Jepang Puncaki OECD di PISA 2025, Posisi Global dan Skor Sains Terungkap

OECD merilis hasil PISA 2025. Jepang memimpin di antara negara OECD untuk membaca, matematika, dan sains. Bagaimana skornya dan posisi global di luar OECD?

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Jepang Puncaki OECD di PISA 2025, Posisi Global dan Skor Sains Terungkap
Anak Sekolah di Jepang.(AFP/ Odd Andersen)

OECD merilis hasil PISA 2025 pada Selasa. Untuk pertama kalinya sejak program ini dimulai pada 2000, Jepang menempati posisi teratas di antara 38 negara anggota OECD untuk kemampuan membaca, matematika, dan sains, dikutip dari The Japan Times, Jumat (11/9/2026).

PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun yang mendekati akhir pendidikan wajib dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan pada masalah dunia nyata, bukan sekadar hafalan. Siklus 2025 dikerjakan berbasis komputer pada Juni hingga Agustus, melibatkan sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi. Di Jepang, sekitar 6.500 siswa tahun pertama sekolah menengah atas dari 183 sekolah berpartisipasi dalam sampel yang mewakili kondisi nasional.

Jika seluruh peserta termasuk negara non-OECD dihitung, Jepang menempati peringkat keempat untuk membaca serta kelima dalam matematika dan sains. Secara global, Singapura berada di posisi teratas untuk membaca, sementara klaster wilayah China yang meliputi Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang memimpin matematika dan sains. Makau dan Taiwan juga termasuk di antara peserta dengan performa tertinggi.

Dalam bidang sains, Jepang meraih rata-rata 538 poin, turun sembilan poin dibanding penilaian 2022. Skor matematika tercatat 525 poin (turun 11 poin), sedangkan membaca turun 13 poin menjadi 503. OECD menilai penurunan membaca tersebut signifikan dibandingkan skor 516 poin pada 2022. PISA 2025 juga mencakup penilaian terpisah bertajuk "Learning in the Digital World" yang mengukur pemecahan masalah menggunakan teknologi digital, termasuk perangkat pemrograman. Pada komponen ini, Jepang mencatat 557 poin, peringkat pertama di antara negara OECD dan keempat secara global.

Hasil ini muncul ketika rata-rata prestasi akademik di banyak negara OECD melemah dalam jangka panjang, sehingga turut mendorong kenaikan peringkat Jepang meski skor absolut negara tersebut relatif stabil.

Performa Siswa Jepang: Laki-Laki dan Perempuan

Perbandingan berbasis gender menunjukkan proporsi siswa laki-laki lebih besar dalam kelompok berprestasi tinggi untuk sains dan matematika dibanding siswa perempuan.

Siswa laki-laki juga lebih sering memberikan jawaban positif dalam survei mengenai kesenangan dan ketertarikan terhadap pembelajaran sains.

Prestasi berkorelasi dengan latar belakang sosial ekonomi. Siswa dengan orang tua berpendidikan lebih tinggi atau berasal dari rumah tangga dengan sumber daya keuangan lebih besar cenderung meraih nilai lebih baik.

Di Jepang, faktor sosial ekonomi menjelaskan 7,6 persen variasi nilai sains siswa. Angka ini lebih rendah daripada rata-rata OECD sebesar 11,6 persen, menunjukkan pengaruh yang relatif lebih kecil di Jepang.

Walau peringkat keseluruhan tinggi, PISA juga mencatat tantangan: proporsi siswa dalam kelompok kemampuan paling rendah meningkat pada ketiga mata pelajaran dibanding penilaian sebelumnya.

Hasil kuesioner yang menyertai penilaian menyoroti kelemahan dalam pola belajar. Sekitar 62,6 persen siswa Jepang menyatakan memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai hal, lebih rendah dari rata-rata OECD 73,5 persen.

Dibanding rata-rata OECD, siswa Jepang juga lebih jarang menyatakan bahwa mereka merencanakan cara belajar atau mengubah metode ketika pendekatan yang digunakan tidak efektif.

Pemakaian Kecerdasan Buatan Generatif di Kelas

Jepang berada di posisi terakhir di antara 38 negara anggota OECD dalam hal frekuensi penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif di kelas.

Hanya 7 persen siswa Jepang yang melaporkan menggunakan AI generatif sebagai pendukung pembelajaran setiap hari atau hampir setiap hari, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 19,1 persen.

Adapun 43,8 persen siswa Jepang menyatakan tidak pernah atau hampir tidak pernah menggunakan AI generatif.

Menurut survei, penggunaan AI secara moderat untuk mengerjakan tugas sekolah berkorelasi dengan nilai sains yang lebih tinggi, baik di Jepang maupun secara keseluruhan di negara OECD.

OECD menekankan perlunya mengatasi dampak negatif teknologi sekaligus memaksimalkan manfaatnya, antara lain dengan memastikan seluruh anak memiliki literasi informasi serta mampu menggunakan informasi secara efektif, seimbang, dan andal.

Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan berbagai isu tersebut dalam pedoman kurikulum nasional berikutnya, yang diperkirakan mulai berlaku di sekolah dasar pada tahun fiskal 2030.

Rencana itu mencakup pembelajaran lintas bidang, pengajaran strategi belajar yang lebih terstruktur, dan dorongan agar siswa merefleksikan materi yang telah dipelajari.

Jepang juga berencana memperluas pendidikan digital dan informasi secara signifikan, termasuk pembelajaran mengenai AI generatif secara lebih sistematis.

Rekomendasi