Kantor Media Pemerintah Gaza kemarin mengatakan lebih dari 130 warga Palestina telah tewas dan sekitar 1.000 lainnya terluka di lokasi distribusi bantuan Gaza Humanitarian Foundation (GHF) bentukan Israel – Amerika Serikat (AS), sejak inisiatif tersebut dimulai pada akhir Mei.
"GHF tidak lebih dari sekedar alat propaganda tentara penjajah Israel yang dipimpin oleh perwira Amerika dan Israel, serta relawan dari luar Jalur Gaza, dengan pendanaan langsung dari AS dan koordinasi operasional bersama militer Israel,” kata Kantor Media Gaza, seperti dilansir The Cradle, Senin (9/6).
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa GHF tidak pernah berpihak kepada kemanusiaan. Sebaliknya, mereka membuatnya sebagai alat penindasan, kelaparan, dan pembunuhan terhadap warga sipil.
Advertisement
130 orang tewas dalam dua pekan
“Fakta yang diketahui semua orang adalah bahwa Israel menjadi satu-satunya pihak yang selama hampir 100 hari berturut-turut menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza,” lanjut pernyataan tersebut.
Mereka juga mengatakan bahwa bukti yang ada di lapangan menunjukkan GHF melalui tim-tim yang disponsori oleh pasukan penjajah, telah menyebabkan kematian lebih dari 130 warga sipil hanya dalam dua pekan.
“Korban yang tewas akibat tembakan langsung saat tengah mencoba mengakses paket bantuan pangan.”
Kantor Media Gaza menambahkan, sembilan orang masih hilang setelah “dijebak oleh GHF ke wilayah yang dikendalikan secara militer oleh tentara penjajah.”
⚡️BREAKING
— Warfare Analysis (@warfareanalysis) June 9, 2025
Hamas: The so-called “American-Israeli aid centers” have turned into systematic death traps, operated by the occupation army and American security companies.
They lure the starving into buffer zones under full military control, only to be shot. act that constitutes… pic.twitter.com/9DEjisxlxG
Advertisement
Gunakan Semprotan Merica
Di Tal al-Sultan dan Rafah, tentara Israel melepaskan tembakan kepada penduduk sipil yang telah berkumpul lebih awal, satu jam sebelum GHF mengumumkan distribusi dibuka pada pukul 12 siang.
Di lokasi Netzarim yang sama, kontraktor swasta asal AS dilaporkan menyemprot warga sipil dengan semprotan merica. Pasukan Israel kemudian melepaskan tembakan dan menewaskan satu orang.
Perancang dan pengelola GHF, yakni Boston Consulting Group (BCG) dikabarkan mundur dari proyek tersebut pada awal Juni. Meski GHF mengklaim peran BCG bersifat relawan, namun sumber Washington Post mengungkap bahwa perusahaan itu menagih biaya lebih dari USD 1 juta (Rp 16 miliar) per bulan kepada Israel.
Sementara itu, Reuters melaporkan, Washington berencana mengalokasikan dana sebesar USD 500 juta (Rp 8,1 triliun) kepada GHF melalui USAID atas permintaan Israel. Namun rencana ini mendapat penolakan internal dari sejumlah pejabat AS terkait kapasitas GHF serta keterkaitannya dengan sedikitnya 118 kematian di lokasi distribusi.
Pejabat Palestina menyerukan agar PBB kembali memegang kendali penuh atas distribusi bantuan. Menurutnya, PBB memiliki kapasitas, efisiensi, dan berlandaskan prinsip-prinsip kemanusiaan yang diakui secara internasional.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey