Seorang guru MAN 3 Nganjuk, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, berinisial S (56), meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit usai terlibat cekcok dengan seorang siswa di lingkungan sekolah.
Pihak sekolah menyebut tidak ada tindakan kekerasan menyebabkan kondisi S memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (1/9) sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu, S yang merupakan warga Kota Kediri hendak masuk kelas untuk mengajar.
Sebelum mengajar, dia terlebih dahulu menuju kamar mandi siswa yang lokasinya berada di samping ruang kelas.
Advertisement
Penjelasan Sekolah
Humas MAN 3 Nganjuk, Ihwanus Sofa mengatakan, persoalan itu bermula dari kesalahpahaman terkait penggunaan fasilitas sekolah.
Pada saat bersamaan, terdapat seorang siswa hendak menggunakan toilet. Siswa tersebut kemudian menggedor pintu toilet di dalamnya terdapat S.
Tindakan tersebut membuat S mencari siswa dianggap menggedor pintu toilet. Setelah siswa tersebut ditemukan, terjadi cekcok singkat.
S diduga hendak menjewer siswa tersebut sebagai bentuk teguran. Namun siswa itu menangkis tangan S sehingga tubuh sang guru terhuyung dan hampir terjatuh.
"Mungkin (S) mau menjewer atau gimana, tapi si anak itu menolak. Akhirnya (S) terhuyung dan hampir jatuh. Guru dan siswa yang ada di sekitar situ menolongnya," kata Sofa.
Setelah kejadian itu, sejumlah guru berupaya menenangkan S. Kondisinya kemudian disebut sudah lebih tenang dan S memutuskan kembali menuju kelas untuk melanjutkan kegiatan mengajar.
Namun saat berjalan menuju ruang kelas, langkah S tiba-tiba terhenti. Tidak lama kemudian, S mengalami muntah dan kehilangan kesadaran.
"Sesudah itu almarhum tidak sadarkan diri. Almarhum dibawa ke Puskesmas terdekat kemudian dirujuk ke rumah sakit," ujar Sofa.
S selanjutnya menjalani perawatan di rumah sakit sekitar lima hari. Kondisinya tidak kunjung membaik hingga akhirnya S meninggal dunia pada Sabtu (5/9).
Menurut Sofa, pihak sekolah memperoleh informasi bahwa S sebelumnya memiliki riwayat penyakit hipertensi. Bahkan, berdasarkan pemeriksaan awal setelah kejadian, tekanan darah S disebut mencapai 240.
"Ketika pemeriksaan awal itu tensinya 240. Kalau kekerasan saya rasa kok tidak ya," kata Sofa.
Advertisement
Penyelidikan Polisi
Sementara itu, Kasi Humas Polres Nganjuk, AKP Fajar mengatakan, kepolisian telah menindaklanjuti informasi mengenai peristiwa tersebut. Kepolisian juga telah mendatangi kediaman S di Kota Kediri untuk berkoordinasi dengan pihak keluarga.
Berdasarkan rekam medis diketahui kepolisian, S memiliki riwayat hipertensi dan stroke.
Fajar mengatakan keluarga tidak menghendaki dilakukan visum terhadap jenazah S dan menerima kematian tersebut sebagai musibah.
"Polres Nganjuk sudah ke kediaman almarhum di Kediri. Keluarga menerima kejadian itu sebagai musibah. Dari rekam medis, almarhum sakit hipertensi dan stroke," kata Fajar.