Donald Trump menjanjikan pembayaran tunai sebesar US$ 5.000 atau sekitar Rp 87,6 juta (kurs 17.527 per US$) bagi setiap warga negara dewasa Amerika Serikat, dengan syarat Partai Republik merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat pada pemilu paruh waktu November. Janji itu ia sampaikan di konvensi Partai Republik di Dallas pada Rabu malam, dikutip dari The New York Times, Kamis (10/9/2026).
Trump memposisikan pemilu paruh waktu sebagai referendum atas kepemimpinannya dan meminta pemilih membayangkan namanya kembali tercantum di surat suara. "Saya meminta Anda berpura-pura bahwa saya ada di surat suara," kata Trump.
Usulan US$ 5.000 tersebut menjadi sorotan karena nilainya besar dan langsung dikaitkan dengan kemenangan Partai Republik. Belum ada penjelasan rinci mengenai mekanisme pelaksanaannya. Biaya program diperkirakan dapat melampaui US$1 triliun dan tetap memerlukan persetujuan Kongres.
Pada tahun sebelumnya, Kongres telah menolak seruan Trump untuk mengirim cek pengembalian dana sebesar US$ 2.000 kepada keluarga Amerika, rencana yang ketika itu disebut akan dibiayai dari pemasukan tarif yang diberlakukan pemerintahannya.
Trump menyampaikan tawaran itu saat tingkat persetujuannya rendah. Dalam pidato berdurasi sekitar 100 menit, ia membela kebijakan perangnya dengan Iran yang disebut mendorong kenaikan harga bensin, serta mempertahankan tarif proteksionis yang bersama faktor tersebut turut mengerek harga bahan makanan dan produk konsumen.
Di tengah tekanan harga yang meningkat, janji "dividen" US$ 5.000 menjadi alat kampanye untuk menjaga dukungan pemilih pada Partai Republik di November.
Konvensi di Dallas sendiri tidak lazim, karena partai politik umumnya menggelar konvensi pada tahun pemilihan presiden. Pertemuan ini menjadi konvensi pemilu paruh waktu pertama dalam beberapa dekade.
Trump juga berjanji akan melakukan perjalanan luas membantu kandidat Partai Republik, meski hingga kini ia belum banyak turun berkampanye untuk mereka.
Advertisement
Sebagian Kandidat Republik Menjauh dari Panggung Trump
Sejumlah kandidat Partai Republik memilih mengambil jarak dari konvensi Dallas. Senator Susan Collins dari Maine dan Senator Dan Sullivan dari Alaska, yang menghadapi pertarungan ketat, tidak hadir.
Absennya mereka mencerminkan tantangan yang dihadapi kandidat Republik. Ketidakpopuleran Trump membuat para kandidat yang rentan berhitung cermat dalam menunjukkan dukungan terbuka kepadanya.
Sementara itu, Partai Demokrat dinilai memiliki jalur kuat untuk merebut kendali DPR, sedangkan persaingan memperebutkan Senat masih ketat.
Dari sisi pendanaan, Partai Republik unggul. Super PAC milik Trump, MAGA Inc., memiliki cadangan dana besar dan baru mulai membelanjakannya.
Kandidat Republik yang hadir di Dallas berharap aliran dana tersebut segera menguatkan mesin kampanye mereka di daerah pemilihan.
Di tengah dinamika tersebut, pesan Trump ke pemilih dibuat sederhana: jika Partai Republik menang pada November, setiap warga negara dewasa berpeluang menerima "dividen" US$ 5.000. Namun, bagaimana janji itu direalisasikan dan sumber pembiayaannya tetap menjadi tanda tanya besar.