakukan oleh Vaniya Agrawal, yang dalam momen terpisah menuduh pimpinan Microsoft munafik dan menuntut pemutusan hubungan perusahaan dengan Israel.
Tak lama setelah peristiwa tersebut, Microsoft mengirim surat pemecatan kepada Aboussad, menuduhnya melakukan gangguan yang disengaja dan menciptakan kekacauan dalam acara resmi perusahaan.
Keputusan Microsoft memecat dua karyawannya menuai reaksi beragam, hingga perdebatan mengenai batasan kebebasan berekspresi karyawan dan tanggung jawab perusahaan teknologi dalam konflik bersenjata global.