Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan penyatuan Irlandia akan menjadi sesuatu yang "fantastis" saat berkunjung akhir pekan ke sebuah turnamen di lapangan golf miliknya di Irlandia. Dikutip dari The Associated Press, Senin (14/9/2026), pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian agenda di Dublin.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia Miche�lal Martin di Dublin, Trump mengungkap keinginannya melihat Republik Irlandia bersatu dengan Irlandia Utara yang saat ini merupakan bagian dari Inggris Raya. "Saya tidak ingin menimbulkan masalah, tetapi saya ingin melihatnya bersatu," kata Trump kepada seorang wartawan yang meminta pendapatnya mengenai isu tersebut.
Trump melanjutkan, "Itu pada akhirnya akan terjadi. Jadi, sekalian saja terjadi sekarang." Ia juga menegaskan pandangannya, "Saya pikir itu akan menjadi hal yang fantastis," ujar presiden dari Partai Republik tersebut.
Di sisi lain, Trump menilai London juga akan terlibat dalam persoalan itu. "Inggris Raya jelas akan memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai hal itu," ujar Trump. Dalam agenda berikutnya, ia menyebut tidak ada "jawaban yang baik" atas pertanyaan terkait penyatuan Irlandia saat berbicara dengan para pemimpin bisnis dari kedua negara di kediaman Duta Besar AS.
Perdebatan masa depan Irlandia Utara lama dikenal sensitif. Wilayah yang terdiri dari enam county itu memiliki mayoritas penduduk Protestan dan tetap menjadi bagian dari Inggris Raya.
Dua kelompok utama di Irlandia Utara memiliki aspirasi berbeda. Kaum nasionalis, yang mayoritas Katolik, menginginkan penyatuan dengan Republik Irlandia, sementara kelompok unionis, yang mayoritas Protestan, ingin tetap bersama Inggris. Ketegangan memuncak dalam konflik The Troubles yang melibatkan kelompok paramiliter dari kedua pihak serta pasukan Inggris.
Kesepakatan damai 1998, yang prosesnya turut difasilitasi AS, sebagian besar mengakhiri kekerasan, namun status akhir Irlandia Utara tidak ditetapkan. Kesepakatan itu membuka peluang digelarnya pemungutan suara mengenai penyatuan jika terdapat indikasi bahwa mayoritas masyarakat akan memilih untuk bersatu.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham pada Rabu mengatakan Inggris hanya akan mempertimbangkan mengizinkan referendum "ketika opini publik telah berubah hingga pada titik di mana seruan tersebut harus dipertimbangkan." Kantor Burnham merujuk kembali pada pernyataan itu ketika diminta tanggapan atas komentar Trump.
Pernyataan Trump pada Sabtu, ditambah komentar terbarunya mengenai Kepulauan Falkland, juga dipandang sebagai sindiran kepada Inggris di tengah kemarahannya atas penolakan London untuk terlibat dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Advertisement
Trump Kembali Soroti Kepulauan Falkland
Trump kembali menyinggung potensi konflik antara Inggris dan Argentina terkait Kepulauan Falkland.
Presiden Argentina Javier Milei, sekutu Trump, baru-baru ini menegaskan lagi klaim negaranya atas wilayah berpenduduk sekitar 3.500 orang itu. Kepulauan Falkland berada sekitar 300 mil atau 480 kilometer di sebelah timur pantai tenggara Argentina.
Trump sebelumnya menyatakan Washington dapat mempertimbangkan kembali sikap netralnya mengenai kedaulatan atas kepulauan tersebut.
Pada Sabtu, ia menyampaikan keraguannya bahwa Inggris akan mampu merebut kembali Falkland seperti setelah invasi Argentina pada 1982.
"Saya yakin saya akan dipanggil untuk menangani potensi bencana itu, tetapi jika mereka melakukannya, saya mungkin akan mampu menyelesaikannya," kata Trump.
Selain itu, Trump bertemu Presiden Irlandia Catherine Connolly di Dublin. Connolly, politikus sayap kiri yang sempat bergabung dengan demonstran saat kunjungan Trump pada 2019, kini menjabat kepala negara Irlandia hasil pemilu dengan peran yang sebagian besar seremonial.
Sebagai pendukung perjuangan Palestina, Connolly sebelumnya mengkritik kebijakan AS di Timur Tengah dan pernah menyebut Trump sebagai seorang "pengganggu".
Usai pertemuan, Connolly mengatakan telah menyampaikan kepada Trump "pandangan kuat rakyat Irlandia bahwa normalisasi perang dan genosida tidak akan pernah dapat diterima." Ia juga memberikan sejumlah hadiah, termasuk koleksi karya mendiang penyair Irlandia Michael Longley yang memuat soneta berjudul "Ceasefire".
Ketika ditanya mengenai pertemuan itu, Trump sempat meminta kepala protokolnya, Monica Crowley, untuk menjawab. Namun setelah kembali ditanya, ia menyebut pertemuan tersebut berlangsung "sangat menyenangkan". "Kami membahas banyak hal, dengan cepat," ujar Trump.