Seorang biksu berusia 66 tahun yang menjabat kepala wihara di Ayutthaya, Thailand, ditangkap pada Kamis atas dugaan menggelapkan dana sekitar 100 juta baht atau setara Rp53,3 miliar. Penangkapan dilakukan oleh Biro Investigasi Pusat (CIB) menyusul penyelidikan terkait penyalahgunaan dana wihara, seperti dilaporkan Bangkok Post.
Penggerebekan berlangsung sekitar pukul 06.00 waktu setempat di kediaman Phra Vajirayan, yang juga dikenal sebagai Luang Por Chot, di kompleks Wat Phutthaisawan. Kepala CIB Letjen Polisi Natthasak Chaowanasai menyebut perkara bermula dari laporan yang menuding adanya praktik penyamaran dana melalui pihak ketiga.
Menurut Natthasak, penyelidikan dilakukan secara diam-diam dan menemukan bukti yang menguatkan dugaan tersebut. Selama lebih dari dua tahun, biksu itu diduga menerbitkan lebih dari 20 kuitansi donasi atas nama wihara tanpa izin dari pengurus.
Advertisement
Rekaman Intim di Kediaman Biksu
Saat menangkap tersangka, polisi memeriksa rekaman kamera pengawas yang terpasang di dalam kediaman kepala wihara. Dari rekaman itu, petugas menemukan video yang menunjukkan sang biksu berhubungan seksual dengan seorang perempuan di atas meja, yang menurut polisi juga digunakan untuk makan.
Perempuan dalam rekaman tersebut adalah asisten yang diduga ikut mengelola uang hasil penggelapan. Polisi menelusuri aliran dana melalui rekening bank perempuan itu dan menemukan pemasukan bernilai puluhan juta baht setiap tahun. "Punyavee Rungrueang (47) kemudian ditangkap dengan tuduhan membantu seorang pejabat negara melakukan tindakan melanggar hukum," kata Natthasak.
Dalam hukum Thailand, banyak biksu dikategorikan sebagai pejabat negara karena menerima tunjangan bulanan dari pemerintah. Phra Vajirayan sendiri diangkat sebagai kepala Wat Phutthaisawan pada 2022 dan dikenal di pasar amulet Buddha karena memproduksi sejumlah amulet populer, termasuk koin "Nuea Duang" atau "Elevating Status".
Setelah ditangkap, Phra Vajirayan dibawa ke aula penahbisan wihara untuk menjalani upacara pelepasan status kebiksuan. Jubah putih telah disiapkan untuk prosesi tersebut. Usai dicabut statusnya sebagai biksu, ia kembali menggunakan nama Atichote Thammavaro, kemudian ditahan polisi sebelum dibawa ke kantor CIB guna pemeriksaan lebih lanjut.
Advertisement
Modus Mirip Skandal Wat Phrabat Namphu
Penyidik menduga dana yang diselewengkan berasal antara lain dari penjualan amulet dan benda-benda keagamaan. Alih-alih disetorkan ke rekening wihara, uang itu disebut dialihkan ke rekening pribadi melalui sebuah yayasan, sementara kuitansi donasi tetap diterbitkan atas nama wihara.
Menurut Natthasak, pola tersebut mirip dengan skandal besar di Wat Phrabat Namphu, Lop Buri, yang mengelola rumah perawatan bagi penderita AIDS. Dalam kasus itu, kerugian diperkirakan mencapai 10 miliar baht atau sekitar Rp 5,3 triliun.
Adapun rekaman hubungan seksual mantan kepala wihara diserahkan kepada polisi oleh sekelompok pengikutnya. Mereka menyampaikan sudah tidak sanggup menoleransi perilaku yang terekam tersebut.
Polisi juga menggeledah rumah Punyavee di Distrik Khlong Luang, Provinsi Pathum Thani. Dari lokasi itu, disita 35 amulet emas, serta emas batangan dan perhiasan dengan total berat 90 baht (sekitar 1,36 kilogram) senilai sekitar 6,04 juta baht atau Rp 3,2 miliar.
Selain itu, petugas menyita uang tunai 3,6 juta baht (sekitar Rp 1,9 miliar), tiga telepon seluler, satu iPad, 10 set dokumen pertanahan dan perbankan, dua sertifikat tanah, tujuh buku tabungan, satu kontrak jual beli tanah, 18 dokumen investasi, satu polis asuransi kesehatan, enam sertifikat asuransi emas, tujuh bukti transaksi jual beli emas, serta empat sertifikat lotre Government Savings Bank.
Penyidik menyebut perkara ini kemungkinan melibatkan dua hingga tiga orang lain dan menduga lebih dari satu perempuan turut terlibat. Seorang pengelola non-biksu Wat Phutthaisawan, Chettha Ninsukhum, juga dibawa ke kantor CIB untuk dimintai keterangan. Ia menolak menjawab pertanyaan wartawan sebelum dibawa masuk ke dalam gedung.